
..."Tidak ada kesedihan paling dalam yang dirasakan selain kehilangan orang yang kita sayangi untuk selamanya. Memang benar, patah hati terbesar di dunia ini adalah kehilangan orang yang kita cintai untuk selamanya. Di mana saat rasa rindu menggebu, kita hanya bisa memeluk nisannya saja." ...
***
Hancur sudah hidup Melinda saat mendapati fakta bahwa buah hatinya sudah meninggal dunia. Dalam keadaan yang begitu tragis pula. Tangis wanita itu pecah dan terdengar sangat menyayat hati. Semenjak pemandian hingga penguburan Atha, entah sudah berapa kali Melinda tidak sadarkan diri.
Bukan hanya Melinda yang bersedih di sini, tetapi semua orang. Theo juga kehilangan karena ia paham seperti apa Melinda berjuang keras menyembuhkan anak tersebut. Fatih dan Dewi pun merasakan hal yang sama. Walaupun mereka membenci Melinda, tetapi tidak untuk Atha. Bahkan, Dewi pun menangis meraung karena begitu kehilangan. Bagaimana tidak, selama ini Dewi yang selalu mengurus Fatih. Membuatnya merasa sayang terhadap cucunya sendiri.
"Mel," panggil Fatih lirih. Tidak sekeras biasanya.
Melinda yang saat itu sedang beberes pun langsung menoleh dan menatap sengit ke arah suaminya. "Kenapa, Mas? Sudah puas kau melukai hatiku seperti ini?"
Melinda bangkit lalu berdiri sejajar dengan Fatih. Matanya mendelik tajam seolah hendak lepas dari tempatnya. Jika biasanya Fatih akan menatap dengan berani maka tidak untuk sekarang. Menyadari luka dalam yang terlihat dari sorot mata wanita itu membuat Fatih mendadak tidak bisa berbicara. Hanya menatapnya lekat.
"Mas, selama ini aku berjuang keras untuk menyembuhkan Atha bahkan sampai menjual diriku sendiri. Sekarang, karena kejahatanmu Atha akhirnya meninggalkanku selamanya. Kau memang iblis, Mas!" bentak Melinda. Air mata yang hampir mengering kini mengalir deras lagi. Rasa sakit kehilangan Atha belum juga sirna.
"Bukan aku yang membunuh Atha!" Fatih membela diri. Merasa jengah karena Melinda terus menyalahkan dirinya.
"Kau memang tidak membunuhnya secara langsung, tapi karena apa yang kau lakukan bersama pria jahat itu sudah membuat aku harus kehilangan Atha. Apa kau sudah puas, Mas! Puas!" Melinda yang tak kuasa menahan pada akhirnya memukul dada Fatih untuk menyalurkan segala rasa sakit dan amarah yang bercampur menjadi satu. Bahkan, keinginan untuk membunuh pria itu pun sangatlah kuat.
Sebelum ia semakin tidak bisa mengendalikan diri, Melinda memilih pergi dari sana dan langsung disambut oleh Theo yang masih berdiri di halaman rumah karena suasana berduka. Lelaki itu dengan setia menemani Melinda.
"Kau mau ke mana, Mel?" tanya Theo. Nadanya sangat lembut dan lirih. Hati Theo terasa berdenyut sakit ketika melihat sorot mata Melinda yang penuh luka. Seolah ia merasakan hal sama yang dirasakan oleh wanita itu. Walaupun hanya sebentar hidup bersama Atha, tetapi Theo sudah menganggap anak itu seperti putranya sendiri.
"Aku harus pergi, Tuan. Aku tidak mau hidup bersama para iblis di rumah yang seperti neraka ini. Bahkan kalau perlu aku ingin menyusul Atha saja." Melinda menyeka air mata yang tidak mau surut sama sekali.
__ADS_1
"Jangan pergi jauh lagi. Ikutlah denganku." Theo memegang kedua bahu Melinda dan menatapnya penuh harap.
"Tuan ...."
"Mel." Theo terkejut karena Melinda kembali tidak sadarkan diri. Dengan gegas ia membopong Melinda masuk ke mobil dan membawanya pulang. Tidak peduli pada teriakan Fatih maupun Wijaya.
"Susul dia." Wijaya memerintah Zul.
***
"Theo, kenapa kau membawa wanita ini pulang? Kau tidak memiliki hak apa pun padanya!" sentak Wijaya ketika mereka baru saja sampai di rumah Theo.
