Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam

Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam
TMKKM 12


__ADS_3

Fatih mendongak lalu menatap Melinda dengan sangat tajam seolah hendak menguliti wanita itu dengan hidup-hidup. Melihat tatapan suaminya seketika membuat Melinda menunduk dalam, tubuhnya terlihat gemetar seiring keringat dingin yang mulai membasahi wajah.


Ia tahu, sekarang ini dirinya tidak mungkin bisa selamat.


Benar saja, selang beberapa detik Melinda merasakan tubuhnya ditarik dengan  sangat kuat. Tanpa ampun Fatih langsung menyeret Melinda masuk kamar, sedangkan Dewi yang melihat itu dengan segera membawa Atha pergi. Tidak ingin jika anak itu menghalangi Fatih yang hendak menghajar istrinya yang menurutnya kurang ajar.


"Nek, Atha mau sama ibu," teriak Atha sambil  terus meronta. Sepertinya paham bahwa ibunya dalam keadaan yang tidak baik. Melihat bagaimana tadi Melinda menangis dan Fatih menyeret tanpa ampun.


"Kau diamlah! Ibumu itu sudah keterlaluan karena tidak pulang semalaman. Jadi, lebih baik kau diam atau aku tidak akan ragu merobek mulutmu!" ancam Dewi tanpa perasaan. Ia tidak sadar bahwa apa yang dilakukan bisa saja merusak mental Atha. Namun, Dewi melakukan itu karena terlalu pusing mendengar tangisan Atha yang seperti hendak memecahkan gendang telinga.


Sementara itu, Melinda duduk di lantai, tepat di samping kasur. Memeluk tubuhnya sendiri yang terasa remuk. Bukan hanya bekas pecintaan semalam, juga cengkeraman tangan Fatih yang seperti akan meremukkan tulangnya.


"Maafkan aku, Mas. Lagi pula, untuk apa kau peduli padaku," ujar Melinda.


Plak! 


Sebuah tamparan mendarat di pipi Melinda. Meninggalkan bekas merah yang panasnya terasa menjalar seiring aliran darah. 


"Kau! Jangan pernah menguji kesabaranku. Katakan dari mana semalam kau pergi!" Fatih dengan tanpa perasaan mencengkeram baju Melinda seolah hendak mencekik wanita tersebut. Tatapannya terlihat penuh amarah berbeda jauh dengan Melinda yang tampak menyedihkan.


"Aku bekerja." Melinda berdalih. Namun, cengkeraman tangan Fatih kian menguat.


"Kau! Sudah mulai berani berbohong padaku! Kau bilang bekerja?" Fatih bertanya penuh penekanan. "Kau pikir aku bodoh! Aku sudah datang ke tempat kerjamu dan Tante Sisca bilang kau izin, ke mana kau! Ha!"


Melinda terdiam sambil menghirup napas dalam. Batinnya seperti terkoyak tak bersisa. Menghadapi Fatih yang keras dan kasar membuatnya serasa ingin menyerah. Namun, masih ada Atha yang harus ia perjuangkan. 


"Bukan urusanmu, Mas."


Fatih ingin sekali mencekik istrinya, tetapi senyuman licik terlihat dari sebelah sudut bibirnya. "Kalau memang kau bekerja, sudah pasti kau punya uang. Sekarang, berikan uang itu padaku!"

__ADS_1


"Tidak ada, Mas." Melinda memeluk tasnya dengan sangat erat ketika Fatih berusaha untuk merebut.


"Berikan, Brengs*k!" Fatih terus memaksa. Meminta dengan sangat kasar bahkan dengan teganya Fatih kembali memukul Melinda lalu merebut tas itu.


Lelaki itu mengobrak-abrik isi tas milik Melinda. Lalu senyumnya mengembang ketika melihat lembaran uang seratus ribuan yang cukup banyak. Wajahnya terlihat berbinar bahagia ketika melihat lembaran-lembaran uang berwarna merah tersebut. 


"Jangan, Mas! Itu untuk berobat Atha." Melinda memohon. Wajahnya penuh derai air mata. Akan tetapi, hal tersebut tidak membuat Fatih merasa iba. "Mas, dengarkan aku. Uang itu untuk pengobatan Atha. Jangan kau ambil semuanya." 


"Halah! Besok kau juga akan mendapatkan lagi." 


"Mas! Kau jangan seperti ini." 


Melinda tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan agar suaminya itu sadar. Menurutnya, Fatih sudahlah sangat keterlaluan. 


