
"Ya Tuhan, haruskah aku mengikuti saran lelaki itu?" Melinda bimbang sendiri setelah melakukan panggilan suara. Theo meminta dirinya supaya memasang CCTV di rumah agar bisa menjadi bukti jika ia mendapatkan kekerasan. Namun, Melinda masih merasa bimbang atas hal tersebut. Jika sampai ia ketahuan, yang ada dirinya justru akan menjadi bulan-bulanan ibu mertua maupun suaminya. Bisa saja kekerasan yang mereka lakukan akan menjadi-jadi.
"Lebih baik aku diskusi besok saja dengan dia." Melinda pun memilih untuk menaruh ponsel dan memeluk Atha sangat erat. Ia berusaha memejamkan mata untuk menghadapi hari yang mungkin saja masih terasa pahit untuknya.
***
Setelah melakukan panggilan dengan Melinda, Theo pun meminta anak buahnya untuk mengantar dirinya datang ke tempat di mana Fatih biasa berjudi. Ia harus memberi pelajaran kepada pria itu karena sudah berani menyakiti Melinda. Walaupun Melinda masih sah sebagai istri Fatih, tetapi Theo sungguh tidak rela.
"Di mana dia?" tanya Theo saat sudah sampai di tempat itu.
"Belum datang, Tuan. Sepertinya kita harus menemui pemilik tempat judi ini terlebih dahulu," ujar anak buah Theo.
Lelaki itu pun setuju dan langsung bergegas menemui pemilik tempat judi tersebut. Kedatangan Theo disambut hangat apalagi setelah ia memperkenalkan diri. Banyak hal yang diceritakan oleh pemilik tempat perjudian itu tentang Fatih yang selalu kalah, tetapi tidak pernah menyerah.
"Jadi, dia gunakan hasil kerja keras istrinya untuk berjudi. Aku tidak menyangka ada pria sekejam itu." Theo menggeleng lalu bangkit dan segera datang ke meja judi ketika ada yang mengadu bahwa Fatih juga sudah berada di sana.
Kedatangan Theo sontak membuat tercengang Fatih maupun siapa pun yang berada di sana. Mereka merasa asing dengan Theo, tetapi melihat bagaimana penampilan Theo, mereka yakin kalau Theo bukanlah lelaki dari kalangan biasa seperti Fatih.
"Wah, ada pemain baru," kata Fatih dengan senyuman meledek. Ia belum tahu siapa Theo sebenarnya.
"Kenapa?" Theo membalas santai. Tidak merasa terintimidasi sama sekali.
"Tidak papa."
Sepertinya malam ini aku bisa menang. Fatih membatin. Merasa sangat percaya diri.
Tanpa menunggu lama, mereka pun segera bermain. Suasana mendadak tegang dan tak hentinya Fatih mengeluarkan keringat dingin. Sementara Theo masih terlihat santai. Menikmati pemandangan di depannya.
__ADS_1
"Kau yakin uang empat juta ini akan jadi taruhan?" tanya Theo memastikan lagi. Fatih mengangguk cepat. Theo pun menaruh sebuah cek bertuliskan lima juta dan menaruh di atas meja.
"Berapa kau memasang uangmu?" Fatih sedikit bangkit untuk melihat nominal yang tertera di sana. Lima juta. Lumayan juga kalau sampai menang.
"Lima juta. Lebih baik kita lanjutkan lagi." Theo masih duduk tenang dan kembali terlihat serius. Suasana pun kian mencekam ketika permainan hampir usai.
"Aku menang!" teriak Fatih sambil menaruh kartu terakhir. Ia berjingkrak kegirangan sementara pengunjung yang berada di sana begitu tercengang. Padahal mereka menduga yang akan menang adalah Theo, tetapi ternyata mereka salah.
Theo justru kalah. Bahkan, pemilik tempat judi itu pun sampai merasa heran.
"Lihatlah kalian! Aku menang! Hahaha." Fatih sampai naik ke meja dan menunjuk setiap orang yang berada di sana. Tidak ada yang ikut bersorak, mereka justru menganggap Fatih seperti pria kampungan dan tatapan mereka terlihat begitu meledek.
"Selamat, Tuan. Kau sungguh luar biasa." Theo bertepuk tangan. Kemudian, ia bangkit dan mengulurkan tangan untuk menyalami Fatih. Namun, tangannya justru langsung ditepis oleh lelaki tersebut.
