Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam

Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam
TMKKM-29


__ADS_3

Fatih tersenyum senang karena bisa menemukan Melinda. Tidak menyangka jika hal ini akan semudah itu dilakukan. Belum juga Melinda membuka suara lagi, Fatih sudah mendekat dan merem*s dagu wanita itu dengan sangat kuat.


"Lepasin aku, Mas." Melinda merintih sambil berusaha melepaskan tangan Fatih. Rasanya sangat sakit dan tulangnya seperti hendak remuk karena remasan itu. Namun, bukanny melepaskan, Fatih justru makin mengencangkan tangannya tidak peduli meskipun Melinda sudah meringis kesakitan dan terus memohon ampun. 


"Lepaskan ibu, Pak! Jangan sakiti ibu!" Atha yang melihat itu pun langsung memukul Fatih dan meminta agar lelaki itu melepaskan Melinda. Tidak mau jika ada orang yang menyakiti ibunya. 


"Kau jangan ikut campur anak kecil!" bentak Fatih sangat keras. Membuat tubuh Atha gemetar saat itu juga. 


Melihat putranya yang ketakutan, Melinda langsung mengerahkan segala tenaga yang ia punya lalu mendorong lelaki itu dengan cukup kuat. Fatih bahkan sampai mundur beberapa langkah karena dorongan dari Melinda. Hal itu membuat Fatih kembali meradang dan mendelik tajam ke arah Melinda. Tatapannya sangat menyeramkan membuat Melinda langsung menarik Atha dan memintanya agar berdiri di belakang. Melinda tidak ingin jika sampai Fatih menyakiti putranya. 


"Mas, aku mohon jangan sakiti Atha." Melinda cemas. Merasa sudah paham jika Fatih sedang sangat emosi maka lelaki itu bisa saja kehilangan kendali. 


"Aku tidak akan menyakiti dia asalkan kau menurut padaku dan ikut pulang bersamaku!" suruh Fatih. Tanpa menyurutkan tatapannya. 


"Mas ...." 


Belum juga Melinda memberi jawaban, Fatih sudah menarik tangan wanita itu dan memaksa agar segera naik ke motor. Setelah Melinda sudah naik, Fatih langsung melajukan motornya kembali ke rumah. 


"Arghh, sakit." Melinda meringis ketika baru sampai rumah, Fatih sudah mendorongnya sangat kencang hingga menubruk tembok. Sementara Atha langsung berlari mendekati sang ibu. 


"Wah, kau berhasil menemukan wanita sialan ini," ujar Dewi. Raut wajahnya tampak semringah bahkan tubuhnya yang sejak kemarin sakit-sakitan pun kini langsung terasa bugar lagi. 


"Iya, Bu. Bawa Atha pergi dulu. Aku akan memberi pelajaran untuk wanita ini." Fatih memberi perintah. 


Melinda dengan gegas menggenggam kuat tangan Atha. Tidak mau jika Dewi membawa anak tersebut pergi. Namun, sekeras apa pun usaha yang dilakukan oleh Melinda, ia tetap kalah tenaga karena Fatih membantu melepaskan Atha. 

__ADS_1


"Aku mohon, jangan sakiti Atha, Mas." Melinda menangis. Merasa sangat cemas dengan anaknya. 


"Aku tidak akan menyakiti Atha, tapi aku justru akan memberi hukuman untukmu. Seharusnya kau mencemaskan dirimu sendiri." Fatih tersenyum sinis sambil mengusap dagu Melinda. 


Wanita itu hanya bisa memejamkan mata karena tidak ingin bertatapan dengan Fatih. Tanpa terasa cairan bening sudah keluar dari sudut matanya. Melinda pun meringis kembali saat Fatih sudah menghempaskan dagunya cukup kencang. 


"Wanita sialan!" umpat Fatih sangat geram. "Sebelum aku melenyapkanmu. Sepertinya aku bisa memanfaatkan dirimu." 


Melinda sontak membuka mata ketika Fatih sudah menarik tangannya sangat kencang. Ia meronta. Berusaha melepaskan diri saat Fatih sudah menariknya keluar dari rumah. Namun, Fatih seolah menulikan telinga dan tanpa peduli pada permohonan Melinda sama sekali. 


"Kau mau bawa aku ke mana, Mas?" tanya Melinda mendadak cemas. Fatih masih belum menjawab. 


