Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam

Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam
TMKKM-39


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya, Dok? Apa ada cidera serius?" tanya Theo dengan cemasnya ketika dokter sedang memeriksa Melinda.


Dokter itu tersenyum simpul saat mendengarnya. "Tenang saja, Tuan. Nona Melinda tidak apa-apa. Tidak ada cidera serius juga."


Seketika Theo mengembuskan napas lega. Mengucapkan terima kasih setelah dokter itu selesai memeriksa dan langsung pergi dari ruangan tersebut. Ketika hanya tinggal mereka berdua di dalam sana, Theo langsung menggenggam  tangan Melinda dengan erat dan tak lupa mendaratkan ciuman di kening wanita tersebut.


Apa yang dilakukan oleh Theo pun membuat Melinda tersenyum senang. Merasa dicintai oleh lelaki itu.


"Aku sudah teledor tadi. Syukurlah kau tidak apa-apa," kata Theo lembut.


"Aku baik-baik saja. Kau tenang saja. Aku ini bukan wanita selemah yang kau kira. Hanya pukulan seperti tadi itu sangat kecil untukku karena aku sering mendapatkan lebih dari itu dulu," ujar Melinda mengulas senyum.


Theo mencubit hidung wanita itu dengan gemas. "Kau ini angkuh sekali. Tapi kau memang hebat. Itulah kenapa aku merasa bersyukur mendapatkan wanita yang sehebat dirimu."


Kedua orang itu sama-sama dimabuk cinta. Theo mengajak Melinda pulang untuk beristirahat di rumah. Sudah cukup mereka pergi seharian ini.


***


Empat bulan kemudian.


Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa waktu yang sudah mereka tentukan untuk melangsungkan pernikahan pun tiba. Acara itu tidak digelar mewah. Hanya kerabat keluarga saja yang diundang. Bukan tanpa alasan, Theo hanya menuruti keinginan Melinda yang tidak ingin ada pesta pernikahan yang megah. Melinda merasa malu jika ia menjadi sorotan dan akan ada orang jahat yang menjatuhkan dirinya. Walaupun Theo sudah menutup semua informasi tentang masa lalu Melinda, tetap saja Melinda merasa tidak tenang karena tidak semua orang baik kepada kita. 


"Bagaimana saksi? Sah?"


"Sah!"


"Alhamdulillah."


Wajah kedua mempelai tersebut dipenuhi dengan senyuman kebahagiaan. Mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri yang saling mengasihi. Acara dilanjut dengan resepsi kecil-kecilan dan pesta sampai malam menjelang.

__ADS_1


"Kita istirahat sekarang," ajak Theo. Menggandeng tangan Melinda sampai masuk kamar.


Ketika pintu terbuka, Melinda membulatkan mata penuh. Terkesima dengan pemandangan kamar yang sudah dihias sedemikian rupa. Sangat cantik menurut Melinda.


"Mas, kapan kau menghias kamar ini? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Melinda menatap Theo dengan tidak percaya.


"Ini kejutan. Jadi, kau tidak perlu tahu." Theo masuk dan menutup pintu kamar.


Kamar yang sudah dipenuhi oleh taburan Bungan mawar juga lilin kecil membuat Melinda merasa betah. Apalagi hiasan burung angsa di atas ranjang. Ini terlalu manis bagi wanita itu hingga senyuman tidak pernah luntur dari kedua sudut bibirnya.


Melihat rona bahagia yang terlihat jelas di wajah Melinda, membuat Theo ikut merasa bahagia. Baginya sekarang, kebahagian Melinda adalah hal yang utama.


Sama seperti biasa, ritual pengantin baru adalah malam pertama. Walaupun ini bukan yang pertama bagi mereka, tetapi Theo ingin membuat sebuah kenangan yang berkesan.


"Apa kau sudah siap?" tanya Theo dengan lembut. Menyingkirkan anak rambut dari kening Melinda lalu menciumnya penuh cinta.


Belum selesai Melinda berbicara, Theo sudah meraup bibir wanita tersebut. Menciumnya dengan penuh cinta. Menyentuh dengan penuh kelembutan sampai akhirnya kedua orang itu pun saling berbagi peluh. Beradu kenikmatan sebagai pasangan halal.