"Kuberikan kau tiga ratus ribu." Fatih memberikan tiga lembar uang seratus ribuan lalu kembali mengacak tas milik Melinda. Barangkali masih ada uang yang terselip di sana. Namun, bukan lembaran uang yang diterima olehnya, melainkan sebuah kartu nama. 


Fatih membaca nama yang tertera di sana lalu melirik tajam ke arah istrinya. Tatapannya penuh dengan kecurigaan. "Ini kartu nama siapa?" 


"Jawab!" sela Fatih membentak hingga membuat Melinda terjengkit karena terkejut. Akan tetapi, segarang apa pun kemarahan Fatih, Melinda tetap membisu. Tidak menjawab sama sekali hingga akhirnya Fatih kian meradang. "Katakan padaku, siapa pemilik kartu nama ini. Apakah kau selingkuh di belakangku!" 


Terluka sudah batin Melinda mendengar bentakan dan tuduhan itu. Air matanya menjadi saksi betapa sakit hati wanita tersebut sampai tidak mampu lagi berkata-kata. Padahal Melinda sudah berusaha untuk menyeka, tetapi bulir bening tersebut seolah mengajak bercanda. 


"Dasar kau wanita murahan!" 


Fatih menyobek kartu nama tersebut lalu melemparkan ke wajah Melinda. Setelahnya, ia pun pergi meninggalkan wanita itu sendirian. Tidak peduli meskipun Melinda sudah memohon dan meminta agar Fatih mengembalikan uang yang diambilnya. 


Ya Tuhan, sampai mana Engkau akan menguji kesabaranku. Tolonglah, aku sudah lelah harus terus seperti ini.


Melinda pun menyudahi tangisannya ketika merasa hatinya sudah mulai lega. Ia harus membersihkan diri dan berbenah agar saat Atha pulang nanti, ia bisa berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. 

__ADS_1


****


"Wah, kau sungguh luar biasa, Fatih. Kau ini seorang pengangguran, tapi bisa berjudi dengan taruhan yang menurut kami cukup besar," ujar salah seorang lawan Fatih. 


"Diamlah, lebih baik sekarang kita bermain." Fatih berdecak kesal. Tidak suka berbasa-basi kepada mereka karena menganggap harga dirinya sudah diinjak oleh mereka semua. 


"Wow, luar biasa!" 


Suara tepuk tangan terdengar menggema di ruangan tersebut. 


"Aku suka kau yang semangat seperti ini," ujarnya setengah meledek. 


Fatih pun langsung menaruh uang di atas meja. Ia bermain dengan teliti dan hati-hati. Pokoknya, ia harus menang sekarang ini.  Senyumnya perlahan mengembang ketika melihat lawannya tampak bingung dan ragu. Ia pun kian merasa yakin bahwa kemenangan yang selama ini dinanti akan datang hari ini. Namun, sepertinya itu hanyalah asa yang tidak akan pernah jadi nyata. 


"Kau kalah! Hahaha." 


Lagi-lagi, Fatih harus mengalami kekalahan. Lelaki itu mengusap wajah secara kasar. Ia kembali frustasi. Uang dari Melinda diambil oleh lelaki itu. Fatih berusaha menahan, tetapi ia justru mendapat pukulan di wajah. 


"Pergilah kau! Sudah kalah, jangan bikin rusuh di sini!" bentak mereka lalu menyeret Fatih keluar dari tempat perjudian itu. 


Lelaki itu geram. Amarahnya naik ke ubun-ubun. Kepalanya terasa mendidih dan hampir meledak. Fatih tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan sampai akhrinya ia memilih untuk pulang.


Setibanya di rumah, hanya ada Melinda yang sedang tertidur lelap, sedangkan Dewi sedang pergi kondangan bersama Atha. Tanpa belas kasihan, Fatih langsung menarik tubuh Melinda hingga membuat wanita itu tersentak dan meringis kesakitan karena membentur tembok cukup kencang. 


"Mas ...." 


"Wanita sialan!" bentak Fatih sangat lantang. Lalu mencengkeram dagu Melinda begitu kuat. Melihat sorot mata suaminya yang penuh dengan kilatan amarah, seketika membuat Melinda menelan ludahnya susah payah. 


"Kau kenapa, Mas?" tanya Fatih memberanikan diri. 

__ADS_1


"Kenapa? Kau tanya aku kenapa? Aku kalah judi dan itu karena kau, Jal*ng!" Fatih menghempaskan dagu Melinda dengan gerakan yang sangat kuat. "Kau memang wanita pembawa sial!" 


__ADS_2