
Setelah pembicaraanku dan Dhito kemarin di chat BBM, aku dan Dhito jadi sering berkomunikasi lagi. Bahkan aku sudah memulai mengganti kata gue menjadi aku dan lo menjadi kamu lagi. Aku mulai memberikan kesempatan untuk Dhito, yaa aku luluh. Jelas sekali aku luluh karena cerita Dhito. Aku hanya wanita biasa yang punya hati untuk memaafkan dan memberikan kesempatan (lagi).
"Ini udah bulan september ya?" Tanyaku di chat BBM.
"Iyaa Ri, kenapa?"
"Cepet banget tahun ini yaa udah September aja."
"Hm udah mau sebulan yaa.."
"Apanya?"
"Kita break.."
"Hahaha inget aja kamu Dhit."
"Inget lah. Aku gak mungkin lupa Ri."
"Hmmm iya iyaaa..."
"Bantu aku yaa Ri.."
"Bantu apa Dhit?"
"Bantu aku berubah menjadi lebih baik."
"Iyaa InsyaAllah aku bantu kok Dhit. Yang penting kamu ada kemauan aja."
"Iyaa aku mau kok Ri.. Berubah jadi lebih baik. Rokok juga udah aku kurangin kan."
"Iyaa.. Dosa kamu yang nanggung kok kalo kamu bohongin aku Dhit."
"Iyaa Riiii... Kamu lagi ngapain ini?"
"Lagi ngobrol sama temen - temen aku nih Dhit. Kamu?"
"Masih ada kuliah habis ini? Ini lagi bales chat kamu. Lagi istirahat sebentar, kerjaa lagi banyak banget."
"Hahaha iyaaa paham itu mah kalo lagi bales chat aku Dhit. Udah makan?"
"Udah kok tadi aku makan soto ayam. Kamu udah makan?"
"Udah juga kok tadi. Ini mau ada kuliah lagi sih kayaknya.."
"Kok kayaknya? Emang belum jelas jadwalnya?"
"Iyaaa harusnya tuh tadi jam 10 kuliahnya, tapi di undur jamnya. Jadi jam 3 sore karena dokternya gak bisa.. Lama banget yaa nunggunya sampe sore.. sebel."
"Yaampun, terus kamu dari tadi ngobrol aja gitu sama temen - temen kamu?"
"Yaa iyaa.. Tadinya sih mau jalan - jalan dulu sambil nunggu. Tapi kata ketua kelas jangan kemana - mana dulu takut tiba - tiba kuliah di majuin gitu. Eh ini sampe sekarang belum ada info. Katanya sih jam 3, tapi yaah gak tau deh jadi atau gak. Ini udah jam setengah 2. Paling sebentar lagi ada kabar sih.."
"Sabar yaa Ri... Tetep semangat pokoknyaa."
"Iyaa terima kasih yaa Dhit.."
"Ri, aku kerja dulu lagi yaa.. Nanti aku kabarin kalo udah selesai. Kamu kabar - kabarin nanti kalo mau pulang yaa Ri atau udah di rumah."
"Iyaa Dhit... Semangat yaa kerjanya."
"Terima kasih yaa Ri.."
***
Sepulang dari kampus, aku merebahkan sebentar tubuhku di kasur. Aku menatap langit - langit di kamar dan membayangkan jika aku sudah menjadi dokter sesungguhnya pasti akan lebih melelahkan lagi.
"Ri... Kamu udah makan?" Tanya Mama tiba - tiba masuk ke kamar.
"Belum Ma... " Jawabku langsung merubah posisi dari yang tiduran menjadi duduk.
"Mau makan apa nih? Bapak besok pulangnya. Mama males masak Nak... Mau ke pasar beli bakso atau soto mie?"
"Soto mie enak kali yaa..." Jawabku tersenyum.
"Yaudah yuk, mumpung kamu belum mandi kan."
"Okeee... Siap."
Aku langsung bergegas keluar dari kamar lalu keluar rumah dan mengeluarkan motor. Setelah motor menyala, aku menunggu mama yang masih mengganti baju di dalam rumah.
"Maaa... udah belum???" Teriakku dari luar.
"Iyaaa udahhh..." Sahut Mama dari dalam rumah.
Mama pun keluar rumah dan mengunci pintu rumah.
__ADS_1
Setelah itu kami pun jalan dengan mengendarai motor menuju pasar dekat rumah, di pasar itu memang banyak sekali jajanan seperti bakso, ayam bakar, ayam goreng, soto, soto mie dan masih banyak lagi ajanan lainnya. Jika mama malas memasak, kita pasti jajan kesana jika kita berdua saja di rumah.
"Ri, Kamu mau ayam bakar atau Soto Mie?" Tanya Mama.
"Soto Mie aja deh Ma, kenyang sampai malem pasti." Jawabku.
"Yaudah sana pesen. Mama mau bakso aja.. Mau minum gak?"
"Air putih aja deh Ma..."
