
Suasana hening dalam waktu yang lama. Melinda berusaha mengumpulkan keberanian untuk menimpali ucapan Wijaya.
"Tuan, maafkan saya. Izinkan saya berbicara sebelum saya pergi dari sini." Melinda meminta izin dengan lembut. Tidak peduli meski Wijaya sudah memasang wajah tidak bersahabat padanya. "Tuan, saya tahu kalau saya ini adalah wanita yang kotor dan hina. Maafkan saya karena sudah membuat hubungan Anda dan Tuan Theo menjadi tidak baik. Setelah ini, saya akan pergi jauh dari kalian dan saya harap kalian bisa berbaikan dan berhubungan baik sebagaimana ayah dan anak. Seperti sebelum Tuan Theo mengenal saya."
Melinda menjeda ucapannya, sedangkan Wijaya hanya diam mendengarkan dengan seksama. Melinda menunduk. Merem*s ujung baju yang dikenakan. Ada rasa takut yang dirasakan, tetapi ia berusaha mengubur ketakutan itu.
"Tuan, asal Anda tahu. Tidak ada manusia yang ingin menjadi wanita kotor dan hina seperti saya dengan sukarela. Anda mungkin bisa hidup mewah dan bergelimang harta, tapi bagaimana jika Anda berada di posisi saya." Melinda mengigit bibirnya yang bergetar karena air matanya hampir tumpah. "Anda tahu, dulu saya hanyalah gadis yatim piatu yang dipungut oleh Mas Fatih. Sampai akhirnya kami menikah dan bisa hidup bahagia. Tapi semua tidak berlangsung lama karena putraku mengidap penyakit leukimia yang tidak membutuhkan biaya sedikit. Sementara Mas Fatih gemar berjudi dan ibu mertuaku adalah wanita paling julid di muka bumi ini."
"Apa pedulinya aku untuk hal itu? Jangan mengarang cerita yang membuatku iba. Aku tidak akan tersentuh dengan ceritamu itu!" Wijaya menimpali dengan cepat. Namun, ucapan itu tidak membuat Melinda gentar.
"Saya akan mengatakan semua uneg-uneg yang saya rasakan. Saya pikir setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi, Tuan. Salah satu alasan saya untuk tetap hidup adalah Atha. Bahkan, saya rela melayani pria hidung belang demi kesembuhan Atha. Sekarang, Tuhan sudah mengambilnya dari saya. Lalu untuk apa saya tetap bertahan di dunia ini." Melinda memejamkan mata lalu mengusap wajahnya dengan segera. Ia boleh menangis, tetapi bukan di depan orang lain. Apalagi di depan orang yang membenci dirinya.
Wijaya terpaku. Mendengar cerita Melinda membuat hatinya perlahan luluh dan merasa iba terhadap wanita itu. Meskipun ia masih berusah menangkis perasaan itu dan menganggap Melinda hanyalah bersandiwara untuk menarik simpatinya.
"Tuan, semoga Anda lekas sembuh dan hubungan Anda dengan Tuan Theo membaik. Terima kasih karena sudah bersabar selama ini. Maaf kalau saya sudah membuat keributan. Sekarang, saya pamit. Nanti saya akan bilang kepada pelayan untuk menjaga Anda di sini. Permisi, Tuan." Melinda membungkuk hormat lalu berjalan pergi dari sana. Beberapa kali ia menoleh dan melihat Wijaya yang sedang menatap ke arahnya.
Ia yakin, Theo tidak akan menerima ini. Namun, ia harus melakukan itu karena tidak ingin menghancurkan kehidupan orang lain. Biarlah hidupnya yang hancur tidak apa.
__ADS_1
Akan tetapi, saat baru saja memegang handle pintu, Melinda terdiam ketika Wijaya memanggilnya. Meminta untuk jangan keluar dari ruangan tersebut. Melinda pun berbalik dan saling tatap dengan Wijaya.
"Apa lagi, Tuan?" tanya Melinda karena cukup lama menunggu, Wijaya hanya diam saja.
"Em, temani aku sampai Theo atau Zul kembali ke sini. Barulah kau boleh pergi."
