Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam

Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam
TMKKM-15


__ADS_3

"Jangan pernah ikut campur urusanku, Bu!" Melinda membentak Dewi. Rasa sakit hati yang ditorehkan wanita tersebut, membuat Melinda menghapus rasa hormatnya sebagai seorang menantu. 


Hal itu membuat Dewi meradang. Matanya mendelik tajam seperti hendak lepas dari tempatnya pun tidak membuat Melinda gemetar ketakutan. Melinda tetap berdiri tegak dan menantang sang mertua. Jika memang sang ibu mertua akan merusak citranya di depan orang lain maka Melinda pun akan melakukan hal yang sama. 


"Kau! Sudah berani kurang ajar padaku, ha!" Dewi berkacak pinggang. Tidak peduli meskipun orang-orang sudah menatapnya. Apa pun akan ia lakukan agar orang-orang tahu siapa Melinda. 


"Memangnya kenapa aku harus takut, Bu? Aku sudah berusaha menjadi menantu yang baik dan hormat padamu. Tapi kau selalu memperlakukanku sebagai wanita hina maka jangan salahkan aku karena sudah bersikap tidak hormat padamu." Melinda menimpali. 


Ia tidak ingin jika orang lain menganggap dirinya hina padahal ibu mertuanya tidaklah bersikap sebagaimana seorang ibu yang baik. 


"Aku sungguh menyesal memiliki menantu sepertimu," cemooh Dewi. Masih terus menatap Melinda dengan sinis. 


"Kalau begitu, pecat saja aku sebagai menantumu. Aku juga menyerah menjadi istri dari anak lelakimu. Kau tahu, aku lelah harus bekerja keras menghidupi kalian yang sama sekali tidak pernah menghargaiku. Apalagi Mas Fatih yang justru main judi. Aku lelah, Bu. Aku lelah!" 


Sebuah tamparan mendarat di pipi Melinda ketika ia baru selesai berbicara. Wanita itu pun diam dan mengusap pipinya yang memerah. Bukan hanya Fatih, tetapi Dewi juga sudah tega menampar dirinya. Dengan membawa rasa sakit hati, Melinda pun memilih untuk pergi meninggalkan tempat yang mulai ramai tersebut. Tidak ingin perdebatan mereka kian jauh lagi. 


***


Mobil Theo berhenti di depan sebuah warung sederhana. Jika dilihat, itu seperti warung biasa, tetapi siapa sangka jika masuk di lebih dalam ke warung tersebut maka akan ada banyak kamar yang menjadi saksi para wanita malam bekerja seperti Melinda. 


Kedatangan Theo mengundang perhatian beberapa pekerja di sana, begitu juga Tante Sisca. Raut wajah wanita tersebut terlihat begitu gugup. Antara cemas dan takut jika Theo memiliki maksud buruk datang ke tempatnya. Menilik bagaimana penampilan Theo yang begitu rapi seperti orang kantoran. 


"Silakan datang, Tuan." Tante Sisca berusaha menyapa dengan lembut. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" 

__ADS_1


"Em, apa di sini aku bisa menyewa wanita malam?" tanya Theo dengan nada bicara yang begitu tegas. 


Tante Sisca tidak langsung menjawab. Ia menatap ke sekitar dan memberi kode pada pekerja se*s di sana agar pergi ke belakang. Lalu, Tante Sisca mengajak Theo agar duduk terlebih dahulu. Meminta seseorang agars membuatkan minum untuk lelaki tersebut. 


"Tuan, dari mana Anda tahu kalau di sini bisa menyewa wanita malam?" tanya Tante Sisca memulai pembicaraan di antara mereka. 


"Kau tidak perlu tahu itu. Kalau memang di sini bisa menyewa wanita malam, maka aku akan menyewa salah satu di antara mereka. Tenang saja, aku tidak akan membayar murah. Berapa biasanya tarif di sini?" Theo berbicara dengan sangat yakin. 


"Lima ratus ribu dalam sekali main, Tuan. Biasanya setiap pelanggan akan membayar pendaftaran seratus ribu rupiah pada saya." Tante Sisca menjawab jujur. Merasa yakin bahwa Theo tidak akan melakukan macam-macam. 


"Baiklah, aku akan membayar pendaftaran sebesar dua juta." 


