Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam

Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam
TMKKM-14


__ADS_3

Fatih kembali datang ke meja judi membawa uang dari Melinda. Meskipun selalu kalah, tetapi lelaki tersebut sama sekali tidak pernah merasakan jera. Terus saja datang dan berharap bisa menang meski itu hanyalah harapan semata. 


"Kau datang lagi. Sungguh luar biasa. Nyalimu besar juga," ujar pria yang biasa melawan Fatih dan selalu mengalahkan lelaki tersebut.


"Jangan banyak bicara. Aku yakin kali ini bakal menang," kata Fatih percaya diri. Menaruh semua uang yang ia bawa ke atas meja. Semua yang berada di sana pun langsung tersenyum sinis. 


"Kalau begitu, sekarang kita pasang saja. Aku tidak sabar ingin melihat kemenanganmu," ucapnya disertai tawa meledek. Fatih yang mendengar itu pun hanya diam dan merasakan hatinya memanas. 


Lihat saja, aku akan membalas kalian! 


Fatih membatin. Giginya bergemerutuk karena saking kesalnya. Namun, ia berusaha untuk meredam amarah. Harus membuktikan pada mereka kalau ia pasti bisa menang. 


Suasana pun mendadak tegang saat permainan itu dimulai. Fatih berusaha berkonsentrasi meskipun banyak yang berusaha menggoda. Sampai pada akhirnya, Fatih menggeram marah karena ia kembali kalah. 


"Brengs*k!" Fatih menggebrak meja saking kesalnya. "Kenapa aku selalu kalah? Aku yakin pasti ada yang tidak beres di sini." 


"Hei, kau jangan bikin masalah. Kalau kalah ya harusnya nerima. Kalah ya kalah aja, jangan bikin rusuh." Pria yang melawan Fatih tadi mulai ikut kesal. 


"Tapi aku merasa ada yang tidak beres. Katakan padaku, pasti kau sudah curang 'kan?" tukasnya sambil menunjuk wajah pria tersebut.


Hal itu sontak membuat Fatih harus jatuh tersungkur karena menerima pukulan. Bukan hanya dari satu orang, tetapi beberapa orang memanfaatkan kesempatan itu untuk ikut memukul Fatih. Sampai akhirnya, Fatih kabur dari sana dalam kondisi yang sudah lemas. 


"Sialan, aku hampir saja mati." Fatih mengembuskan napas lega saat sudah jauh dari tempat perjudian tadi. Lalu ia pun segera pulang dan baru sampai rumah jam satu dini hari. Bersamaan dengan Melinda yang juga baru pulang. 


"Kau dari mana, Mas?" tanya Melinda penasaran.


"Diamlah!" bentak Fatih. 


"Mas ...." 

__ADS_1


"Bukankah aku sudah bilang padamu agar diam!" Fatih meluapkan amarah pada Melinda padahal wanita itu melakukan kesalahan apa pun. Sebuah tamparan pun mendarat di pipi Melinda. 


"Mas, kenapa sekarang kau seperti ini. Apa kau tidak lelah terus menamparku?" bentak Melinda. Menatap suaminya dengan nyalang. 


"Kau wanita murahan tidak berhak ikut campur urusanku dan tamparan ini pantas untukmu! Lebih baik diamlah atau aku tidak akan segan-segan merobek mulutmu!" ancam Fatih. Tatapannya begitu sengit hingga membuat Melinda sedikit beringsut takut. 


Melihat Melinda yang diam saja, Fatih pun hendak merebut tas wanita itu untuk mengambil uang yang berada di dalamnya. Namun, Melinda dengan sigap menyembunyikan di belakang tubuh. Berusaha melindungi tas tersebut agar tidak jatuh ke tangan suaminya. 


Akan tetapi, Fatih justru kembali memukul Melinda dan langsung merebut tas wanita itu. Tidak peduli walaupun Melinda sudah menangis dan memohon agar Fatih tidak mengambil uang yang berada di dalamnya. 


"Ini aku kembalikan, Jal*ng!" umpat Fatih geram. 


"Mas, aku mohon. Jangan pernah ambil uangku. Itu untuk berobat Atha, Mas." Melinda memohon dengan berderai air mata. Namun, Fatih menulikan telinga dan masuk ke rumah begitu saja. 


Melinda tak kuasa menahan tangisnya. Isakan yang memilukan terdengar begitu menyayat. Memecah kesunyian malam itu. Embusan napas yang dilakukan Melinda beberapa kali pun tidak sanggup membuat hati wanita itu menjadi lega. 