"Untuk apa bersalaman denganku!" Fatih menolak dengan begitu angkuh. Bukannya merasa takut atau sakit hati, Theo justru tersenyum sinis melihat tingkah Fatih yang bergitu arogan.
Sorot mata Fatih terlihat berbinar bahagia. "Tentu saja aku mau. Aku akan datang lebih awal dari biasanya."
"Oke. Kalau begitu aku pamit dulu." Theo merapikan jas yang dikenakan lalu berjalan meninggalkan tempat tersebut dengan gaya gagah. Melihat penampilan dan aura Theo, mereka masih belum menyangka kalau Theo akan kalah dari Fatih.
"Tuan, apa Anda sengaja kalah dari lelaki sialan itu?" tanya anak buah Theo saat mereka sudah masuk ke mobil.
"Ini adalah awal permainan untuknya. Jadi, nikmati saja."
Anak buah Theo mengangguk paham lalu melajukan mobil tersebut meninggal tempat perjudian itu. Banyak rencana yang ia susun untuk membuat Fatih bertekuk lutut dan mohon ampun pada Melinda. Theo sungguh tidak sabar menunggu waktu itu akan tiba.
***
__ADS_1
"Ibu, Bu!" teriak Fatih saat ia baru sampai rumah. Suaranya yang menggelegar mengejutkan penghuni rumah. Dengan gegas mereka mendekati Fatih karena cemas terjadi apa-apa dengan lelaki itu.
"Kenapa?" tanya Dewi tidak sabar. Sementara Melinda hanya berdiri di ambang pintu tanpa berani mendekat. Lebih tepatnya malas jika harus mendekati lelaki itu. Apalagi ada ibu mertuanya di sana.
"Aku menang, Bu. Lihatlah. Uangku bertambah lima juta," sahut Fatih tanpa memudarkan senyumnya.
Dewi pun mengucapkan selamat dan memeluk putranya. Ikut senang karena Fatih berhasil menang dalam perjudian itu. Setelah puas, Fatih mendekati Melinda lalu menunjukkan cek dan uang tunai miliknya sendiri.
"Lihatlah! Aku menang!" Fatih menunjuk cek dengan begitu angkuhnya. Melinda pun tidak membuka suara dan memilih untuk masuk kamar. "Bodoh! Apa kau tidak mau mengucapkan selamat untuk suamimu?" Fatih mulai geram karena merasa Melinda sangat menyebalkan.
"Untuk apa? Kau hanya sekali menang. Tidak perlu ada ucapan selamat. Hanya membuang waktu." Melinda menjawab tanpa rasa takut sedikit pun. Sepersekian detik selanjutnya ia meringis ketika Fatih sudah menjambak rambut Melinda sangat kencang. "Lepasin, sakit!"
"Kau benar-benar istri kurang ajar, ya! Suami dapat uang bukannya senang malah seperti ini. Kau mau minta bagian? Iya? Katakan kau mau berapa juta." Fatih sungguh sangat angkuh dan hal tersebut makin membuat Melinda merasa muak terhadap lelaki itu.
"Aku tidak butuh uangmu, Mas!" tolak Melinda mentah-mentah.
"Apa kau yakin itu? Jangan malu-malu kalau memang kau mau." Fatih melepaskan jambakannya.
"Tidak. Aku masih bisa mencarinya sendiri. Lagi pula, kau terlihat sangat senang seperti itu. Memangnya kau tidak takut dibohongi?" Melinda menarik sebelah sudut bibirnya saat melihat senyum Fatih memudar perlahan.
"Apa maksudmu?" tanya Fatih bingung.
"Kau hanya mendapat cek tanpa uang tunai dan kau sudah merasa sesenang itu, Mas? Bagaimana kalau teryata orang itu membohongimu? Bagaimana kalau cek ini ternyata palsu?" Melinda mulai senang melihat Fatih yang tampak seperti orang bingung.
"Biarkan. Aku tidak akan rugi karena uangku masih utuh," sanggah Fatih.
"Walaupun kau tidak rugi, tetapi kau sudah dibohongi dan orang-orang akan menganggap kau sangat bodoh karena mudah untuk dibohongi, Mas." Melinda makin memanasi hati Fatih.
__ADS_1
"Brengsek!"