
"Melinda, kenapa kau diam saja?" Wijaya menatap Melinda penuh harap. Menunggu jawaban wanita tersebut.
Jujur, ada keraguan yang dirasakan oleh Melinda. Belum sepenuhnya percaya pada permintaan lelaki itu menilik bagaimana selama ini sikap Wijaya padanya. Namun, jika melihat sorot mata Wijaya, lelaki itu terlihat penuh dengan kesungguhan.
"Kalau memang kau ragu, jangan dijawab. Jawablah sampai kau merasa yakin. Tapi kuharap jangan terlalu lama."
"Kalian di sini."
Di saat pembicaraan masih serius, Theo justru datang hingga mengejutkan mereka berdua. Keduanya saling menutup rapat mulutnya sambil menatap Theo yang sedang berjalan mendekat.
"Aku mencarimu kemana-mana. Apakah dia menyakiti hatimu?" tanya Theo dengan cemasnya hingga membuat Wijaya merasa iri. Melihat betapa pedulinya sang putra terhadap Melinda. Apalagi yang pertama ditanya adalah Melinda, bukan kesehatan dirinya. Seolah memberi penegasan sepenting apa Melinda di hati Theo.
"Tidak. Kalau begitu kita pulang sekarang saja. Tuan Wijaya sudah pergi terlalu lama." Melinda hendak mendorong kursi roda, tetapi Wijaya langsung menahan. Membuat Melinda bergeming dalam waktu yang lama.
"Aku belum ingin pergi dari sini." Wijaya berbicara lirih, tetapi penuh ketegasan.
"Kenapa? Bukan hanya papa yang butuh istirahat. Melinda juga." Theo mulai gemas kepada sang papa. Walaupun ia sudah berusaha bersikap biasa, tetapi sikapnya terkadang masih ketus kepada lelaki itu.
"Papa belum akan pergi dari sini jika Melinda belum menjawab pertanyaan papa," ucap Wijaya.
Kali ini, Theo yang bingung. Menatap sang papa dan Melinda secara bergantian. Apalagi saat melihat Melinda yang begitu gugup, seketika membuat Theo menaruh curiga padanya. Ada sebersit rasa cemas yang dirasakan oleh lelaki itu.
"Apa yang papa tanyakan padamu?" tanya Theo dengan cemasnya.
Melinda tidak menyahut. Justru menggeleng lemah hingga membuat hati Theo makin khawatir. Theo pun langsung bertanya kepada sang papa dengan sedikit penekanan. Seolah memaksa sang papa agar menjawab karena ia tidak ingin dilanda rasa penasaran.
"Papa hanya bertanya padanya, apakah dia bersedia menemani hidupmu selamanya." Wijaya berkata jujur.
Sama seperti Melinda, Theo tersentak karenanya. Ia bahkan menatap sang papa dengan tidak percaya. Meminta sang papa agar mengulangi ucapannya. Ketika Wijaya menjawab dengan ucapan yang sama, Theo pun langsung merangkul Melinda.
"Jadi, Papa sudah setuju?" tanya Theo penuh harap.
__ADS_1
Wijaya tersenyum tipis. "Ya. Bahkan jika kalian hendak menikah cepat pun akan papa setujui. Lagi pula, sudah waktunya papa menimang cucu," tutur Wijaya.
Raut wajah Theo seketika berbinar bahagia. Bahkan dia langsung memeluk Melinda tanpa mengucap sepatah kata pun. Namun, itu tidak berlangsung lama. Wajah Theo mendadak murung ketika mengingat bahwa Melinda belum memberi jawaban. Ada kegelisahan yang Theo rasakan karena khawatir wanita itu akan menolak.
"Mel ... bagaimana?" tanya Theo ragu.
Melinda terdiam sesaat lalu mengangguk lemah setelahnya. "Ya. Aku setuju."
"Alhamdulillah." Wijaya dan Theo menjawab bersamaan. Tanpa peduli pada sang papa, Theo langsung memeluk wanita itu dengan erat.
"Tapi, Tuan ... bagaimana urusan perceraianku dengan Mas Fatih?" Melinda tiba-tiba teringat akan hal tersebut.
"Kau tenang saja. Aku sudah mengurusnya. Sebentar lagi kau akan menyandang gelar status janda, lalu berubah menjadi istriku," goda Theo. Melinda mengangguk sambil tersenyum malu.
