
Fatih meradang. Terpancing emosi oleh ucapan Melinda. Besok, ia akan memastikan cek itu bukan palsu jika memang ternyata benar dirinya dibohongi, Fatih tidak akan tinggal diam untuk hal ini dan akan memberi pembalasan untuk Theo. Walaupun ia belum mengetahui jika Theo adalah orang yang hendak membantu Melinda.
Brak!
Bunyi pintu yang ditutup keras membuat Melinda terjengkit karena terkejut. Wanita itu mengelus dada untuk menormalkan debaran jantungnya yang begitu kencang. Setelahnya, Melinda pun memilih untuk tidur kembali. Besok pagi ia akan menemui Tante Sisca untuk berhenti bekerja dari sana.
***
"Kau yakin akan keluar dari sini?" tanya Tante Sisca. Nada bicaranya menyiratkan sebuah kekecewaan.
"Maafkan aku, Tante. Aku terpaksa melakukan ini, tapi percayalah kalau aku tidak akan pernah melupakan jasa Tante." Melinda mengulas senyum sambil menyalami Tante Sisca.
"Ya sudah. Aku tidak bisa memaksamu untuk tetap bekerja di sini lagi walaupun aku sangat tidak ingin kau keluar. Semoga kau bahagia dengan pekerjaan barumu," kata Tante Sisca. Suaranya yang parau seketika membuat Melinda tidak tega. Kedua perempuan itu pun saling berpelukan sebelum akhirnya Melinda pamit dari sana.
Baru saja keluar dari tempat pelacuran, Melinda langsung disambut oleh anak buah Theo. Lelaki itu ditugaskan oleh Theo untuk menjemput Melinda. Selama dalam perjalanan, jantung Melinda terus berdebar kencang. Merasa gugup mengingat ini adalah hari pertama ia bekerja di tempat Theo.
Semoga saja semua tetap baik-baik saja. Semoga saja keputusanku benar dan dia bukanlah orang yang berpura-pura baik saja.
Melinda memejamkan mata. Beberapa kali menghela napas panjang untuk membuat hatinya tenang. Namun, itu hanya sesaat karena Melinda merasa kembali gugup ketika mobil itu berhenti di depan sebuah rumah yang sangat mewah.
Melinda benar-benar terpesona saat melihatnya.
"Kita di mana?" tanya Melinda tidak bisa lagi menahan rasa penasaran.
"Silakan turun, Nona. Kita sudah sampai di rumah pribadi milik Tuan Theo." Anak buah Theo berbicara sopan dan penuh hormat. Melinda merasa ragu saat hendak turun, tetapi saat melihat sorot mata anak buah Theo, dengan perlahan Melinda turun dan langsung masuk ke rumah tersebut.
Kedatangan Melinda sudah disambut oleh Theo yang menunggu di ruang tamu sejak tadi. Setelah saling sapa, Theo langsung mengajak Melinda untuk ke kamar.
__ADS_1
Aku sudah terbiasa melayani para lelaki hidung belang, tapi kenapa sekarang aku merasa sangat gugup. Seolah pekerjaan ini baru pertama kali kulakukan.
Melinda sungguh merasa tidak tenang apalagi saat ia memasuki sebuah kamar yang luas dan mewah. Bahkan, luas kamar itu hampir setara dengan rumah milik Fatih.
"Duduklah." Theo memerintah. Dengan ragu, Melinda duduk di sofa yang terletak di kamar itu lalu menatap Theo yang berdiri di depannya.
"Apa kita akan melakukan sekarang? Kalau iya, aku harus berganti baju dulu." Melinda hendak bangkit, tetapi Theo langsung melarang dan meminta wanita tersebut agar tetap duduk di tempatnya.
"Kau tidak perlu berganti pakaian karena aku tidak akan mengajakmu bercinta," kata Theo.