"Gak mau susu Milo? Susu aja yaa kamu. Seharian kamu kan habis aktifitas.."
"Yaudah yaudah terserah Mama.."
Mama tidak mau jika aku sampai kurang makan. Jadi aku harus makan yang banyak.
Saat aku sedang menunggu makanan datang, aku sibuk memainkan ponsel dan menghubungi Dhito bahwa aku sudah pulang.
"Dhit, aku udah balik yaa.. Ini lagi makan sama Mama di deket rumah. Mama gak masak soalnya, jadi kita jajan."
Dhito pun dengan cepat membalas chatku, "Alhamdulillah.. Makan apa kamu Ri?"
"Makan soto mie nih. Masih di kantor Dhit?"
"Enak yaa makan soto mie. Aku jadi pengen... Masih nih, tapi sebentar lagi aku pulang kok."
"Iyaa enak dong.. Hahaha yaa makan lah nanti pas pulang. Yaudah nanti pulangnya hati - hati yaa Dhit."
"Iyaa.. Yaudah kamu makan dulu. Nanti kalo udah selesai kabarin yaa.."
"Okee. Aku makan dulu yaa.."
Setelah selesai makan aku dan mama langsung pulang, sesampai di rumah aku bersih - bersih diri lalu istirahat. Saat aku merebahkan badan ke kasur, aku melihat ponsel dan ternyata ada pesan dari Dhito.
"Ri... Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, aku tau aku banyak kurangnya dan aku susah di kasih tau apalagi soal rokok. Sampai saat ini aku belum jua stop ngerokok. Aku tau maksud kamu baik minta aku gak ngerokok lagi, dan aku tau kamu sedang berusaha sayang sama aku dengan tulus. Dan aku sangat bersyukur, kamu selalu kasih aku kesempatan berkali - kali untuk tetap memaafkan aku dan memperbaiki hubungan. Kali ini aku mau minta sekali lagi kesempatan untuk kita memperbaiki lagi hubungan kita, kamu mau gak nerima aku lagi?"
Aku pun langsung membalas pesan Dhito yang sangat panjang itu.
"Dhit... Namanya manusia ada kekurangan dan pastinya ada kelebihan juga. Aku mau kok kasih kamu kesempatan lagi. Ini kesempatan terakhir kita, aku mau lihat beberapa hari ke depan. Gimana hubungan kita, membaik atau memburuk. Kalo membaik semoga kita bisa langgeng yaa Dhit. Tapi kalau memburuk, kita berteman aja yaa Dhit..."
"Alhamdulillah.. Terimakasih yaa Ri. Aku lega banget kamu mau menerima aku lagi. Semoga hubungan kita membaik yaaa..."
Tepat tanggal 4 September 2013, kami memulai hubungan dengan status berpacaran lagi. Yaa lagii... Ini benar - benar kesempatan terahkir untuk Dhito.
***
"Kangen banget ih sama kamuu Mythhhh.." Aku datang ke rumah Mytha langsung memeluk Mytha.
"Astaghfirullah ih kok gak ngasih tau sih mau kesini." Jawab Mytha terkejut.
"Hahahaha biarin. Sekali kali surprise dong..."
"Yaudah ayo masuk Ri." Ajak Mytha.
"Hmm okee... Assalamualaikum..."Aku pun melangkah masuk ke dalam rumah Mytha dengan mengucapkan salam.
"Walaikumsalam.. Duduk Ri... Nyokap gue lagi pergi sama Bokap. Adek gue lagi latihan taekwondo. Eh si Dhito tau lo kesini?"
"Ini lo berarti sendirian dong? Udah gue kabarin sih tadi Myth."
"Gak kok, ada tante gue di kamar sama anak - anaknya. Lagi pada tidur.. Nanti paling Dhito nyamperin kamu."
"Oalaah, yaudah kita jangan berisik yaa.. Gak enak aku. Hahaha kayaknya sih, tadi dia bilangnya mau mampir sebentar."
"Udah santai aja, kamu mau minum apa Ri? Yaelah Dhito mah bucin."
"Apa ajaa Myth. Hahaha temen lo tuh..."
"Yaudah tunggu sebentar yaa..."
Sembari Mytha membuatkan minum untukku, aku membuka ponsel dan ternyata Dhito mengirimkanku chat.
"Sayang.. Kamu sampai jam berapa di rumah Mytha?"
"Sampai sore sih kayaknya.. Kenapa Dhit?"
"Aku samperin kamu nanti yaa sekalian anterin kamu pulang, soalnya ini aku lagi banyak banget kerjaan. Ini aku habis Sholat Jum'at lanjut kerja lagi, belum sempet istirahat sama makan."
"Iyaa gapapa kok Dhit. Semangat yaa kerjanya.."
"Iyaa makasih yaa sayang. Have fun yaa sama Mytha.. Jangan gosipin aku hahaha.."
"Iyaaa sayang.. Dihhh geer amat lu yaaa Dhit hahaha.."