Tidak peduli apa pun masa lalumu. Hatiku sudah memilihmu dan selamanya kita akan bersama. Aku berjanji aku berusaha membuatmu selalu merasa bahagia.
****
"Arrggh! Wanita sialan!" Fatih mengumpat.
"Kau diceraikan? Haha memang pantas." Pemilik tempat itu tertawa menghina Fatih.
"Diamlah! Jangan menghinaku!" bentak Fatih sambil menggebrak meja. Tidak peduli meski banyak pasang mata yang menatap tidak suka.
"Kenapa? Daripada kau stres seperti itu, bagaimana kalau kau kembali berjudi di sini. Kalau kau menang, kau bisa mendapatkan uang banyak," rayu pria tersebut.
Fatih meliriknya tajam. Merasa kesal. Sudah lama tidak berjudi membuat Fatih ingin kembali melakukan hal itu, tetapi dirinya masih takut kalah karena sekarang ia cukup kesusahan mencari uang. Walaupun mencopet, tetapi itu tidak semudah dulu saat ia hanya meminta uang pada Melinda.
"Ayolah, hanya satu atau dua juta. Aku akan menaruh sepuluh juta. Jangan khawatir kalah, kau tidak tahu kapan Dewi Fortuna berpihak padamu."
Pertahanan Fatih akhirnya jebol juga. Sudah berusaha untuk tidak berjudi lagi, nyatanya ia justru duduk dengan tenang. Kebetulan Fatih membawa uang dua juta. Melihat Fatih yang duduk santai, seketika lelaki tersebut mendapat sambutan tepuk tangan dari pengunjung di sana.
__ADS_1
Suasana mendadak tegang dalam waktu yang cukup lama. Kedua lelaki itu tampak serius bermain. Dalam hati Fatih berdoa semoga ia tidak kalah sekarang ini, jika itu terjadi maka harga dirinya akan benar-benar ternoda.
"Kau kalah!" Pemilik tempat itu tertawa puas, sedangkan Fatih menggeram marah.
"Sialan! Aku yakin kalau kau pasti berbuat curang!" sentaknya.
"Hei, Bung! Kau kalah bukan karena aku yang curang, tapi karena kau yang bodoh," ujar lelaki itu sambil mengambil uang milik Fatih.
Saking geramnya, Fatih tanpa sadar mencekik lelaki tersebut. Sambil terus mengumpatinya. Banyak yang melerai, tetapi Fatih seperti sedang kerasukan. Terus mencekik pria itu meski sudah melawan sekuat tenaga.
"Kau ...." Pria itu memejamkan mata. Tidak lagi bergerak. Fatih pun langsung tersadar dan tubuhnya gemetaran saat itu juga. Orang-orang yang berada di sana pun langsung mengepung Fatih. Sama sekali tidak memberi celah. Ada yang mengecek pria pemilik tempat itu dan ternyata tidak ada lagi nadinya yang berdenyut.
"A-Aku pembunuh." Fatih makin gemetaran karena takut. Bahkan, ia mendapat pukulan dari orang-orang di sana. Dirinya hampir saja mati babak belur bahkan ada yang hendak membakarnya. Beruntung masih ada orang baik yang memilih untuk membawa Fatih ke kantor polisi sebelum dihabisi oleh massa. Fatih pun hanya bisa pasrah dan menerima.
***
"Tidak mungkin! Anakku bukan pembunuh!" Dewi histeris ketika mendengar kabar bahwa Fatih ditangkap polisi karena membunuh pemilik tempat perjudian. Wanita itu pun hendak pergi dengan tergesa.
Ketika hendak keluar gerbang, Dewi terdiam karena mobil Yuli berhenti di depan sana. Yuli pun langsung keluar. Raut wajah wanita itu terlihat tidak mengenakkan.
"Kau mau ke mana, Bu Dewi?" tanya Yuli masih mencoba bersikap biasa.
"Bu, saya mau ke kantor polisi. Fatih ditangkap karena tidak sengaja membunuh orang," sahut Dewi dengan gugup.
Kening Yuli mengerut dalam. "Tidak sengaja membunuh orang? Bagaimana bisa?"
"Maaf, Bu. Saya jelaskan nanti."
"Ya sudah kalau begitu, ayo saya antar kau ke kantor polisi karena kebetulan aku ada urusan di sana."
Tanpa menaruh curiga, Dewi langsung masuk ke mobil Yuli karena yang ia pikirkan sekarang adalah Fatih.
__ADS_1