Tuhan, jika memang kau tidak sayang padaku lagi. Ambil saja nyawaku. Walaupun aku wanita pendosa dan surga tidak pantas untukku. Itu lebih baik daripada aku harus hidup seperti di neraka. Aku lelah, Tuhan. Aku ingin menyerah.


Lagi-lagi suara Atha berhasil menyadarkan Melinda. Wanita tersebut mengusap air mata dengan cepat lalu memeluk putranya sangat erat. Seberapa kuat pun usaha yang harus dilakukan Melinda agar tidak terlihat seperti habis menangis, tetapi matanya yang sembab tidak bisa membohongi. 


"Kenapa kau belum tidur, Sayang?" tanya Melinda berusaha terlihat  biasa saja. 


Atha tidak langsung menjawab. Menatap Melinda dengan sangat lekat. "Ibu, apakah bapak menyakitimu lagi? Apa bapak membuatmu menangis lagi?" 


Melinda menggeleng lemah sambil tersenyum getir. "Tidak. Ibu hanya lelah saja dan butuh istirahat." Melinda berkilah. Ia pun mengalihkan pembicaraan dan meminta Atha untuk segera masuk rumah. Namun, anak itu menolak. 


"Ibu, bagaimana caranya agar aku bisa cepat besar dan menjaga Ibu dari siapa pun yang menyakitimu?" tanya Atha dengan polosnya.


"Kau ini." Melinda mengusap puncak kepala putranya. "Tidurlah yang nyenyak dan jadilah anak baik maka kau akan cepat besar." 

__ADS_1


Melinda memaksa Atha agar segera masuk ke rumah dan bersikap seolah tidak ada hal apa pun yang terjadi nanti. Melinda tidak menyadari bahwa dari kejauhan ada dua orang yang mengamati kejadian tadi. 


"Kita harus lapor bos sekarang," ujar mereka lalu bergegas pergi ketika Melinda sudah masuk ke rumah. 


***


"Kalian serius?" tanya Theo. Menatap anak buahnya dengan tidak percaya. 


"Iya, Tuan. Dia adalah seorang wanita malam. Kami berhasil mengikuti sampai tempat di mana ia bekerja. Selain itu ...." Anak buah Theo menggantungkan ucapannya. Membuat Theo tidak sabar sendiri. 


"Lanjutkan! Jangan memberi informasi setengah-setengah padaku!" ujarnya setengah membentak. 


Anak buah Theo pun menghirup napasnya dalam. "Tuan, sepertinya hidup wanita itu sangat menyedihkan. Barusan kami lihat dia mendapat pukulan dari seorang pria dan kemungkinan besar pria tersebut adalah suaminya." 


"Suami? Kalian jangan bercanda!" timpal Theo. "Aku tidak percaya dia sudah punya suami. Wajahnya saja masih terlihat sangat muda," imbuhnya. 


"Itu hanya dugaan kami, Tuan. Kemungkinan juga wanita itu sudah memiliki seorang anak." 


Theo berdecak. Sama sekali tidak bisa percaya ucapan anak buahnya. Ia pun harus memastikan sendiri. Theo meminta alamat di mana Melinda berkerja dan besok malam ia bertekad akan ke tempat itu untuk memastikan semua ucapan dari anak buahnya. 


***


"Wah, Mbak ***** ... mau ke mana?" tanya Yuli. Wanita julid yang satu server dengan ibu mertuanya. Melinda pun tidak menyahut dan memilih untuk berpura-pura tidak mendengar ucapan wanita itu. "Wah, udah ***** songong pula. Pantes anaknya penyakitan, ibunya ***** si." 


Ucapan Yuli berhasil memancing amarah Melinda. Ia berbalik dan langsung berdiri di depan Yuli. Tatapannya menajam bahkan jika tak kuasa menahan diri, Melinda hampir saja mencekik wanita itu. 


"Apakah mulutmu tidak punya sopan santun?" tanya Melinda geram. 


"Halah, sok banget jadi orang. Tentu saja punya, emangnya kau yang tidak punya sopan santun. Punya barang satu saja diobral," cemoohnya lebih parah. 

__ADS_1


"Kau!" Melinda mengangkat tangan dan hendak menampar wanita tersebut. Namun, tangannya mengapung di udara saat mendengar suara ibu mertuanya dari arah belakang. 


"Kau ini, sudah murahan, tidak punya adab pula! Menyesal aku punya menantu sepertimu!" 


__ADS_2