Bola mata Tante Sisca membuat penuh. Bahkan, wanita itu sampai menepuk pipi tidak percaya. "A-apa Anda serius, Tuan?" tanyanya meyakinkan. 


"Tentu saja. Tapi dengan satu syarat," ujar Theo disertai senyuman licik. 


"Tenang saja. Tentu saja aku tidak akan melakukan itu. Aku hanya meminta satu syarat, aku mau memilih sendiri wanita yang akan melayaniku nanti. Jadi, apa kau bisa memberikanku foto siapa saja pekerja di sini?" tawar Theo. 


Tanpa menunggu lama, Tante Sisca langsung membuka sebuah buku yang setiap lembarnya ada satu foto pekerja **** di sana. Theo pun segera membuka lembaran-lembaran buku tersebut sambil mengamati foto itu satu persatu. Sampai akhirnya, gerakan tangan Theo terhenti ketika ia melihat wajah cantik Melinda terpajang di sana. 


Jadi dia benar wanita malam di sini. Melinda. Nama yang cantik. Batin Theo. 


"Aku mau wanita ini." Theo menunjuk foto Melinda. 

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Bukan mau menolak, tetapi saya belum tahu apakah malam ini Melinda akan datang atau tidak. Tadi siang dia habis mengantar anaknya berobat dan biasanya kalaupun datang pasti nanti malam saat hampir larut." 


"Anak? Jadi dia sudah punya anak?" tanya Theo berpura-pura terkejut. 


"Iya, Tuan." 


"Apa kau mau menceritakan tentang wanita ini. Sepertinya wanita ini sangat menarik." Theo merayu, tetapi Tante Sisca menolak. 


Lelaki itu pun tidak kehabisan akal. Ia mengeluarkan uang satu juta dan menaruh tepat di depan Tante Sisca. Menggoyahkan pertahanan hati wanita itu. Akhirnya, Tante Sisca menceritakan  semua tentang Melinda. Tentang suami Melinda yang seorang penjudi, anaknya yang menderita sakita parah, juga tentang kesedihan Melinda yang lain. 


Hal itu membuat Theo makin merasa iba kepada Melinda. Tidak menyangka bahwa wanita itu hidup mengenaskan lebih dari yang ia kira. Theo pun dengan sabar menunggu wanita itu. Namun, sampai hampir jam sebelas malam, tidak ada tanda-tanda kedatangan Melinda. 


"Tuan, lebih baik Anda datang ke sini lagi besok malam. Saya sudah berusaha menghubungi Melinda, tetapi nomornya tidak aktif." Tante Sisca mengusir halus. Entah mengapa, saat Theo berada di sana, ada rasa tidak nyaman yang dirasakan oleh wanita itu. 


"Baiklah. Aku akan menghubungi dia langsung saja." Theo memaksa Tante Sisca agar memberikan nomor ponsel Melinda. Setelahnya, ia pun berpamitan pergi. 


***


Melinda awalnya tidak berniat bekerja. Tubuhnya sudah merasa lelah, tetapi jika terus berada di rumah, hatinya akan terus memanas karena teringat pada perlakuan ibu mertua juga suaminya. Setidaknya, jika di tempat kerja ia bisa meredam amarah yang menggebu-gebu dan seperti hampir meluap lalu meledakkan kepala. 


Setibanya di tempat Tante Sisca, Melinda langsung berlari masuk karena sudah kemalaman dan ia takut tidak akan mendapat pelanggan. Namun, saat di pintu Melinda dibuat terkejut ketika bertabrakan dengan seseorang. 


"Maaf. Seperti aku terlalu tergesa-gesa." Melinda mengambil tas di lantai. Lalu berdiri tegak dan terdiam ketika melihat lelaki yang menabraknya tadi. Begitu pun dengan Theo yang terkejut karena bertubrukan dengan wanita yang ditunggunya sejak tadi. 

__ADS_1


Saat melihat wajah Theo, Melinda mengerutkan kening karena seperti tidak asing dengan lelaki tersebut, tetapi Melinda tidak bisa mengingat di mana pernah bertemu dengannya. Tidak mau ambil pusing, Melinda pun meminta maaf sekali lagi lalu meninggalkan lelaki tersebut.


"Tunggu!" Theo berteriak. Menghentikan langkah Melinda yang belum jauh darinya. "Apa kau sama sekali tidak mengingatku, Nona?" 


__ADS_2