"Pergilah, Pa! Jangan pernah ikut campur urusan pribadiku! Kalau memang Papa tidak suka dan akan memecatku sebagai anak. Pecat saja! Bahkan semua harta milik Papa yang diberikan padaku, akan aku kembalikan!" tantang Theo dengan berani. Hal itu pun membuat Wijaya meradang.
"Kau!"
"Tapi, Zul. Dia sudah berani kurang ajar seperti itu padaku!" Nada bicara Wijaya masih sangat tinggi.
"Tuan, saya harap Anda mengerti keadaan. Bukan hal yang mudah ketika kehilangan orang yang kita sayangi untuk selamanya. Jangan menambah luka hati yang masih menganga lebar. Saya harap Anda paham ucapan saya, Tuan. Saya tahu kalau Anda adalah manusia yang memiliki jika kemanusiaan." Zul kali ini kian berani. Rasa tidak tega melihat Melinda yang seperti itu membuat Zul berani mengambil resiko. Walaupun harus dipecat sebagai tangan kanan Wijaya sekalipun.
Wijaya akhirnya diam dan membiarkan Theo membawa Melinda ke kamar. Setelahnya, Theo memanggil dokter untuk memeriksa Melinda dan memastikan tidak ada yang berbahaya dalam tubuh Melinda. Lelaki itu mengembuskan napas lega ketika dokter mengatakan tidak ada penyakit serius. Hanya stres berat yang sedang dialami oleh wanita itu.
"Mel, kau harus makan agar tenagamu pulih." Theo berbicara lembut sambil mengusap pipi Melinda yang penuh dengan bekas air mata.
"Atha ... ibu kangen kamu, Nak." Melinda bergumam lirih. Namun, mampu membuat hati Theo merasa miris dan ikut merasa hancur.
__ADS_1
Dengan gegas, Theo memeluk wanita itu sangat erat. Ikut menangis merasakan sakit hati yang teramat dalam.
"Sabarlah, Mel. Setiap manusia pasti akan merasakan kehilangan. Atha pasti sudah bahagia di sana. Kau boleh menangis sekarang ini, tapi setelah ini kau harus berjanji untuk bisa bangkit lagi," kata Theo lembut. Mengeratkan pelukan pada wanita tersebut.
Wijaya yang melihat itu pun langsung memalingkan wajah. Melihat pemandangan tersebut membuat hatinya tersentuh dan bisa merasakan sesayang apa Theo pada wanita itu. Batin Wijaya pun berkecamuk hebat. Seolah berperang melihat kedua insan yang sedang berpelukan.
"Hacur sudah hidupku. Lebih baik aku menyusul Atha. Tidak ada alasan untukku tetap bertahan di dunia yang kejam ini." Melinda meronta. Ingin melepaskan diri dari pelukan Theo. Namun, Theo justru makin mengeratkan pelukannya. "Lepaskan aku, Tuan!"
Theo tetap memeluk Melinda sangat kuat meski wanita itu terus memukul dadanya. Yang Theo inginkan adalah Melinda merasa tenang.
"Menangislah sepuasmu, Mel. Menangislah sampai hatimu lega. Aku tidak akan melepaskan pelukan ini."
Akhirnya, Melinda menangis kencang dalam pelukan Theo. Wanita itu terus saja menyebut nama putranya tanpa rasa lelah. Hingga hampir setengah jam berlalu, Melinda akhirnya tertidur lelap karena kelelahan.
Theo bangkit dan berniat membersihkan diri. Ia berdecak kesal karena Wijaya dan Zul masih berada di kamar itu.
"Pergilah dari sini. Tenang saja aku akan mengembalikan semua harta milikmu kecuali rumah ini. Aku membeli rumah ini kubangun dari hasil tabunganku." Theo berbicara datar. Ucapannya pun sangat berbeda tidak lagi sopan seperti biasanya.
Wijaya meradang, tetapi Zul berusaha menenangkan lelaki itu dan mengajaknya pergi dari sana. Namun, Wijaya masih menolak.
"Pergilah dari rumahku dalam hitungan ke sepuluh. Kalau memang kau mau memecatku sebagai anak, pecat saja! Aku pun tidak sudi memiliki seorang papa yang tidak punya hati sama sekali!"
Wijaya hampir menampar Theo, tetapi tangannya hanya mengapung di udara. "Kau!"
"Tampar saja! Aku tidak takut! Asal kau tahu, aku sudah merasa sakit karena ditinggalkan mamaku sendiri dan aku tidak mau lagi kehilangan wanita yang aku cintai untuk kesekian kali," ujar Theo menantang.
__ADS_1
Wijaya pun terpaku saat itu juga.