Sampai akhirnya, Melinda sampai di tempat perjudian. Tubuh wanita itu pun langsung beringsut takut ketika menyadari tatapan para pria di sana mengarah padanya. 


"Untuk apa kau datang ke sini?" tanya pemilik tempat perjudian itu. 


"Cih! Kau berjudi membawa seorang wanita? Memangnya apa yang akan kau taruhkan?" tanya pria itu menantang. 


Fatih mendorong Melinda sampai jatuh bersimpuh di antara pria-pria di sana. Hati Melinda pun kian merasa cemas dan tidak nyaman karenanya.


"Aku akan mempertaruhkan wanita ini. Jika aku kalah, kalian boleh menggunakan wanita ini sepuasnya. Beramai-ramai pun tak apa," kata Fatih. Semua yang mendengar itu pun menjadi tercengang. 


"Mas! Kau gila!" umpat Melinda geram. Tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Fatih. 


Tubuh Melinda mendadak membeku ketika Fatih sudah berbisik di telinga. "Diamlah. Nikmati saja waktumu. Anggap saja ini percintaanmu yang terakhir karena setelah ini aku akan membuatmu lenyap dari muka bumi ini." 

__ADS_1


"A-apa yang akan kau lakukan padaku, Mas?" tanya Melinda cemas. 


Fatih tidak menyahut. Memilih untuk segera bermain bersama mereka. Tidak mau menunda lagi karena Fatih rasanya tidak sabar melihat Melinda yang menderita. Ia ingin membalas semua rasa sakit yang sudah ditorehkan oleh wanita tersebut padahal sebenarnya dirinya lebih banyak menyakiti Melinda. 


****


"Tuan, lelaki itu mengirim pesan bahwa ia sudah bisa menemukan wanita itu. Tapi sekarang mereka sedang berada di tempat perjudian dan lelaki itu menjadikan Nona Melinda sebagai bahan taruhan," ucap Zul setelah membaca pesan yang dikirim oleh Fatih. 


Wijaya menarik sebelah sudut bibirnya. "Kejam juga ternyata lelaki itu. Kalau begini kita tidak perlu repot-repot menyingkirkan wanita itu. Bilang saja padanya kalau aku akan menambah uang jika dia berhasil melenyapkan wanita murahan itu." 


Zul terdiam sesaat. Menatap tuannya dengan sangat lekat. Dalam hati Zul, ada sebersit rasa tidak tega apalagi setelah ia mendapati fakta tentang Melinda. Entah mengapa, Zul merasa yakin kalau Melinda bukanlah wanita seburuk yang orang lain kira. Selain itu, ia sepertinya paham kenapa Theo sangat tergila-gila pada wanita itu. 


"Zul! Kenapa kau melamun?" sentak Wijaya. 


Zul tergagap lalu menatap tuannya dengan gugup. "Maafkan saya, Tuan. Saya akan melakukan apa yang Anda perintahkan." Zul sedikit membungkuk hormat lalu berpamitan pergi dari sana. 


Selepas kepergian Zul, Wijaya segera bangkit dan berdiri di dekat jendela. Menatap kendaraan yang berlalu lalang dari ruangan yang berada di lantai atas sana. Senyuman sinis terlihat dari sudut bibir lelaki itu. Merasa puas karena Fatih bisa menemukan Melinda. Setidaknya, setelah ini hatinya akan merasa tenang karena Theo tidak akan mungkin bisa menemukan Melinda lagi. 


Apa pun akan Wijaya lakukan untuk memisahkan Theo dengan Melinda. Ia tidak ingin jika ada wanita kotor dan murahan masuk ke keluarganya apalagi menikah dengan putranya. Baginya, Theo harus bisa mendapatkan wanita yang sepadan dan pantas untuk bersanding. 


"Walaupun harus membunuh wanita itu, akan aku lakukan asal dia tidak lagi menggoda putraku," gumam Wijaya. Tangannya terkepal erat dan tidak sabar ingin menghabisi Melinda. Ia pun mengambil ponsel dan segera menekan nomor Zul. 


"Ada apa lagi, Tuan?" tanya Zul berusaha menahan kekesalan karena baru saja sampai di lantai bawah. 


"Katakan padanya kalau aku akan melihat wanita murahan itu sebelum dia melenyapkannya." 

__ADS_1


"Memangnya apa yang akan Anda lakukan, Tuan?" tanya Zul tidak sabar sendiri. 


"Kau tidak perlu tahu. Yang penting aku harus bertemu dengannya setelah ini." 


__ADS_2