
Dewi terkesiap. Tidak menyangka akan bertemu dengan Yuli sekarang ini. Dalam keadaan yang tampak menyedihkan. Sungguh, Dewi merasa sangat malu dan tidak tahu lagi akan ditaruh di mana mukanya. Sementara Yuli menatap menelisik dari atas sampai ke bawah. Tatapan yang menyiratkan keheranan itu kini berubah sinis ketika melihat Dewi yang sangat mirip seperti pengemis.
"Bu Yuli." Dewi memanggil gugup. Bahkan, ia berusaha menghindari tatapan wanita tersebut meski semua hanyalah percuma.
"Kok, Bu Dewi seperti ini? Seperti pengemis saja. Memangnya apa yang sedang kau lakukan, Bu?" tanya Yuli mulai penasaran.
Dewi yang tidak mungkin bisa menghindar dari pembicaraan itu pun akhirnya memilki ide untuk menggunakan kesempatan tersebut. Ia membual. Mengatakan pada wanita itu bahwa dirinya diusir oleh Melinda. Bahkan Melinda merebut semua harta yang dimiliki. Yuli yang awalnya sinis pun kini merasa iba dan percaya pada cerita Dewi. Bahkan, Yuli yang tidak tahu-menahu kebenarannya seperti apa pun, ikut mengumpati Melinda.
"Bagaimana kalau kau bekerja di tempatku. Kebetulan aku butuh orang yang bersedia membantu karena akhir-akhir ini aku sangat sibuk dan tokoku tidak ada yang menjaga," tawar Yuli.
Dewi sedikit mendongak lalu tersenyum semringah. Menganggap ini adalah pertolongan untuknya. Tanpa berpikir panjang, Dewi langsung mengiyakan permintaan wanita itu.
"Tapi aku belum bisa menggajimu dengan besar."
"Tidak apa. Yang penting aku bisa mendapat pekerjaan yang layak. Bukan menjadi pengemis seperti ini." Dewi menjawab antusias.
"Baiklah. Untuk sementara waktu, kau juga boleh tinggal di tempatku," ujar Yuli. Membuat senyuman Dewi kian mengembang sempurna.
Wanita itu merasa senang karena tidak terlalu lama hidup menderita. Setidaknya setelah ini ia tidak perlu memikirkan di mana akan tinggal. Dengan tergesa, Dewi segera mencari Fatih dan mengatakan hal tersebut. Fatih pun merasa senang karenanya.
****
Wijaya kelimpungan sendiri. Ia pikir setelah pertengkaran itu, Theo akan datang menemui dan meminta maaf. Nyatanya sampai beberapa hari berlalu, Theo sama sekali belum terlihat batang hidungnya. Bahkan, lelaki itu tidak memberinya kabar sama sekali apalagi meminta maaf meski hanya sekadar lewat pesan.
"Zul, bagaimana? Apakah wanita itu masih bersama putraku?" tanya Wijaya.
__ADS_1
"Masih, Tuan. Nona Melinda masih di sana. Justru hubungan keduanya kian akrab." Zul mengadu setelah mendapat informasi dari salah seorang pelayan yang bertugas sebagai mata-mata.
"Memang wanita sialan! Aku yakin dia pasti akan pergi jika sudah mendapatkan harta milik Theo," tukas Wijaya sambil menahan kekesalan.
Zul menghela napas panjang. Sangat susah mencairkan hati Wijaya dan menjernihkan pikiran lelaki tersebut. Zul justru berpikir bahwa Melinda tidaklah seburuk yang dikira. Namun, seperti apa pun menjelaskan, Wijaya akan tetap pada pemikirannya sendiri bahwa Melinda adalah wanita buruk.
"Anda mau ke mana, Tuan?" tanya Zul saat melihat Wijaya bangkit berdiri.
"Menemui Theo. Aku harus berbicara padanya lagi. Jangan sampai wanita itu makin meracuni otak dan hati Theo." Wijaya berbicara tegas.
"Tuan, saya khawatir akan ada pertengkaran lagi." Zul mengeluh. Namun, hal itu tidak mengubah keputusan Wijaya untuk tetap datang ke rumah pribadi Theo.
