
Aku mulai membiasakan diri tanpa berkomunikasi dengan Dhito, bahkan pesan dia yang saat itu aku sedang Me Time saja belum aku balas sampai sekarang. Bahkan hari ini aku benar - benar mau fokus untuk belajar dan mengerjakan tugas presentasi yang banyak.
"Aduh presentasi tutor gue patofisiologi lagi..." Sahut Mily saat kami sedang mencari - cari materi di lab komputer.
"Kok lo bisa dapet patofisiologi Mil? Emang gak bisa request minta yang mudah? Patof mah yang jenius aja gak sih?" Ledekku ke Mily.
"Nah itu dia, otak gue kan pas passan yaakk.. Duh ilaah ribet banget ih. Lo dapet presentasi apaan Ri?"
"Gue diagnosis nih, lumayan banyak juga sih." Jawabku sambil mencari - cari di materi kuliah.
"Ih diagnosis masih lumayan, kalo patofisiologi duh mau pingsn gue Ri. YaAllah ampun.." Mily sambil mengacak - acak rambutnya sendiri.
"Dih... Udah gila lo ya? Hahahahaha udah kerjain aja dulu, search aja dulu di google tuh buat mapsnya. Biar lo ada gambaran, terus cari di buku. Ke perpustakaan gih."
"Ahelahhh, kalo ngerjain gue bisa. Tapi nanti presentasinya gue gagap. Mau ngomong apaan ini patofisiologi diabetes. Bisa di babat gue sama dokternyaaa huaaa.."
"Udah lo jangan panik dulu kenapa sih Mil.. Sekarang kerjain dulu, terus nanti lo pelajarin. Biar nanti pas presentasi lo lancar. Gih.. Gue bantuin nanti, tapi gue ngerjain tugas gue dulu yaak.."
"Ck... Iya iyaa.. Ini yang lain belum pada kelar tutornya ya?"
"Belum, tutornya pada rajin. Lama - lama banget hahaha.."
Tutorial di fakultasku itu adalah diskusi dengan kelompok untuk membahas satu skenario di hari pertama, apa saja yang harus di diskusikan di presentasikan nanti 3 hari lagi. Seperti kasus yang kami bahas adalah penyakit diabetes melitus, kami para mahasiswa/i kedokteran akan membahas dari definisi sampai penyebuhannya. Jadi kita akan tau bagaimana Diabetes itu menyerang tubuh kita, dan apa saja obat, edukasi serta apa yang harus dilakukan para dokter untuk pasiennya.
"Guys..." Tiba - tiba Sera datang mengejutkan kami dan di susul dengan Tami, Resty dan Yanti.
"Udah pada kelar lo? Si Fily, Viana, Aira sama Sissy mana?" Tanyaku saat melihat mereka.
"Mereka lagi siap - siap mau tutor kan." Jawab Resty.
"Oh iya hahah lupa kalo kita beda kelas. Ini kalian baru pada selesai tutor?" Tanyaku lagi.
__ADS_1
"Iyaaa.. Dokternya kebanyakan ngajak ngobrol kalo gue." Kata Tami.
"Gue kelamaan temen kelompok gue bagiin presentasinya." Sahut Sera.
"Kalo gue tadi dokternya emang lama, nih si Resty juga." Kata Yanti.
"Iyaa, diskusinya bertele - tele." Jawab Resty.
Diantara kami, yang paling rajin belajar dan pintar adalah Resty. Untuk yang lainnya kami semua ada porsi santainya masing - masing dan moody untuk belajar. Lebih sering belajar H-1 sebelum ujian hahaha. Sistem Kebut Semalam, alias SKS.
"Eh pada dapet apa kalian?" Tanya Mily penasaran.
"Aku dapet definisi dan klasifikasi diabetes dong.." Jawab Sera.
"Ih enak banget lo!" Sahut Mily kesal.
"Gue dapet Etiologi sih. Aman." Jawab Yanti.
"Aku patofisiologi.." Jawab Resty singkat.
