Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam

Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam
TMKKM 06


__ADS_3

"Kau boleh bekerja sebagai wanita malam," ujar Fatih. 


Kening Melinda mengerut dalam. Tidak percaya atas apa yang diucapkan suaminya. Semalam lelaki tersebut memarahi habis-habisan bahkan sampai menampar, tetapi sekarang justru memberi izin untuk tetap berkerja sebagai wanita malam. Melinda pun mendadak curiga karenanya. 


"Kenapa kau berubah pikiran, Mas? Bukankah semalam kau sudah melarang bahkan sampai menamparku?" tanya Melinda heran. 


"Setelah kupikir semalaman. Sepertinya aku begitu keterlaluan padamu. Seharusnya aku bersyukur karena dengan pekerjaanmu ini, kita bisa mengobati Atha apalagi ...." Fatih menghentikan ucapannya sesaat. "Sekarang aku sudah dipecat." 


"Apa? Kau dipecat, Mas? Bagaimana bisa?" Melinda menatap suaminya dengan tidak percaya. Fatih pun duduk bersandar dan menghela napas panjang berkali-kali. Terlihat seperti orang yang sedang frustrasi. 


"Entah apa kesalahanku. Tadi pagi bos telepon dan mengatakan kalau aku dipecat. Aku pengangguran sekarang." Fatih terlihat frustasi. Melinda pun yang awalnya sangat membenci lelaki tersebut kini mulai merasa tidak tega. Bagaimanapun juga mereka adalah suami-istri yang harus saling merangkul di saat sedang terpuruk. 


"Tapi, Mas. Sebenarnya aku ingin berhenti dari pekerjaan ini. Mencari pekerjaan yang halal. Terlebih lagi, dengan kejadian kemarin, aku tidak yakin kalau Tante Sisca ...." 


"Aku akan bilang pada Tante Sisca itu dan meminta maaf atas kejadian kemarin. Selain itu, kau bisa berhenti sebagai pelacur kalau aku sudah mendapatkan pekerjaan yang layak dan cukup untuk biaya pengobatan Atha. Bagaimana, Mel? Aku mohon sekali padamu." Fatih memasang wajah memelas. Membuat Melinda makin merasa tidak tega. Dengan berat hati, Melinda mengangguk mengiyakan.


Ketika malam hampir tiba, Melinda pun bersiap untuk tetap bekerja di tempat Tante Sisca. Untuk malam ini ia akan diantar oleh Fatih. Hal itu tentu saja membuat  teman-teman Melinda juga Tante Sisca merasa heran. Apalagi saat Fatih menemui Tante Sisca dan meminta agar Melinda tetap diperbolehkan bekerja di tempat tersebut. 


Setelah melewati perbicangan yang panjang, Tante Sisca pun memberi izin kepada Melinda untuk tetap bekerja di sana dengan syarat Fatih tidak membuat masalah seperti kemarin. Jujur, Tante Sisca masih kesal perihal kemarin yang membuat tamunya merasa tidak nyaman dan langsung berpamitan tanpa membayar sepeser pun. 


"Bekerjalah dengan baik. Kalau kau sudah pulang dan tidak ada taksi. Telepon aku saja. Aku akan langsung menjemputmu," kata Fatih lembut. 


Melinda hanya tersenyum simpul walaupun hatinya gelisah. Masih heran dengan perlakuan Fatih yang mendadak manis. Sangat berbeda dengan kemarin. Sebelum Fatih mengetahui kalau ia bekerja sebagai wanita malam, hati Melinda justru merasa sedikit tenang. Namun, kini ketika Fatih memberi izin padanya untuk tetap menjadi wanita malam, Melinda justru merasakan kegelisahan yang teramat besar. Merasa heran karena seorang suami yang memberi izin kepada istrinya untuk menjadi wanita malam. 

__ADS_1


"Hah! Kenapa aku berpikir sejauh itu? Kenapa juga aku harus segelisah ini? Ingat, Mel. Kau bekerja demi Atha. Kau harus semangat agar putramu segera sembuh." Melinda menguatkan dirinya sendiri. Ia bergegas ke kamar untuk berdandan dan memakai baju yang seksi.


Sementara itu di rumah Fatih. 


"Fatih, bagaimana? Apa Melinda bersedia untuk tetap bekerja sebagai wanita malam?" tanya Dewi tidak sabar ketika Fatih baru sampai rumah. 


