Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam

Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam
TMKKM 10


__ADS_3

Seorang lelaki tampan dengan kulit putih bersih dan rahang tegas, terlihat duduk di sebuah sofa panjang bersama seorang wanita cantik berpakaian seksi. Walaupun mereka duduk berdekatan, tetapi lelaki tersebut terlihat tidak tertarik pada wanita di sebelahnya. Padahal wanita tersebut sudah berulang kali menggoda. 


"Tuan Theo, Anda yakin tidak ingin wine?" tanya wanita tersebut dengan nada bicara yang dibuat se-sensual mungkin. Bahkan, wanita itu dengan sengaja membusungkan dada untuk menggoda. 


"Tidak. Aku sedang tidak ingin. Suruh pelayan ambilkan minuman bersoda saja," suruhnya. 


Wanita itu merasa kecewa. Menaklukan seorang Theo bukanlah hal mudah karena lelaki tersebut tidak gampang tertarik pada wanita. Theo lebih suka menghabiskan waktu dengan teman-teman atau pekerjaan. Semua bukan tanpa alasan, setelah mendapat pengkhianatan dari wanita yang sudah resmi bertunangan dengannya, Theo pun memilih untuk menutup pintu hatinya dari wanita mana pun. 


Wanita yang bersama Theo tadi, bukannya menyuruh pelayan justru mengambil sendiri. Ketika sudah mengambil minuman bersoda untuk Theo, wanita itu langsung tersenyum licik ketika memiliki sebuah ide. Ia Mengambil obat perangsang dari dalam tas dan mencampurkannya ke dalam minuman bersoda tadi. Setelahnya, wanita itu pun membawa minuman bersoda tersebut dengan senyum yang mengembang sempurna. Ia sudah membayangkan bisa menaklukan seorang Theo nanti malam. Melakukan percintaan panas dan ia akan memanfaatkan Theo untuk mengambil harta lelaki tersebut. 


"Maaf lama, Tuan. Di belakang sangat antri bahkan tidak ada satu pun pelayan yang menganggur," ucap wanita itu. Memberikan minuman bersoda itu kepada Theo yang langsung ditenggak habis oleh lelaki tersebut. 


Theo pun duduk bersandar dan sibuk bermain ponsel. Tidak peduli pada wanita yang saat ini mulai duduk mendekat padanya lagi. Namun, beberapa menit selanjutnya, Theo merasakan tubuhnya memanas. Hasrat untuk bercinta serasa meningkat pesat. Semakin detik berlalu, Theo merasa ada yang tidak beres pada tubuhnya. 


Theo lalu menoleh dan mendelik tajam ke arah wanita di sebelahnya. Tatapan yang begitu mengintimidasi hingga membuat wanita tersebut bergidik ngeri. Namun, dengan mengumpulkan segala keberanian, wanita itu menyentuh lengan Theo. 


"Tuan, apa kau baik-baik saja?" tanya wanita itu sembari mengusap lengan Theo. 

__ADS_1


Merasakan sentuhan lembut, tubuh Theo makin tidak karuan dan ingin sekali menyetubuhi wanita tersebut.  Akan tetapi, Theo menahan diri agar tidak melampiaskan pada wanita itu. Akal sehatnya masih berpikir jernih untuk tidak bercinta dengan wanita sembarangan seperti itu. 


"Sialan! Kau berani sekali melakukan ini padaku, lihat saja! Kau akan habis setelah ini!" bentak Theo penuh kemarahan. 


Ia pun segera menyingkirkan tangan wanita tersebut dan bergegas bangkit. Lalu menghubungi salah seorang anak buahnya untuk menangkap wanita itu. Sementara Theo seperti sudah tidak lagi dan akan pulang untuk menuntaskan di rumah. 


Ketika sedang berjalan hendak keluar, Theo menggeram ketika bertabrakan dengan Melinda yang kala itu sedang mabuk. Lelaki itu hampir saja murka, tetapi tubuhnya justru terasa kaku ketika melihat sorot mata Melinda. Seperti ada magnet kuat yang menariknya masuk ke dalam tatapan wanita tersebut. 