***


"Aku berangkat dulu. Kau di rumah saja." Theo mencium kening Melinda dan bersiap untuk berangkat ke kantor.


"Hati-hati di jalan, Mas." Melinda pun menyalami tangan Theo dan mengantarnya sampai pintu depan.


Namun, saat baru keluar dari pintu utama, langkah Theo tertahan ketika melihat mobil sang papa berhenti tepat di depan mobilnya. Theo hanya diam menunggu sang papa keluar dari mobil tersebut.


"Ma-ma," gumam Theo lirih. Terkejut ketika melihat wanita yang tidak asing keluar dari mobil sang papa. Bahkan, bola mata Theo berkaca-kaca karena sudah sangat merindukan wanita itu. Tanpa dikomando, Theo langsung berlari kencang dan memeluk wanita itu sangat erat. Sementara Melinda hanya berdiri di ambang pintu dengan perasaan gelisah dan canggung.


"Ya Tuhan, Ma. Aku sangat kangen Mama. Kenapa Mama tidak pernah pulang," kata Theo dengan suara parau karena menahan tangis. Rasa rindu yang menggebu akhirnya kini bisa terobati.

__ADS_1


"Maafkan mama, Sayang." Wanita itu membalas pelukan sang putra dan tak lupa mencium pipinya berkali-kali. Ia pun sama rindunya.


Setelah cukup lama saling berpelukan, Theo melerai pelukan tersebut. Lalu menatap sang papa dengan penuh tanya. "Pa ...."


Wijaya berdeham keras. "Ya. Papa sudah berlapang dada. Berbaikan dengan mama dan semoga kita bisa hidup bahagia selamanya. Sampai maut memisahkan." 


Ucapan Wijaya, membuat mereka semua tersenyum bahagia. Walapun masih ada perasaan canggung, tetapi Melinda tetap menyalami mamanya Theo, memperkenalkan diri dan juga memeluk  wanita itu. 


"Jadi, ini wanita malam yang kau nikahi? Cantik juga." Liana—mamanya Theo bertanya hal yang membuat perasaan Melinda mendadak tidak nyaman. Wanita itu tidak menjawab sama sekali, sedangkan Theo langsung mengembuskan napas lega.


"Pasti papa yang sudah cerita semuanya. Ma, kalau memang Mama datang untuk menghina istriku maka pulanglah. Seperti apa pun dia, aku mencintainya, Ma." Theo berbicara tegas. Bukannya tersinggung, Liana justru tersenyum semringah. 


"Tentu saja Mama setuju, Sayang. Mama hanya ingin menguji seberapa sayang kau padanya. Ahh ...  rupanya tidak diragukan lagi. Kau memang sangat sayang pada istrimu. Selamat, Sayang." Liana memeluk Melinda lagi. Namun, ada perasaan gelisah yang dirasakan oleh wanita itu. 


Theo pun diam. Tidak lagi berbicara. Ia bahkan urung bekerja karena khawatir sang mama akan melukai hati istrinya. 


***


Dua bulan Theo dan Melinda menjalin hubungan sebagai sepasang suami-istri. Melinda yang awalnya merasa takut dengan Liana, kini justru berteman baik dengan wanita itu. Bahkan, kedua perempuan tersebut seperti seorang teman, bukan lagi menantu-mertua. Theo pun merasa senang karenanya. 


"Kau kenapa, Sayang?" tanya Liana cemas. 


Saat ini mereka sedang berbelanja di sebuah mall. Namun, Melinda sangatlah lemas seperti orang yang tidak bertenaga. 


"Entahlah, Ma. Kepalaku pusing. Mungkin aku kebanyakan pikiran karena akhir-akhir ini sangat merindukan Atha." Melinda menjawab lesu. Tatapan matanya terlihat begitu sayu. Memang, sudah seminggu ini Melinda selalu memimpikan Atha. 


"Mungkin kau sudah lama tidak menjenguknya. Bagaimana kalau pulang dari sini kita langsung ke makam Atha," ajak Liana. Tentu saja, Melinda langsung menyanggupi ajakan wanita tersebut.


Maafkan ibu, Sayang. Akhir-akhir ini ibu jarang sekali menjengukmu. Tapi percayalah kalau kau akan tetap tinggal di hati ibu selamanya. 

__ADS_1


__ADS_2