
Setiap hari Dhito selalu menghubungiku tanpa putus. Dia terus menanyakan kabarku setiap hari, kegiatanku dan bertanya apa yang sedang aku lakukan. Walaupun aku risih tapi aku tetap menghargai usaha dia.
"Ri.. lo lagi dimana?" Tanya Dhito lewat chat BBM.
"Lagi di rumah kok, kan ini hari minggu Dhit. Kenapa?" Balasku dengan cepat.
"Oh iyaa yah ini hari Minggu, gue sampe lupa hari nih hehehehe... Gak jalan - jalan Ri?"
"Lagi gak kemana - mana sih, mau istirahat aja...Kenapa Dhit?"
"Ohh gitu....Gue mau ngomong sesuatu sama lo Ri.. Boleh gak?"
"Mau ngomong apa Dhit? Dari kemarin kayaknya kita kan chat terus."
"Hahaha iya yahh.. Gue mau jujur sama lo Ri..."
"Apa? Jangan bikin gue deg - deggan deh.."
"Hmmm... Kok lo jadi deg - deggan Ri?"
"Yaa lo ngomong setengah - setengah, kan penasaran coy."
"Hahaha...Iya yaa.. Gue ngumpulin keberanian dulu nihhh... Bentar dehhh.."
"Duh apasih. Yaudah nanti kalo udah kabarin gue.."
"Iyaa Ri.."
__ADS_1
Untuk beberapa jam Dhito menghilang tanpa mengabariku, Aku begitu penasaran menunggu chat dari dia. Apa yang mau dia bicarakan sebenarnya. Bahkan aku sempat melakukan aktifitas dan sampai ketiduran untuk menunggu chat dari dia.
"Ri..." Mama memanggilku saat aku sedang duduk menunggu chat dari Dhito.
"Yaa Ma?" Tanyaku yang langsung menoleh kearah Mama.
"Bantuin Mama dong ini pindahin tanaman ke depan pagar." Kata Mama sambil menunjuk ke arah pagar rumah.
"Iyaa Ma..." Aku segera bangun dari tempat duduk dan membantu Mama mengangkat tannaman.
Setelah Aku selesai membantu Mama, aku segera masuk ke dalam lagi untuk cek HP apakah ada pesan dari Dhito atau tidak. Ternyata Dhito sempat menelponku tapi aku tidak tau. Dan aku segera mengirimkan pesan untuknya.
"Kenapa ya Dhit? Tadi gue lagi bantuin nyokap di depan."
"Iyaaa gapapa Ri, gue juga kayaknya gak bisa kalo di telpon. Di chat aja deh." Dhito dengan cepat membalas pesanku.
"Oh udah siap ngomong sesuatunya?"
"Oke.. Apa tuh?"
"Gue udah pikirin ini matang - matang sejak pertama kali buka komunikasi sama lo, gue ngerasa kita ada kecocokan selama ngobrol via chat dan banyak kesamaan dari mulai tanggal lahir yang beda sehari, satu zodiak dan banyak lagi. Gue mulai nyaman ngobrol sama lo dan gue ada rasa sama lo... Lo mau gak jadi cewek gue?"
Aku tidak terlalu kaget membaca pesan dari Dhito, karna aku sudah merasa sejak awal dia minta nomer HP dan pin BBMku dia sudah mulai mendekatiku. Dan aku bingung harus menjawab apa, karna ternyata Dhito secepat ini menyatakan perasaannya. Aku baru putus seminggu yang lalu dengan Fandi, apa aku harus menerima lagi orang baru?
"Lo serius Dhit?" Tanyaku dengan singkat.
"Serius Ri... Kenapa?"
__ADS_1
"Yaa lo kan tau yaa gue baru aja putus seminggu yang lalu sama mantan gue. Terus kita baru banget komunikasi nih, masa iya sih lo langsung nembak gue gini... Emang lo udah yakin?"
"Ya gue udah bisa menyatakan perasaan ini sama lo kan berarti gue udah yakin ya.. Tinggal lonya aja Ri, lo mau gak?"
"Hmmm jujur gue nih masih belum bisa yaa terima pernyataan lo, tapi gue tau lo baik yaa Dhit makanya selama ini gue menghargai lo buat komunikasi sama gue. Jujur untuk ada rasa sama lo saat ini belum ada Dhit, tapi gue nyaman komunikasi sama lo sebagai teman. Jadi sekarang gue bingung harus mengiyakan atau menolak..."
"Ri.... jadi selama ini lo chat sama gue, care sama gue tuh sebagai teman gak lebih? Berarti guenya aja yang ngarep yaah hehehehe..."
"Dhit, wajar gak sih? Lo kan tau gue baru putus. Seminggu loh, kalo sebulan masih okelah. Ini seminggu loh... Menurut gue ini terlalu cepat Dhit."
"Maaf yaa Ri.. Guenya aja kali ya yang gak sabaran... Kayaknya gue udah mulai sayang deh sama lo Ri."
"Apa sih yang lo liat dari gue Dhit?" Tanyaku heran.
"Gue sebenarnya udah kagum sama lo dari awal kita dulu komunikasi lewat twitter. Tapi gue belum meyakinkan diri aja buat berani deketin lo Ri. Gue gak tau yaa kenapa bisa kagum sama lo, yang pasti lo tuh orangnya asik aja kalo ngobrol dan gue ngerasa nyambung aja gitu kalo ngobrol sama lo." Balas Dhito dengan jelas.
"Okee sekarang gini deh, kasih gue waktu mau? Atau kita lebih kenal lagi satu sama lain lagi supaya gue bisa ada rasa sama lo juga. Gue gak mau nanti gak seimbang kalo gue akhirnya bisa nerima cinta lo."
"Jadi ini lo menolak gue atau gimana Ri?"
"Ihhh lo ngerti gak sih sama pernyataan gue? Ya gue gak bisa kalo terima lo sekarang, gue gak ada rasa sama lo. Tapi gue memberikan kesempatan untuk kita kenal lebih jauh lagi, gue masih mau menghargai perasaan lo. Gimana?"
"Oh maksudnya pendekatan kita masih kurang ya?"
"Hmmmmm iyalah satu minggu doang. Gak lah gue mah, yang kemarin gue juga gitu yaaa makanya cuma sebentar."
"Okee okee.. Makasi yaa Ri, lo udah kasih gue kesempatan."
__ADS_1
"Iyaa sama - sama Dhit."
Mungkin setelah kejadian hubunganku dengan masa lalu membuat aku belajar menghargai perasaan seseorang, walaupun aku harus memaksa diriku untuk akan menyukainya. Aku mungkin harus berfikir logis kali ini bukan dengan perasaan saja.