"Kau! Untuk apa kau menabrakku? Apa kau akan menyakitiku? Memang semua lelaki itu biang penyakit!" omel Melinda tanpa sadar. Theo yang awalnya tidak tahu pun ingin sekali menampar wanita itu. Namun, ia mengurungkan niatnya ketika mendengar isakan Melinda. "Lelaki brengsek itu terus menyakitiku! Dasar ... hei, kau mau bawa aku ke mana?" 


Melinda yang berada dalam setengah kesadaran pun tidak bisa menolak ketika Theo menarik tangannya masuk ke sebuah kamar inap. 


"Maafkan aku." Theo yang sudah tidak bisa menahan diri lagi pun langsung mendorong tubuh Melinda sampai wanita tersebut tiduran di atas ranjang. Bahkan, Theo langsung menindih wanita itu sampai tidak bisa berkutik lagi. 


"Hei, lepaskan aku!" Melinda meronta. Berusaha melepaskan diri. Namun, Theo justru mendaratkan ciuman di leher Melinda hingga membuat tubuh wanita tersebut meremang seketika.


Melinda masih terus meracau dan mengumpati nama Fatih karena di tengah kesadarannya, ia berhalusinasi. Ia menganggap Theo adalah Fatih. Theo tidak peduli hal itu dan tetap memompa Melinda sampai akhrinya ia bisa melepaskan hasrat yang sejak tadi menyiksa. Tubuh Theo ambruk di atas Melinda dengan napas tersengal. Begitupun Melinda yang merasa lelah. Bahkan, saking lelah dan pusingnya, Melinda langsung tertidur lelap. 

__ADS_1


***


Sepulang dari meja judi, Fatih melihat ibunya yang masih duduk di depan televisi padahal jam sudah hampir menunjuk pukul sebelas malam. Setelah menyapa sang ibu, Fatih menuju ke kamar dan hanya melihat Atha yang sedang tertidur lelap. Fatih kembali ke luar dan menemui sang ibu. 


"Melinda belum pulang, Bu?" tanya Fatih. 


"Belum. Biasanya sebentar lagi." Dewi menjawab setengah ketus. Mendengar nama menantunya disebut selalu saja membuat wanita itu mendadak kesal. 


Fatih pun berpamitan untuk menjemput Melinda di tempat prostitusi. Walaupun sudah menghina Melinda, tetapi Fatih tetap membutuhkan uang wanita tersebut. Apalagi ia sudah berjanji akan datang untuk berjudi lagi besok pagi. Jangan sampai ia tidak datang dan akan menjadi bahan ledekan teman-temannya. 


Namun, setibanya di tempat Tante Sisca, Fatih tidak bisa menemukan istrinya sama sekali. Ketika bertanya dengan Tante Sisca, wanita tersebut tidak tahu ke mana Melinda pergi. Yang ia tahu, Melinda hanya izin padanya. 


Hati Fatih mulai dipenuhi amarah. Apalagi ketika ia berusaha menghubungi Melinda, tidak ada satu pun panggilan yang bisa terhubung. 


"Sial!" umpatnya sambil memukul udara karena kesal. "Ke mana perginya wanita murahan itu. Berani sekali pergi tanpa seizinku! Lihat saja, kalau besok dia pulang aku akan memberinya pelajaran!" 


Ke mana kau! Awas saja kalau sampai kau berani kabur maka aku tidak akan segan-segan membunuh Atha! 

__ADS_1


Fatih mengirim pesan tersebut ke nomor Melinda meskipun masih centang satu. Itu tandanya ponsel Melinda sedang tidak aktif. Setelahnya, ia memutuskan untuk pulang. Membawa amarah yang terasa membuncah dalam dada. Rasanya sungguh tidak sabar menunggu kepulangan wanita itu untuk memberinya pelajaran. 


__ADS_2