Setibanya di sana, Wijaya langsung disambut Theo yang sedang duduk mengobrol bersama Melinda. Pemandangan itu membuat Wijaya kian meradang apalagi saat melihat Theo yang tidak merasa bersalah sama sekali atau sekadar meminta maaf.
"Hebat sekali." Wijaya bertepuk tangan hingga membuat semua yang ada di sana merasa heran. "Kau sudah semakin kurang ajar yang sekarang. Apa karena wanita murahan itu!"
Wijaya menunjuk Melinda yang sedang menunduk dalam sambil meremas baju yang dikenakan. Merasa takut terhadap lelaki itu. Theo kesal dan tidak suka melihat apa yang dilakukan oleh sang papa.
"Bukankah sudah kukatakan jangan pernah ikut campur urusan pribadiku? Aku bukanlah boneka yang bisa kau atur sesuka hatimu!" sentak Theo. Masih berani melawan Wijaya.
"Kau! Lihat saja aku akan mencabut semua harta yang kuberikan padamu! Bahkan aku tidak peduli meski kau menjadi gelandangan sekalipun!" hardik Wijaya menggebu-gebu.
Theo tersenyum tipis. "Aku tidak takut. Cabut saja. Lebih baik aku hidup miskin dan sederhana yang penting bahagia daripada hidup mewah, tapi serasa mati."
"Kau! Arrghh!!" Wijaya mengerang sambil memegang dada. Merasakan nyeri yang hebat di sana. Zul tampak sangat khawatir sementara Theo hanya menatap tanpa kasihan. Menganggap sang papa hanyalah berpura-pura.
__ADS_1
"Tuan, apakah Anda baik-baik saja?" tanya Zul cemas ketika melihat napas Wijaya yang tersengal. Selang beberapa saat lelaki itu tidak sadarkan diri. Theo yang awalnya hanya biasa saja pun mulai cemas dan langsung membawa sang papa ke rumah sakit. Dalam hati berdoa semoga tidak ada hal yang serius terjadi kepada papanya.
***
"Syukurlah Anda sudah sadar, Tuan." Melinda mengembuskan napas lega ketika melihat Wijaya yang sudah membuka mata.
Wijaya menoleh lalu mendelik ke arah Melinda. "Kau sedang ...."
"Jangan banyak bicara, Tuan. Dokter bilang Anda harus banyak istirahat karena jantung Anda sedang melemah." Melihat menahan tangan Wijaya agar tidak terlalu banyak bergerak.
"Di mana Theo!" tanya Wijaya dengan nada membentak meskipun lirih.
"Tuan Theo sedang ada pertemuan penting yang tidak bisa diwakilkan. Beliau meminta saya untuk menemani Anda, sedangkan Tuan Zul menemani Tuan Theo." Melinda berbicara lembut. Tidak takut meskipun sorot mata Wijaya selalu menajam kepadanya.
"Huuh." Wijaya mengembuskan napas panjang. Lalu menatap langit kamar tempatnya menginap. "Sudah puas kau menghancurkan kehidupanku dan putraku? Kalau memang kau belum puas, lebih baik tinggalkan aku dan biarkan aku mati saja. Lagi pula, Theo sudah membenciku karena dirimu."
Melinda tersenyum getir. Ada bulir bening yang hendak memaksa keluar meski Melinda berusaha menahan sekuat tenaga. Walaupun Wijaya sangat tegas seperti itu, entah mengapa sekarang ini Melinda bisa merasakan kalau Wijaya sangat menyayangi putranya.
"Aku tidak menyangka jika dia lebih memilih wanita murahan dan kotor sepertimu. Jika wanita yang dipilih Theo bukanlah wanita sekotor dirimu, mungkin aku akan mempertimbangkannya," sarkas Wijaya. Tidak peduli apakah ucapannya melukai hati Melinda atau tidak. "Kalau memang kau wanita yang tahu diri, seharusnya kau pergi dari kehidupan putraku!"
Hati Melinda berdenyut sakit ketika mendengar hinaan tersebut. Ia sadar bahwa dirinya adalah wanita kotor. Namun, semua ia lakukan karena terpaksa. Demi kesembuhan Atha. Walaupun pada akhirnya Tuhan mengambil Atha darinya.
"Tuan ... maafkan saya."
"Kau pikir kata maafmu bisa membuat putraku sadar bahwa ia sudah memilih wanita yang salah?"
__ADS_1