
Setelah melewati percintaan panas semalam, Theo yang sudah menuntaskan hasratnya langsung tertidur lelap begitu saja. Ikut menyusul Melinda yang sudah sampai di alam mimpi terlebih dahulu. Theo masih belum peduli meskipun ia sudah bercinta dengan wanita asing yang bahkan baru pertama kali ia temui.
Ketika jam sudah menunjuk pukul empat pagi, Theo terbangun dan merasakan tubuhnya merasa capek. Tidak menyangka jika percintaan semalam sudah membuatnya lelah meskipun energinya serasa bertambah. Ada perasaan lain yang ia rasakan ketika hasratnya sudah tersalurkan.
Theo pun bangun dan terkejut ketika melihat Melinda masih tertidur lelap di sampingnya. Masih bergelung di bawah selimut. Theo juga bisa melihat punggung dan bahu Melinda yang begitu bebas, tanpa ada sehelai benang pun. Ingatan Theo seketika berkelana, mengingat kejadian semalam. Beberapa detik selanjutnya lelaki itu mengumpati dirinya sendiri.
"Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku sangat ceroboh!" Theo mengacak rambut seperti orang yang sedang frustrasi, sambil beberapa kali mengusap wajah secara kasar. Lelaki itu menyesal karena sudah bercinta dengan wanita asing. Namun, di sisi lain Theo tidak tahu pada dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa menarik Melinda padahal ia sudah berencana pulang sebelumnya.
Theo memejamkan mata dan merasakan desiran di hati ketika teringat tatapan Melinda. Sorot mata wanita itu masih terngiang jelas hingga membuat hatinya serasa tertarik. Theo pun menyentuh dada saat merasakan jantungnya berdetak kian cepat seolah tidak terkendali.
Dengan mengumpulkan keberanian, Theo menatap wajah Melinda sangat lekat. Menelisik setiap inchi wajah wanita itu. Anehnya, hati Theo ingin sekali menyentuh wajahnya, tetapi Theo berusaha mengendalikan diri agar tidak membuat Melinda terbangun.
Siapa kau sebenarnya? Kenapa aku bisa merasakan seperti ini saat dekat denganmu. Padahal aku tidak pernah tertarik pada wanita mana pun sebelum ini.
Theo menghempaskan kepalan tangan ke udara sebelum menyentuh pipi Melinda. Sebelum ia makin tidak bisa mengendalikan diri, Theo pun memilih untuk bangkit dan membersihkan diri. Tak lupa meminta salah seorang anak buahnya untuk membawakan baju ganti ke kamar itu dan tidak sekalipun memberi mereka kesempatan untuk melontarkan pertanyaan. Untuk sekarang ini, Theo tidak ingin ada yang tahu tentang percintaannya dengan Melinda.
Setelah membersihkan diri, Theo langsung mengambil ponsel. Tepat ketika itu ada sebuah panggilan masuk yang mengharuskan Theo untuk pergi saat itu juga. Urusan itu sangat penting sampai Theo tidak bisa menundanya lagi. Padahal Theo masih ingin tetap di kamar itu menunggu Melinda bangun dengan sendirinya. Akan ada banyak hal yang akan ia tanyakan kepada wanita itu. Namun, urusan yang sangat penting membuat Theo dengan terpaksa mengesampingkan keinginannya.
Ia pun memakai kemeja serta jas semalam meski sudah kotor dan lusuh karena anak buahnya belum juga datang. Tak lupa ia menyuruh anak buahnya untuk membawa baju gantinya langsung ke kantor saja.
Padahal aku masih ingin di sini. Theo membatin sambil menatap Melinda dengan sangat dalam.
__ADS_1
Dengan berat hati, Theo mengambil uang senilai dua juta dari dalam dompet karena hanya itu uang cash yang dimiliki. Lalu tak lupa Theo menarik sebuah kartu nama miliknya dan menaruhnya di atas nakas. Theo sangat berharap Melinda akan menghubunginya setelah ini.
"Semoga kau bersedia menghubungiku setelah ini," gumam Theo lirih. Mengambil foto Melinda yang masih terlelap dan segera pergi dari tempat itu.
