Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam

Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam
TMMKM-30


__ADS_3

"Tuan, pemilik tempat perjudian waktu itu mengabari kalau Fatih datang bersama seorang wanita yang kemungkinan adalah Nona Melinda," ujar salah seorang anak buah Theo.


"Kau yang benar saja! Jangan sampai salah orang," kata Theo membentak. Mendengar nama Melinda membuat hati Theo berdebar tidak karuan.


"Iya, Tuan. Dia bilang lupa-lupa ingat dengan Nona Melinda, tetapi seperti tidak asing dengan wanita itu."


"Suruh dia mengirim foto wanita itu segera. Berapa pun uang yang ia mau, aku akan memberikan jika benar wanita itu adalah Melinda." Theo tidak sabar. Dalam hati berharap semoga wanita itu memang benar Melinda.


Namun, jika itu benar Melinda, lantas bagaimana bisa Fatih bersama dengannya lagi.


Hati Theo mendadak gelisah. Ada rasa cemas, khawatir, dan takut semua beradu menjadi satu membuat dirinya merasa tidak tenang sama sekali. 


"Katanya mereka sudah pulang, Tuan." Anak buah Theo menghubungi pemilik tempat perjudian itu dan langsung mengobrol dengan Theo. 


Lelaki tersebut menjelaskan bahwa Fatih sengaja membawa wanita tersebut sebagai taruhan dan jika kalah maka siapa pun boleh menikmati Melinda. Namun, Dewi Fortuna masih berpihak pada Melinda karena Fatih berhasil menang sehingga wanita itu bisa pulang tanpa digilir. 


"Kalau begitu sekarang kita ke rumah lelaki brengsek itu," ajak Theo saat panggilan tersebut sudah terputus. Pemilik tempat perjudian itu juga mengatakan kalau Fatih sudah pulang bersama wanita yang dibawanya. 


***


"Kau memang membawa hoki untukku." Fatih tersenyum senang membawa uang lima juta di tangan setelah ia berhasil menang. Berbeda dengan Melinda yang memasang wajah pias. Dalam hati Melinda merasa bersyukur karena bisa terbebas dari lelaki-lelaki ganas di tempat perjudian itu. Walaupun Melinda harus selalu bersiap karena ia yakin Fatih bukan hanya akan sekali ini memperalat dirinya. 


Kening Melinda mengerut dalam ketika melihat sebuah mobil mewah terpakir di halaman depan. Perasaannya mendadak was-was. Merasa curiga terhadap pemilik mobil tersebut. Bahkan, langkah kaki Melinda yang sudah di ambang pintu pun terasa sangat berat. 

__ADS_1


Melihat Melinda yang hanya berdiri terpaku di tempat, dengan tidak sabarnya Fatih langsung menarik tangan wanita tersebut. Saat baru saja masuk ke ruang tamu, Melinda dibuat tersentak karena Wijaya sudah duduk di sofa dan Zul berdiri tegak di belakang lelaki angkuh itu. 


"Tu-tuan?" Bibir Melinda begitu susah untuk digerakkan. 


Wijaya bangkit dan berdiri tegak berhadapan dengan Melinda. Tatapannya begitu menajam hingga membuat mental Melinda mendadak ciut seketika. Ketika Wijaya berjalan mendekat, Melinda pun perlahan mundur untuk menghindari lelaki itu. 


"Ternyata kau masih hidup, Nona?" tanya Wijaya. Senyuman  sinis tampak tersungging dari sebelah sudut bibir. "Aku tidak menyangka kalau ternyata lelaki itu bisa menemukanmu. Kupikir kau sudah pergi sejauh mungkin dari sini, Nona." 


"Ja-jangan sakiti saya, Tuan. Saya mohon. Saya akan berjanji pergi sejauh mungkin dari kalian termasuk Tuan Theo sekalipun," ujar Melinda. Menangkup kedua tangan di depan dada seraya terus memohon kepada Wijaya.


Akan tetapi, hal tersebut tidak membuat Wijaya menaruh rasa simpati kepada wanita itu. Justru, hal tersebutlah yang membuat Wijaya merasa senang. 


"Tuan, jangan bawa dia pergi dari sini karena aku masih membutuhkan tenaganya. Kalau aku sudah puas maka kau tenang saja, aku akan membunuhnya agar tidak lagi menganggu kehidupan anakmu," ucap Fatih menyela. 