Fatih mengangguk cepat. "Tentu saja, Bu. Aku bilang padanya kalau aku ini sudah dipecat. Jadi, butuh dia agar tetap bekerja." 


"Kau sangat pintar. Kalau begitu, kita tinggal duduk santai dan menunggu dia pulang lalu meminta jatah padanya. Lumayan 'kan? Fatih, kau juga bisa mengompori dia supaya meladeni lebih banyak lelaki hidung belang dalam semalam supaya uang yang didapat lebih banyak lagi," cetus Dewi. 


"Pasti, Bu. Kalau begitu aku mau tidur dulu. Bangunkan aku kalau Melinda pulang, Bu." Fatih bangkit dan bergegas ke kamar untuk tidur. Dewi pun mengiyakan. 


***


"Kau di sini, Mas?" tanya Melinda heran ketika melihat Fatih sedang duduk di motor tepat di depan tempat prostitusi tersebut. 


"Ya. Aku menjemputmu. Lebih baik sekarang kita pulang. Aku yakin kau sangat lelah," suruh Fatih. 


Melinda tertegun sesaat. Ini sungguh tidak seperti suaminya yang biasa. Sikap Fatih yang begitu lembut justru menciptakan rasa tidak nyaman di hati Melinda. Namun, sebisa mungkin Melinda menepis perasaan tersebut. Memilih untuk naik ke motor suaminya dan berpegangan erat. 


Setibanya di rumah, Melinda langsung masuk kamar. Ia menatap putranya yang sudah terlelap tidur. Sebuah kecupan pun mendarat di kening Atha tanpa membangunkan anak tersebut. Setelahnya, Melinda berganti piyama  dan bersiap untuk tidur. 


Akan tetapi, Melinda terkejut ketika Fatih sudah mencekal tangannya. Menahan Melinda yang hendak tidur. Bahkan, Melinda bisa merasakan tatapan Fatih yang menajam. Tidak selembut tadi. 

__ADS_1


"Beri aku uang! Aku yakin kau sudah dapat uang 'kan?" perintah Fatih sembari mencengkeram lengan Melinda cukup kuat. 


"Mas, lepaskan. Ini sakit." Melinda meringis kesakitan. Apalagi cengkeraman itu kian terasa kuat. Namun, Fatih tidak peduli meski Melinda sudah memohon. "Mas, kenapa kau tadi sangat baik dan sekarang ...." 


"Berikan uangmu padaku! Bukankah aku sudah mengantar jemput dirimu? Anggap saja itu adalah bayaran untukku!" ujar Fatih membentak. 


"Mas, apa maksudmu?" Bola mata Melinda terlihat berkaca-kaca. Bahkan, bulir bening itu seolah memaksa keluar meskipun Melinda sudah sekuat tenaga menahan. 


Fatih geram. Menghempaskan lengan Melinda dengan kasar lalu mengambil tas wanita tersebut. Fatih melihat ada sepuluh lembar uang seratus ribuan. Ia mengambil semuanya dan tidak peduli pada Melinda yang sudah memohon untuk tidak melakukan  itu. 


"Kuberi kau dua ratus!" Fatih melemparkan uang dua ratus ribu ke wajah Melinda. 


"Tapi, Mas. Uang itu untuk berobat Atha minggu depan. Aku mohon jangan ambil semua." Melinda menahan lengan Fatih. 


"Halah! Setiap malam kau masih bisa mencarinya! Makanya kau harus melayani lelaki hidung belang lebih banyak lagi agar uang yang kau dapat lebih dari ini!" Fatih mendorong tubuh Melinda hingga wanita itu tersungkur di lantai. 


"Mas, kenapa kau melakukan ini padaku? Bukankah aku istrimu?" Air mata Melinda membanjir. Namun, itu tidak sekalipun menarik simpati Fatih. 


"Kau ini wanita kotor. Aku tidak sudi menyentuhmu. Jadi, lebih baik aku manfaatkan kau sebagai penghasil uang. Haha. Tubuhmu sudah terlanjur kotor, jadi jangan sok suci. Cih!" Fatih kembali meludah di samping Melinda lalu pergi meninggalkan wanita itu begitu saja. 


Melinda duduk meringkuk. Memeluk lututnya dengan erat dan menangis di sana. Ia sengaja meredam tangisnya agar Atha tidak terbangun. 


Kenapa kau jahat sekali padaku, Mas? Padahal aku adalah istrimu. 

__ADS_1


__ADS_2