"Hahahaha biarin aja."
__ADS_1
"Ri.. Ini minum sama cemilannya yaa.." Tiba - tiba Mytha datang dari dapur.
"Makasih yaaa Myth." Jawabku sambil tersenyum.
"Si Dhito balik jam berapa nanti Ri?"
"Gak tau tuh, katanya sih masih banyak kerjaan. Ini dia lagi kejar ngerjain sebelum jam 5. Supaya baliknya jam 5.."
"Oh gitu, lagi sibuk banget dia sih yaa.. Terus terus gimana ceritanya kalian bisa balikan lagi nih? Hmm yaa aku berharap udah yaa jangan putus nyambung lagi kalian."
"Hmmm... Amiin yaa... panjang sih ceritanya."
Akhirnya aku menceritakan semua dari awal Dhito dan aku berkomunikasi lagi sampai akhirnya aku kembali lagi bersama. Dan tak terasa aku dan Mytha mengobrol sampai sore. Bahkan sudah hampir jam setengah 5.
"Aku Ashar dulu yaa Ri. Kamu lagi gak sholat ya?"
"Iyaa aku lagi haid Myth. Okeee..."
Setelah Mytha selesai sholat, tiba - tiba Dhito menghubungiku dan mengabari bahwa dia sudah mau jalan pulang dan segera menghampiriku.
"Aku kayaknya pas Dhito sampe mau langsung pulang deh Myth."
"Iyaa.. Udah sore juga. Tapi besok kamu libur kan?"
"Iya sih libur. Ini Dhito baru balik dari tempat kerja, kira - kira sampe rumah jam berapa coba dia? Belum macetnya. Hari Jum'at kan biasanya macet banget Myth."
"Yaudah terus kamu mau balik?"
"Ini dia suruh gue nunggu. Sebel deh."
"Yaudah tungguin ajaa Ri, siapa tau cepet sampai sini. Kan Dhito juga naik motor dia."
Aku pun terdiam dan agak kesal karena harus menunggu Dhito yang belum jelas sampai sini jam berapa. Sampai akhirnya aku meminta Mytha untuk menemaniku ke lapangan depan karena Dhito menungguku disana.
"Udah jam berapa ini?" Aku datang menghampiri Dhito.
"Maaf ya Ri.. Aku gak tau kalo bakalan semacet itu tadi."
"Myth, aku pulang yaa.. Makasih udah mau di repotin bertamu selama tadi." Aku langsung mengajak bicara Mytha tanpa menghiraukan Dhito.
"Iyaa sama - sama. Hati - hati yaa.." Jawab Mytha tersenyum.
"Aku jalan aja ke depan nyari ojek. Gak usah nganterin aku.." Jawabku kesal ke Dhito, lalu aku berjalan terus meninggalkan Dhito dan Mytha.
Dhito hanya terdiam saat melihat sikapku yang tiba - tiba bad mood.
"Kejar lah Dhit.. Lo mau biarin Riri balik sendirian udah malem gini?" Bisik Mytha terdengar.
Dhito pun mengejarku dan menarik tanganku.
"Ri... Aku anterin."
"Gak usah."
"Ri... Ini udah malem."
"Emang. Lama sih." Aku masih terus berjalan tanpa menoleh ke arah Dhito.
"Ri... Maaf. Ayo aku anterin."
"Mama udah jalan mau jemput aku di depan jalan raya kalimalang. Aku naik ojek aja.."
"Ri, aku aja yang anterin sampai depan. Udah malem. Udah yaa maafin aku.."
"Ck ah.. Kamu tuh ya. Kita baru satu hari loh balikan. Udah bikin kesel aja, coba aja tadi aku gak nungguin kamu. Gak bakal gini ceritanya Dhit."
"Iyaa iyaa maafin aku yaa Ri, aku yang salah karena nyuruh kamu nungguin aku. Aku pengen banget ketemu sama kamu Ri...."
Aku berhenti dan menoleh ke arahnya, "Capek banget rasanya ribut terus."
"Please Ri, please." Dhito terus memohon dengan wajah memelas.
"Yaudah."
"Yaudah.." Dhito berlari menyalakan motor maticnya dan datang menghampiriku.
Aku pun naik ke motornya dan di sepanjang perjalanan menuju depan jalan raya, aku tidak sama sekali mau mengajak Dhito berbicara. Dhito pun juga hanya diam.
"Makasih." Jawabku singkat.
"Iyaa sama - sama. Kalau udah sampe rumah kabarin aku yaa.. Sekali lagi aku minta maaf sama kamu yaa Ri..."
"Hmm.. Yaudah. Aku mau nyebrang. Dahh.. Hati - hati..."
Aku pergi meninggalkan Dhito dan berlari mencari Mama apakah sudah datang atau belum.
__ADS_1
Sejak itu, hubunganku dan Dhito mulai lagi ribut. Padahal kami baru saja kembali bersama, tapi selalu saja ada masalah yang membuat aku jadi kesal.