Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam

Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam
TMKKM-36


__ADS_3

"Kenapa Anda menolak, Tuan?" tanya Zul memecah keheningan yang sempat tercipta lama di antara mereka. 


"Baguslah kalau kau menolak. Setidaknya aku tenang karena tidak membiarkan Melinda berada di sampingmu." Theo justru yang membuka suara. 


Wijaya tersenyum miring mendengar ucapan putranya. Merasa sangat yakin bahwa Theo memang benar-benar tulus mencintai wanita tersebut. "Zul, kau pikir waktu sebulan dua bulan sikap dan kelakuan seseorang sudah bisa dinilai? Paling tidak setengah tahun lebih jangka waktunya." 


Semua tercengang mendengar ucapan Wijaya. "Jadi, Anda bersedia, Tuan?" tanya Zul memastikan dan hanya ditanggapi anggukan lemah oleh Wijaya. 


Theo merasa kesal karena ia tidak akan bisa tenang jika Melinda berada di dekat Wijaya. Ia cemas jika sang papa akan  melakukan hal yang mungkin akan melukai wanita itu. Namun, jika menolak sudah pasti keadaan akan semakin rumit. Theo menoleh dan menatap Melinda dengan penuh tanya. Paham akan kode dari tatapan Theo, Melinda pun langsung mengangguk mengiyakan. 


"Kau yakin?" tanya Theo saat ia sudah mengajak Melinda keluar dari ruangan. 


"Tuan, semua demi kebaikan kau dan papamu. Aku harap hubungan kalian akan lebih baik setelah ini. Lagi pula, aku sudah terbiasa menghadapi Mas Fatih dan Bu Dewi, jadi aku tidak akan terkejut lagi dengan sikap papamu yang sepertinya keras itu," kata Melinda. Walaupun belum sepenuhnya yakin, tetapi Theo tetap setuju akan hal tersebut. 


***


Yuli merasa geram sendiri. Belum ada sebulan Bu Dewi tinggal di rumahnya, tetapi wanita tersebut sudah membuat hidup Yuli kacau. 


Dewi persis seperti benalu untuk Yuli. Bahkan, lebih terkesan seperti bos yang lebih banyak mengatur padahal Dewi hanyalah menumpang. Terlebih lagi, barang-barang Yuli banyak yang hilang setelah ada wanita itu di rumahnya. Lebih tepatnya, barang laku terjual, tetapi uang tidak tercatat di pemasukan.


Yuli yang sudah hampir kehabisan kesabaran pun akhirnya diam-diam memasang CCTV di tempat tersembunyi, tetapi masih bisa menjangkau setiap sudut rumahnya. Apalagi dirinya akan keluar kota selama lima hari karena saudaranya akan menikah. Membuat Yuli merasa tidak tenang meninggalkan mereka. Walaupun di depan baik, tetap saja Yuli menaruh curiga. 


"Bu, aku dapat uang lagi." Fatih menaruh dompet di meja. Dewi yang sedang sibuk menghitung uang penjualan milik Yuli pun langsung mengalihkan perhatian. Mengambil dompet yang tergeletak di meja dan melihat isi di dalamnya. 


Wajah Dewi tampak semringah. "Wah, uangnya cukup banyak juga. Pasti kau berhasil mencopet uang ini dari orang kaya kan?" Senyum Dewi terlihat begitu merekah sempurna. 

__ADS_1


"Mungkin, Bu. Tadi di pasar sangat ramai dan aku asal mengambil saja. Eh kok pas kubuka isinya lumayan juga." Fatih juga tersenyum senang. Ekor matanya melirik uang milik Yuli yang baru selesai dihitung oleh Dewi. "Bu, hari ini penghasilan warung bagaimana?" 


"Hari ini lumayan. Dapat tiga juta lebih. Ini ibu ambil lima ratus." Dewi memisahkan uang lima ratus ribu rupiah lalu memasukkan ke kantong. 


"Apa Bu Yuli tidak curiga, Bu?" 


"Tidak. Tenang saja. Selama ini, dia percaya saja sama ibu dan tidak pernah bertanya hal ini-itu. Nanti Ibu tinggal bilang saja kalau warung sepi. Dia pasti percaya," ujar Dewi tanpa dosa. 