Wijaya langsung menoleh ke arah lelaki tersebut. "Sayangnya aku bukanlah orang yang sabar untuk menunggu. Apalagi untuk pria sepertimu. Jadi, aku akan membawa wanita ini pergi dari sini dan aku akan menghabisi dengan tanganku sendiri." 


Kali ini, Wijaya yang terlihat kesal karena Fatih sudah berani mendebatnya. Wijaya menyuruh Zul memberikan uang lima puluh juta sebagai jaminan karena Wijaya akan memberikan sertifikat rumah tersebut setelah segala urusan benar-benar siap. Selain itu, sertifikat rumah itu pun masih di tempat Theo, jadi ia harus memikirkan cara untuk mengambilnya. 


"Baiklah. Aku terima uang ini. Kalau sampai kau tidak mengembalikan sertifikat rumah ini maka aku akan mendatangimu untuk menagih." Fatih berbicara dengan berani. Wijaya hanya mengiyakan lalu meminta Zul agar membawa Melinda pergi dari sana.


"Jangan bawa saya, Tuan. Saya mohon." Melinda meronta. Berusaha melepaskan diri dari genggaman Zul. Ia tidak ingin jika sampai Wijaya membawanya pergi dari sana. Terlebih lagi, ia belum bertemu dengan Atha lagi karena Dewi membawa anak itu pergi. Kalaupun harus pergi dari sana maka Melinda harus membawa putranya turut serta. 


"Menurutlah, Nona. Agar aku tidak menggunakan kekerasan padamu." Zul mulai kehabisan kesabaran karena Melinda terus meronta sekuat tenaga. 

__ADS_1


"Aku harus menemui putraku dulu. Saya mohon lepaskan, Tuan." Melinda pun tak kuasa menahan air mata. Entah mengapa, rasa gelisah yang teramat besar memenuhi hati hingga membuat Melinda merasa sangat tidak tenang. 


Ia khawatir jika harus berpisah dari Atha. 


"Hei! Lepaskan dia!" Theo berteriak kencang ketika mobilnya baru sampai di depan rumah Fatih. 


Suasana pun memanas karena Wijaya menatap tajam ke arah putranya, sedangkan Theo membalas dengan tak kalah tajam. Seolah tidak takut sama sekali terhadap papanya sendiri. 


Melinda kian meronta saat melihat keberadaan Theo. Ia harus berusaha keras agar bisa melepaskan diri apalagi sekarang Theo bisa saja memberi bantuan kepadanya. Zul bahkan sampai kewalahan, tetapi ia tetap bisa memegang wanita itu. 


Tidak ingin Theo berhasil mendapatkan Melinda, dengan cepat Wijaya menyuruh Zul agar menarik wanita itu masuk mobil. Fatih yang melihat hal itu pun langsung menahan Theo. Ia masih merasa dendam terhadap lelaki itu. Jadi, ia akan memisahkan Melinda dari Theo. 


"Nenek, ibu mau dibawa ke mana?" tanya Atha saat melihat Melinda yang sedang dipaksa masuk ke mobil. Dewi tidak menyahut, hanya melihat keributan yang terjadi di seberang sana. Ketika Dewi lengah, Atha langsung kabur tanpa sepengetahuan wanita itu. 


"Jangan bawa ibu ...." 


Brak! 


Semua mata tertuju ke arah teriakan Atha dan mereka terkejut ketika melihat Atha sudah tergeletak di jalan dengan kepala bersimbah darah. Mobil truk yang menabrak anak itu pun berhenti tidak jauh dari anak itu. 


"Atha!" Melinda berteriak histeris. Zul yang melihat itu pun langsung melepaskan cekalan tangannya dan membiarkan Melinda berlari tunggang langgang mendekati putranya. 


"Atha ... Ya Tuhan, Atha ....." Melinda memangku kepala Atha yang sudah bersimbah darah, sedangkan Theo ikut mendekati wanita itu dan menyetuh nadi Atha. 

__ADS_1


"Mel ...." Bola mata Theo tampak berkaca-kaca. "Atha meninggal dunia," ujarnya sangat lirih.


"Tidak mungkin!" 


__ADS_2