****
"Ya Tuhan, badanku sakit semua. Tapi kenapa kasurnya sangat empuk. Tidak seperti biasa," gumam Melinda. Menggeliat sesaat lalu mengeratkan selimut yang masih membalut tubuhnya. Sungguh, ia merasa enggan untuk bangun. Memilih memejamkan mata dan berusaha untuk tidur lagi.
Namun, baru saja matanya terpejam, Melinda sontak membuka mata lebar saat ingat kejadian semalam. Ia mabuk dan ditarik oleh lelaki asing yang ia lihat seperti Fatih dengan samar-samar. Wanita itu membuka selimut dan melihat tubuhnya yang telanjang bulat.
"Ya Tuhan, apa yang kulakukan semalam." Melinda mengusap wajah. Merasa menyesal karena sudah mabuk dan bahkan tidak pulang. Ia yakin, pasti sekarang ini Atha sudah menunggu kepulangannya.
Kebingungan melanda wanita tersebut. Dengan tergesa ia turun dari ranjang bahkan tidak sempat mengingat-ingat siapa yang sudah menggagahinya semalam. Bagi Melinda yang terpenting sekarang adalah ia harus menghubungi Fatih. Bukan karena rindu dengan lelaki tersebut, tetapi Melinda hanya ingin mendengar kabar Atha yang tidak rewel.
"Kenapa aku sangat ceroboh seperti ini," gumam Melinda sambil menghidupkan layar ponselnya dengan tidak sabar. Setelah beberapa detik menunggu, Melinda pun berniat hendak menghubungi Fatih, tetapi pesan dari lelaki tersebut lebih dahulu masuk. Ia pun memilih untuk membaca pesan itu terlebih dahulu.
Jantungnya berdebar kencang ketika membaca pesan yang berisi ancaman. Perasaannya mendadak gelisah. Bahkan, pikiran Melinda mendadak buyar seketika karena khawatir kepada Atha. Ia takut kalau suaminya akan benar-benar nekat. Saking paniknya, Melinda sampai tidak membalas pesan tersebut.
Ia harus pulang sekarang juga meskipun harus mendapat omelan dari suami maupun ibu mertuanya.
Ketika hendak keluar dari kamar itu, Melinda terpaku sesaat ketika melihat ke arah nakas. Ada uang dan sebuah kartu nama yang tergeletak di sana. Dengan gegas ia mengambil uang tersebut dan membaca nama yang tertera di sana.
__ADS_1
Theo David Arnanda.
Kening Melinda mengerut dalam ketika membaca pesan tersebut. Nama yang sangat asing untuknya.
"Siapa lelaki ini? Aku bahkan belum pernah mengenal sebelumnya," gumam Melinda. "Ah, pikir besok saja. Lebih baik aku pulang sekarang sebelum Atha dalam bahaya."
Melinda awalnya hendak membuang kartu nama tersebut, tetapi niatnya urung dan lebih memilih untuk memasukkan ke tas bersama uang dua juta itu. Lalu ia pun keluar dari kamar yang sudah dibayar oleh Theo sebelumnya.
Semoga tidak terjadi apa-apa pada Atha.
***
"Pak, ibu di mana? Kenapa belum pulang? Atha kangen, Pak." Anak itu merengek. Merasa rindu kepada sang ibu. Bukannya menjawab, Fatih justru menggerutukkan gigi karena masih geram terhadap Melinda yang belum juga pulang.
"Awas saja kalau kau sudah sampai rumah, aku tidak akan tinggal diam," gerutu Fatih.
"Pak ...."
"Kau diamlah! Nanti juga ibumu akan pulang!" bentak Fatih. Anak itu pun langsung diam dengan wajah penuh ketakutan. "Lebih baik kau masuk," perintahnya.
Atha yang merasa takut pun bergegas masuk. Sementara Fatih duduk di kursi yang berada di teras. Menunggu kepulangan istrinya. Ia membuka ponsel dan melihat pesan yang dikirim sudah dibaca oleh Melinda, tetapi belum ada balasan. Fatih pun merasa kian geram karena itu.
__ADS_1
"Awas saja kau!"
"Mas ...."