Melinda terkejut mendengar permintaan Wijaya. Ingin sekali menolak, tetapi ia merasa tidak enak hati. Dengan terpaksa Melinda pun berjalan mendekati brankar lagi dan duduk di samping Wijaya. Suasana yang canggung itu membuat Melinda merasa tidak nyaman.
***
Theo tidak sabar ingin segera ke rumah sakit setelah Zul mengatakan bahwa Wijaya sudah sadar. Bukan karena ingin melihat keadaan sang papa, tetapi Theo merasa cemas jika Wijaya akan melukai hati Melinda. Ia tidak ingin jika hal itu terjadi.
Setibanya di rumah sakit, Theo terkejut melihat Melinda yang ketiduran di tepi brankar, sedangkan Wijaya baru saja terbangun saat mendengar bunyi pintu dibuka. Bukannya bertanya keadaan sang papa, Theo justru membopong Melinda hendak memindahkan ke sofa. Namun, hal itu membuat Melinda terkejut dan langsung membuka mata.
"Tuan." Melinda meminta turun dengan segera. Kepalanya mendadak pusing karena baru saja terlelap dan langsung terbangun dengan paksa.
"Maaf, aku hanya ingin memindahkanmu. Kau masih mengantuk? Bagaimana kalau kita pulang dan kau bisa beristirahat di rumah. Maafkan aku karena sudah merepotkanmu." Theo berbicara panjang lebar, sedangkan Melinda hanya menghela napas panjang.
__ADS_1
"Tidak, Tuan."
"Theo!" panggil Wijaya mengalihkan pembicaraan mereka. Theo dan Melinda pun menoleh bersamaan. "Kau masuk langsung mengurus wanita itu tanpa bertanya keadaan papa. Anak macam apa dirimu itu!"
"Maaf. Aku sudah tahu keadaanmu. Bahkan aku sudah menyuruh dokter paling profesional di sini untuk merawatmu. Kau tenang saja. Semua biaya aku yang akan menanggung sebagai wujud terima kasih karena kau sudah membesarkanku selama ini." Nada bicara Theo masih terdengar dingin. Melinda pun ingin memarahi, tetapi ia khawatir keadaan akan makin runyam jika ia buka suara.
"Theo, papa tidak menyangka kalau kau akan bersikap seperti ini kepada papa. Apa semua karena wanita murah ...."
"Berhentilah menghina Melinda. Asal kau tahu, kita di sini sama-sama manusia yang penuh dosa. Tidak ada hak untuk memberi penilaian dan saling menghina manusia lain. Sebagai wanita malam itu hanyalah masa lalu dan itu bukanlah hal yang mesti dijadikan masalah besar. Kau tahu, tidak semua pendosa itu pasti masuk neraka begitu juga sebaliknya karena semua manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri." Theo tersenyum sinis ketika melihat Wijaya yang hanya diam menatapnya.
"Tuan, sudah. Saya akan pergi dari sini daripada harus membuat kalian selalu bertengkar." Melinda jengah sendiri menghadapi pertengkaran mereka yang seperti tidak berujung.
"Aku tidak mau kau pergi dariku!" bantah Theo dengan cepat.
"Tuan Wijaya, Tuan Theo. Begini saja, saya akan memberi saran pada kalian. Bagaimana kalau selama satu atau dua bulan ini Nona Melinda merawat Tuan Wijaya sampai keadaan benar-benar pulih. Selain Tuan Theo bisa tenang karena ada yang menjaga papanya, Tuan Wijaya juga bisa melihat bagaimana sebenarnya Nona Melinda. Saya yakin kalau Nona Melinda bukanlah wanita bermuka dua yang pandai berpura-pura." Zul yang juga merasa gemas pun akhirnya memberi ide.
Suasana di kamar mendadak hening karena mereka berperang dengan pikiran masing-masing. Sama-sama bimbang saat hendak mengambil keputusan apa yang akan diambil.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Zul menyadarkan mereka. "Tuan Wijaya, Anda yang lebih berhak memberi keputusan karena Anda merupakan orang yang paling memiliki kuasa di sini."
Wijaya tidak langsung menjawab. Ia menatap ketiga orang itu secara bergantian. "Aku tidak setuju!"