
Wijaya memilih pergi dari hadapan Theo karena tidak ingin ada pertengkaran di antara mereka. Memilih untuk meredam semua amarah yang bersemayam dalam dada. Walaupun begitu, Wijaya tetap akan mengawasi putranya dan tidak akan membiarkan ia dekat dengan Melinda. Bahkan, ia akan mencari tahu siapa Melinda yang sebenarnya.
"Hah!"
Selepas kepergian sang papa, Theo langsung menghempaskan tubuhnya di sofa. Mengusap wajah secara kasar. Sekarang ini, ia harus mencari ke mana pun Melinda pergi. Harus bisa menemukan keberadaan wanita tersebut. Tidak peduli meski Wijaya sudah keras melarang. Tanpa rasa lelah, Theo masih berusaha untuk terus menghubungi Melinda, tetapi belum ada satu pun panggilannya yang terhubung. Akhirnya, Theo meminta bantuan anak buahnya untuk mencari wanita itu.
"Ke mana kau, Mel? Aku sungguh tidak bisa jauh darimu." Theo memejamkan mata. Merasa pasrah walaupun tidak akan menyerah.
***
"Ibu, kita akan pergi ke mana lagi?" tanya Atha. Mulai kelelahan mengikuti langkah Melinda.
"Kita akan mencari kosan di sekitar sini, Sayang." Melinda menjawab lembut. Melihat wajah pucat putranya membuat Melinda merasa tidak tega. Namun, ia pun tidak mungkin tinggal di tempat Theo. Tidak mau ada masalah baru yang terjadi nantinya.
Bagi Melinda, yang harus ia fokuskan sekarang ini adalah kesembuan Atha. Apa pun caranya, ia akan mencari uang untuk menyembuhkan putranya. Ketika sudah melihat Atha yang sangat kelelahan, Melinda segera meminta putranya agar beristirahat. Lalu membelikan makan dan minum untuk anak tersebut sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanan.
"Aku mau tidur dulu, Bu." Atha merengek. Melinda mengangguk lemah lalu menyuruh anak itu agar tidur di pangkuannya. Tangan wanita itu mengusap lembut puncak kepala putranya. Membuat Atha semakin lelap dalam tidurnya. Sementara Melinda langsung memejamkan mata ketika merasakan kedua matanya terasa basah.
Ingin sekali mengeluh, tetapi tidak ingin jika dunia akan meledeknya. Ia harus menjadi wanita tangguh yang bisa tetap berdiri kukuh dalam segala keadaan. Walaupun dirinya hina dan penuh dosa, tetapi ia yakin bahwa Tuhan tidak akan membebani hamba-Nya melebihi batas kemapuannya. Ia harus percaya bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan.
"Kau harus semangat, Mel." Melinda bergumam lirih. Menyemangati dirinya sendiri. Tatapannya terus mengarah kepada Atha hingga akhirnya ia ikut terlelap karena terlalu lelah.
***
__ADS_1
Satu minggu telah berlalu.
Hidup Theo terasa hampa dan seperti ada yang kurang semenjak Melinda pergi. Sudah seminggu lamanya Theo terus mencari bahkan ia pun menyuruh anak buahnya, tetapi Melinda bak hilang ditelan bumi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan wanita itu. Hal itu membuat Theo benar-benar kehilangan semangat hidup.
"Maaf, Tuan. Kami belum bisa menemukan Nona Melinda dan putranya." Anak buah Theo menunduk dalam. Merasa khawatir akan mendapat amukan dari tuannya. Jika datang tidak membawa informasi tentang Melinda maka Theo akan naik pitam bahkan terkadang membabi buta.
Semua sungguh merasa heran karena kepergian Melinda bisa membuat Theo sehancur itu. Padahal, ketika Theo harus putus dari tunangannya, lelaki itu masih bisa tetap tegar, tidak seperti sekarang ini.
"Kalian benar-benar bodoh! Bagaimana bisa kalian tidak menemukan Melinda?" Suara Theo menggelegar. Memenuhi ruangan itu. Namun, lelaki itu langsung menghempaskan tubuhnya dengan penuh rasa kesal. Ia menghirup napas dalam dan mengembuskan dengan kencang. Seberapa pun ia marah dan mengamuk hal itu tidak akan membuat Melinda bisa ditemukan.