"Pintar juga kau, Bu. Dengan begini, tidak perlu menunggu lama kita sudah punya uang lagi." Fatih membayangkan dirinya bisa kembali berjudi jika uang yang terkumpul sudah lumayan. 


Setelah obrolan itu, Dewi mengajak Fatih untuk beristirahat karena lelah seharian ini mereka melakukan kejahatan. 


"Astaga, Bu Dewi! Fatih! Ternyata tingkah kalian seperti itu selama ini." Yuli yang merasa tidak tenang langsung membuka rekaman CCTV di ponsel padahal baru sehari ia berada di luar kota.


Tidak sia-sia aku memasang CCTV, aku tidak menyangka ternyata mereka seperti itu. Kecurigaan ku ternyata benar. Mereka harus mendapat pelajaran atas apa yang sudah mereka lakukan.


***


"Tuan, ini soup untuk Anda." Melinda memberikan sayur soup untuk Wijaya. Lelaki itu hanya diam sambil melirik Melinda yang begitu telaten menyiapkan makan untuknya. "Silakan makan, Tuan. Kalau Anda butuh apa-apa, say berdiri di belakang Anda." 


Wijaya terdiam sesaat. Mencicipi soup buatan Melinda yang ternyata enak. "Em, apa kau sudah mandi?" tanya Wijaya. 


Mendengar pertanyaan itu justru membuat Melinda merasa cemas. Khawatir Wijaya akan risih masakan buatannya. "Belum, Tuan. Maaf." 


"Mandilah. Setelah ini, aku ingin kau mengantarku jalan-jalan ke danau." Wijaya memberi perintah tanpa menoleh ke arah Melinda. 

__ADS_1


Paham akan hal itu, Melinda pun langsung berpamitan untuk membersihkan diri. 


"Apa kau mencintai putraku?" tanya Wijaya tanpa basa-basi saat mereka baru saja sampai di danau. 


"Memangnya kenapa, Tuan?" Melinda justru balik bertanya hingga membuat Wijaya berdecak keras. 


"Aku bertanya untuk kau jawab, bukan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan," cebik lelaki itu kesal. 


Melinda kembali meminta maaf lalu menghindari tatapan Wijaya. Jika menjawab pertanyaan itu, Melinda belum tahu jawaban yang pasti karena ia sendiri tidak tahu apakah dirinya mencintai Theo atau tidak. Bagi Melinda, Theo adalah pria berhati malaikat yang menolongnya dengan tulus. Namun, jika mengatakan cinta, Melinda belum pantas mengatakan hal itu. 


"Kenapa kau diam saja? Aku jadi curiga kalau kau juga mencintai Theo," ujar Wijaya menyadarkan Melinda dari lamunan. 


"Maaf, Tuan. Saya sadar diri kalau saya adalah wanita rendahan yang tidak pantas bersanding dengan Tuan Theo. Kami sangat berbeda jauh seperti yang Anda katakan." 


"Kalau memang kau merasa seperti itu dan tidak mencintai Theo, kenapa kau tetap mau bertahan dan merawatku? Seharusnya kau menolak dan benar-benar pergi dari kehidupan Theo." Wijaya kembali berbicara keras. Melinda pun menghela napas panjang mendengar ucapan lelaki tersebut. 


"Tuan, saya akan pergi jika Anda sudah benar-benar sembuh. Saya ingin membalas apa yang sudah pernah dilakukan oleh Tuan Theo. Beliau dengan ikhlas membantu saya menyembuhkan Atha. Saya tidak ingin jika pergi nanti masih berhutang budi kepada beliau." Melinda menjawab dengan tenang. 


"Apakah kau tetap akan berada di samping Theo jika dia jatuh miskin?" tanya Wijaya lagi. 


Melinda merasa lelaki itu sangat cerewet sekarang ini. "Tentu saja. Harta bukanlah masalah bagi saya. Intinya, siapa yang berbuat baik kepada saya, maka saya akan membalasnya." 


Wijaya manggut-manggut. Dari nada bicara dan tatapan Melinda saja sudah terlihat kalau wanita itu bersungguh-sungguh dalam ucapannya. 


"Melinda ...." Wijaya menghentikan ucapannya. Melinda tersentak karena baru pertama kali ini mendengar Wijaya memanggil namanya. "Apakah kau bersedia menemani hidup Theo selamanya?" 

__ADS_1


__ADS_2