Terpaksa Cinta

Terpaksa Cinta
Bab 51. Dingin


__ADS_3

Sudah seminggu Gaga tidak menyapaku lewat pesan singkat dan rasanya aku sudah mulai lega. Tapi, Dhito mulai menghubungiku lagi. Tapi sikapku kali ini berbeda. 


"Terakhir yang kita ribut, kamu udah gak ada kabar lagi Ri." 


"Hmm.. Kenapa?" Balasku singkat.


"Masih marah ya sama Aku?" 


"Ada apa Dhit?" 


"Yaudah kalo kamu gak mau di hubungi Ri. Maaf." 


"Gak jelas."


":)"


Aku sepertinya semakin kesal dengan Dhito, padahal kita sudah lama tidak komunikasi. Bukannya semakin rindu tapi semakin kesal.


"Kamu kayaknya semakin dingin ya sama aku Ri..." Dhito menghubungiku lagi.


"Ada masalah?" Balasku singkat.


"Yaa gak ada masalah sih. Tapi kan kamu kasih kesempatan aku dalam sebulan ini. Tapi kamu terkesannya kayak menjatuhkan kesempatan aku..." 


"Udah protesnya?"


"Yaudah lah Ri, emang kamu kayaknya udah gak mau ya kasih aku kesempatan. Kamu selalu dingin, selalu ketus jawab chat dari aku. Padahal sekarang aku lagi berusaha."


"Usaha apa? Udah nunjukkin apa sama gue?"


"Aku udah usaha dengan permintaan kamu Ri." 


"Ya apa?"


"Aku udah ngurangin rokok."

__ADS_1


"Terus?"


"Yaa aku udah berusaha mengurangi satu batang rokok setiap minggu."


"Oh berarti udah mau sebulan ini cuma ngurangi 4 batang rokok yaa?"


"Minimal aku mengurangi kan Ri?"


"Kira - kira kalo kayak gitu bakal bertahan berapa lama ya Dhit?"


"Maksudnya?"


"Yaa kira - kira kalo mengurangi rokok karena orang lain bakal bertahan berapa lama ya?"


"Aku lagi usaha loh Ri, kamu kayak meremehkan gitu sih?"


"Siapa yah yang ngeremehin? Lo mau berubah karena gue? Buat apa?"


"Yaa karena aku mau serius sama kamu Ri." 


"Ri, kamu tuh kenapa yaa sensitif banget sama aku?" 


"Iyaa gue emang sensitif sama lo karena lo perokok, iya gue salah. Tapi gue kayak gini juga demi kebaikan lo kok. Kalo lo gak mau yaudah, urusin aja hidup lo sendiri." 


"Tuhkan aku salah lagi di mata kamu Ri.." 


"Apa lagi sih Dhit. Lo selalu aja kesannya gue yang jahat sama lo..... Gue jahat banget sama lo ya?"


"Aku bingung Ri.. Yaudah terserah kamu deh kalo kamu emang gak mau kasih aku kesempatan. Tapi aku masih usaha buat perbaiki hubungan kita.."


"Yaudah, kita lihat aja nanti Dhit. Beberapa hari lagi sebulan kan? Kalo masih mau coba ya silahkan."


"Yaudah kalo gitu. Semoga setelah ini kita baik - baik aja yaa Ri.."


"Hmmm.. Mudah - mudahan dan semoga." 

__ADS_1


Sikapku kepada Dhito sepertinya semakin dingin dan rasanya aku tidak mau menghubunginya lagi. 


"Eh Ri... Lo kenapa? Bengong aja dari tadi.." Sahut Yanti memanggilku saat aku sedang memandangi ponsel.


"Ah? Yaa kenapa Yan?" JawabKu sembari menoleh ke arah Yanti.


"Lo kenapa Ri?" Tanya Yanti. 


"Gapapa..." JawabKu singkat.


"Paling lagi mikirin Dhito dia.." Ledek Mily.


"Hahahaha kok tau?" Jawabku sembari tertawa lepas.


"Tuhkannn.... Lo mau balikan ya sama Dhito?" Tanya Mily dengan nada tinggi.


"Gak tau deh." Jawabku singkat.


"Serius gue.." Mily langsung menarik tanganku.


"Hahaha serius banget sih ah.." Jawabku meledek.


"Gue tanya serius nih Ri...Lo mau balikan sama Dhito apa gak?"


"Liat nanti.. Kalo dia berubah ya gue bakal kasih dia kesempatan. Kalo gak yaaa bye.."


"Beneran tuh? Nanti di kasih kesempatan terus lagi." Sahut Fily.


"Ledek gue aja terus yaaa... Hmmm.." Jawabku sambil tersenyum.


"Yaudah, ikutin aja kata hati lo Ri." Sahut Tami.


"Iyaa kok, gue udah ikutin kata hati sekarang." Jawabku yakin.


"Iyalaah, kalo lo ikutin kata kita belum tentu bener." Kata Aira.

__ADS_1


"Hmm Siap guys. Terimakasih sudah mendukungKu.." Jawabku.


__ADS_2