Kening Melinda mengerut dalam mendengar ucapan lelaki itu. "Maksudnya? Kita tidak akan bercinta? Lalu apa yang akan kita lakukan di kamar?"
"Apakah setiap berada di kamar kita akan bercinta? Sepertinya tidak harus bukan? Aku hanya ingin mengobrol dan ditemani olehmu saja," ujar Theo. Ia berjalan mendekati Melinda dan duduk di samping wanita itu. "Pijat aku. Tubuhku sangat lelah rasanya."
"Tapi aku tidak bisa memijat." Melinda menolak halus.
"Lumayan juga pijatanmu. Oh ya, nanti aku akan kembali datang ke tempat perjudian. Aku belum puas bisa mengalahkan suamimu." Tanpa diketahui oleh Melinda, sudut bibir Theo tertarik sebelah.
"Jangan datang ke sana lagi." Melinda melarang.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak mau kau kehilangan semuanya. Bagaimana kalau kau kecanduan judi seperti Mas Fatih. Dia bahkan selalu kalah dan selalu kehabisan uang untuk taruhan."
Mendengar ucapan Melinda, dengan gegas Theo duduk lalu memegang kedua bahu wanita itu. Menatapnya dengan sangat lekat. Menyadari Melinda yang seperhatian itu padanya membuat Theo merasa ada yang berbeda. Hatinya terasa berbunga-bunga.
"Terima kasih karena kau sudah mencemaskanku. Kau tenang saja karena aku tidak mungkin kehilangan semua hartaku." Theo tersenyum simpul. Melinda pun mengembuskan napas lega.
__ADS_1
"Apa kau akan ikut denganku nanti malam?" tanya Theo menawari.
Melinda menggeleng cepat. "Tidak. Aku tidak mau ada keributan di sana. Apalagi aku sudah paham bagaimana tabiat suamiku. Lebih baik aku di rumah menemani Atha."
"Baiklah. Tapi suatu saat aku akan membawamu ke sana agar suamimu itu terpukau." Theo tersenyum senang, sedangkan Melinda hanya diam. Tidak bisa membayangkan jika waktu itu tiba, maka pukulan seperti apa yang akan ia terima dari Fatih.
Keduanya pun beralih mengobrol banyak hal sampai hampir tengah malam. Barulah Melinda pulang membawa uang dalam amplop yang bahkan berapa nominal di sana, Melinda belum tahu. Sepertinya uang tersebut tidak sedikit karena cukup tebal.
***
Fatih merasa lega karena ternyata cek itu bukanlah palsu. Uang lima juta sudah berada di tangan. Namun, ia masih belum merasa puas akan hal itu. Dengan penuh percaya diri, Fatih datang ke tempat perjudian itu lagi. Gayanya sangat angkuh hingga membuat beberapa orang yang berada di sana merasa muak.
Selang beberapa saat, Theo datang lagi bersama anak buahnya. Melihat kedatangan Theo, senyuman Fatih pun mengembang sempurna. Terlihat meledek ke arah Theo.
"Kau masih berani datang ke sini," kata Fatih. Duduk dengan angkuh di depan Theo.
"Ya. Aku masih ingin bermain." Theo menjawab santai.
"Berapa uang yang akan kau taruhkan malam ini? Aku ada uang sembilan juta." Fatih menaruh uang sembilan juta di meja.
"Cukup banyak juga. Kalau begitu, aku akan menaruh lima belas juta. Berikan aku cek lagi." Theo menyodorkan tangan meminta cek dari anak buahnya. Menulis nominal lima belas juta di sana. Setelah siap permainan pun segera dimulai.
Lihat saja, aku pasti menang sekarang ini. Fatih membatin dengan penuh percaya diri.
Permainan masih panjang. Nikmatilah kawan. Theo menarik sebelah sudut bibirnya. Tersenyum miring saat melihat Fatih yang begitu antusias.
"Kau kalah lagi! Hahaha!"
__ADS_1