"Kami akan berusaha lagi, Tuan. Kami akan mencari Nona Melinda sampai ketemu."
"Pergilah dari sini! Aku tidak ingin diganggu!" perintah Theo.
Amarah Theo hampir kembali meluap. Namun, sebisa mungkin ia menahan diri agar tidak membentak papanya sendiri. Sementara itu, Wijaya menatap putranya dengan miris. Keadaan Theo sungguh membuatnya prihatin. Theo terlihat sangat berantakan. Berbanding terbalik dengan keadaan lelaki itu sebelumnya. Bahkan, sorot mata Theo yang biasanya terlihat tegas dan menantang kini tampak sayu.
"Untuk apa Papa datang ke sini? Kalau hanya untuk mengajak berdebat, lebih baik pergi saja, Pa." Theo berbicara lirih dan penuh penekanan. Ia pun sama sekali tidak berani menatap sang papa.
"Papa hanya kasihan melihat keadaanmu. Papa tidak menyangka jika seorang pelacur saja bisa membuat hidupmu sangat berantakan seperti ini," kata Wijaya dibarengi senyuman sinis.
"Diamlah, Pa. Jangan pernah datang ke sini jika hanya untuk meledek ataupun menghina Melinda. Aku tidak butuh itu!" timpal Theo ketus.
Wijaya bertepuk tangan. "Wah, wah. Kau hebat sekali. Apa kau butuh bantuan papa untuk menemukan wanita murahan itu?" tanya Wijaya masih terus memanasi hati Theo.
__ADS_1
"Tidak!" Theo memilih bangkit dan pergi dari rumah itu. Baginya, lebih baik pergi daripada harus kembali berdebat dengan sang papa.
Theo melajukan mobilnya tanpa arah dan tujuan. Menyusuri setiap jalan sambil terus melihat kanan-kiri. Berharap Melinda ada di sekitarnya. Namun, Theo seolah kembali dibuat menyerah oleh keadaan, ia tidak bisa menemukan keberadaan Melinda sama sekali.
Ketika malam hampir larut, Theo berniat untuk kembali pulang. Namun, saat dalam perjalanan, keningnya mengerut dalam ketika melihat seorang wanita yang sedang menggandeng anak lelaki. Postur tubuhnya hampir sama persis seperti Melinda.
Dengan gegas, Theo menghentikan mobilnya dan mengejar wanita itu. Berharap bahwa penglihatannya tidaklah salah. Bahkan, saking tidak sabarnya Theo sampai memeluk wanita itu dari belakang. Tidak peduli meskipun wanita itu meronta dengan kuat.
"Biarkan aku memelukmu sebentar saja. Aku merindukanmu." Theo berbicara sambil memejamkan mata.
"Apa kau mabuk, Tuan. Kita bahkan tidak saling mengenal."
Theo langsung membuka mata dan melepaskan pelukan itu dengan segera saat mendengar suara wanita tersebut. Bukan suara Melinda. Ketika wanita itu berbalik, Theo tercengang saat benar kenyataan bahwa wanita itu memang bukanlah wanita yang ia cari.
"Maafkan saya, Nona. Saya salah orang." Theo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa malu dan salah tingkah sendiri.
"Dasar pria tidak tahu diri!" omelnya sambil pergi meninggalkan Theo. Umpatan wanita itu pun masih terdengar meski mereka sudah berjarak cukup jauh.
"Ya Tuhan, kenapa aku bisa salah orang seperti ini." Theo mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Lalu masuk kembali ke mobil. Di seberang jalan, ia melihat lagi wanita yang menggandeng seorang anak lelaki. Namun, Theo tidak peduli dan lebih memilih untuk pergi dari sana. Tidak ingin jika ia salah orang sampai dua kali.
"Tuan, sepertinya Tuan Theo memang jatuh cinta pada wanita itu," kata sopir pribadi Wijaya. Tanpa sepengetahuan Theo, Wijaya sejak tadi mengikuti putranya.
"Lebih baik sekarang kita pulang saja, Zul sudah di rumah dan sepertinya ia membawa informasi penting tentang wanita itu."
__ADS_1
"Baik, Tuan."