"Ihhhh Mauuu dong kalo udah bikin presentasinya pleaseeee... Ya Tuhan tolong Hambaa.." Sahut Mily sambil berteriak.
"Ohh Mily juga patofisilogi Diabetes Melitus?" Tanya Resty.
"Iyaaa.. Ih Alhamdulillah yahhh... untung Resty yang dapet.. Jadi bisa di ajarin deh hahahaah... Makasi sayang.." Jawab Mily dengan kegirangan dan memeluk Resty erat.
"Yeee emang yaa si Mily ini heboh." Sahut Yanti sambil menggeleng - gelengkan kepala.
"Yaudah sekarang kita makan dulu yukkk... Laper nihhhh..." Sahut Sera sambil menepuk - nepuk perutnya.
"Yeee.. Gak bisa.. Kerjain dulu ini guee. Baru makan." Jawab Mily.
__ADS_1
"Ih Mami Milyyy. Kalo laper gak bisa mikir nantiii." Jawab Sera.
"Emang pikiran lo makan mulu yaa Ser." Jawab Mily.
"Hahahahaha yaudah mending makan dulu sih enaknya, biar ada nutrisi ke otak. Kalo laper kan pusing jadi gak bisa belajar guys. Yuk.." Sahutku sambil mematikan komputer.
"Yeayyy! Ayoooo... Let's Gooooooo!!" Teriak Yanti dan Sera.
***
Setelah lebih dari sebulan hariku tanpa Dhito aku semakin baik - baik saja karna sudah mulai terlalu fokus dengan kuliah. Dan aku rasa ini waktunya aku membalas pesannya yang waktu itu, karna perasaanku sudah mulai tenang saat ini. Mungkin di saat hati dan kepala ini sudah adem baru bisa mengobrol dengan Dhito lagi.
"Hai Dhito. Alhamdulillah aku baik - baik saja. Maaf baru membalas pesanmu lagi. Bagaimana kabarmu sekarang?" Tanyaku lewat chat BBM.
"Alhamdulillah setelah sekian lama kamu bales juga BBM aku. Alhamdulillah aku sehat, aku seneng banget yaAllah... Kamu udah lebih better sekarang Ri?" Balas Dhito dengan cepat.
"Udah kok Dhit, sudah lebih baik dan lebih tenang. Dan maaf yaa gara - gara aku hubungan kita jadi gak jelas, aku gak ada maksud kok Dhit."
"Gak kok, kamu gak perlu minta maaf lagi Ri. Mungkin aku yang terlalu egois karna terlalu memaksakan kamu untuk terus bersama aku padahal jelas kamu gak nyaman kalo terus - terussan sama aku. Maaf yaa Ri."
"Nope. Bukan itu kok, aku jug egois Dhit. Maunya selalu dimengerti kamu sedangkan harusnya aku bisa mengerti kamu juga. Semoga kita bisa saling introspeksi diri lagi yaa.."
"Iyaa Ri.. Aku mau seperti air mengalir aja deh, gak mau lagi memaksa apapun itu."
"Gak seperti air mengalir juga Dhit, air mengalir aja bisa kemana - mana ujungnya. Bahkan belum jelas ujungnya kemana. Baiknya kita harus baik komunikasinya Dhit, obrolin apapun itu yang mengganjal. Daripada di simpen."
"Ini nih yang buat aku semakin sayang sama kamu Ri. Aku bersyukur bisa kenal sama kamu Ri."
"Kamu yang selalu mengajarkan aku sabar kok Dhit, aku juga bersyukur bisa kenal sama kamu. Terimakasih yaa Dhit."
Pembelajaran hidupku saat aku harus beradu dengan diri sendiri tentang perasaan. Aku jadi lebih menghargai perasaan orang lain dan lebih mengerti bahwa pasangan itu bukan hanya tentang siapa dulu yang suka, siapa dulu yang sayang dan siapa dulu yang cinta. Tapi bagaimana orang itu mau berusaha dan bersabar karna ketulusan hatinya, pengorbanan yang tidak mudah untuk terus - terussan beradu dengan perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain yang benar - benar mau menerimaku tanpa tapi.
__ADS_1