
Sungguh sebuah kesialan bagi Melinda. Wanita tersebut harus merasakan sakit hati yang teramat dalam. Ternyata, Fatih memiliki maksud tertentu kenapa lelaki tersebut meminta istrinya untuk tetap menjadi seorang pelacur.
Setiap kali Melinda pulang bekerja maka Fatih akan meminta hasih jerih payah wanita tersebut. Hanya menyisakan satu atau dua lembar uang seratus ribuan saja dan itu berlangsung setiap hari. Padahal Melinda sudah memohon agar Fatih tidak melakukan itu. Namun, lelaki tersebut tidak peduli. Hatinya sama sekali tidak tersentuh meskipun Melinda sudah menangis memohon.
Hari ini, Melinda libur bekerja karena tubuhnya sedang sangat lelah. Selain itu, ia juga akan mengantar Atha untuk periksa siang nanti. Melihat anak menantunya libur, Dewi pun mengajak Melinda untuk berbelanja ke pasar. Tentu saja Melinda langsung setuju karena ia tidak mungkin menolak ajakan ibu mertuanya yang terkadang membuat dirinya harus mengelus dada.
"Eh, Bu Dewi. Tumben sekali belanja sama menantunya. Lagi akur ya?" tanya Yuli, pemilik warung langganan Dewi.
"Iya ini, Bu Yuli. Mumpung dia lagi libur. Aku ajak belanja biar tahu kebutuhan dapur itu tidak sedikit," ucap Dewi. Sambil melirik Melinda.
"Memang, Bu. Anak zaman sekarang mah walaupun udah jadi menantu tetap aja pemalas. Lebih suka main ponsel atau rebahan doang."
Melinda mencebik kesal. Ternyata Yuli ini orangnya julid, sebelas dua belas dengan ibu mertuanya. Ia sungguh menyesal karena sudah menurut ibu mertuanya untuk ikut ke pasar.
"Tapi kalau Melinda ini tidak terlalu pemalas, Bu. Setiap malam dia selalu bekerja di ...."
"Bu!" Melinda menyela ucapan ibu mertuanya. Tidak mau jika wanita itu sampai mengatakan pada Yuli di mana ia bekerja. Namun, Dewi justru bersikap tidak acuh dan menatap Melinda secara sinis.
"Di mana, Bu? Jangan bikin aku penasaran." Yuli mendesak. Dewi pun berbisik di telinga Yuli. "Apa! Jadi dia ini pelacur?"
Pekikan Yuli membuat Melinda terkejut. Ia melihat ke sekitar dan ada beberapa orang yang melihat ke arahnya. Melinda lalu menatap Dewi dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa wanita itu mengatakan kepada orang lain perihal pekerjaan anak menantunya yang begitu rahasia.
"Apa maksud Ibu mengatakan itu kepada orang lain?" tanya Melinda. Rasanya ingin sekali menangis apalagi ketika melihat raut wajah Dewi yang seperti tidak merasa bersalah sama sekali.
"Loh, memangnya kenapa? Biarlah orang lain tahu apa pekerjaanmu sebenarnya. Memangnya itu salah?" Dewi justru menantang.
__ADS_1
Melinda tidak menyahut. Memilih untuk diam dan menahan rasa sakit hati yang begitu membuncah. Beban itu rasanya sangat penuh sampai membuat dada Melinda terasa sesak. Namun, sebisa mungkin wanita tersebut menahan. Berusaha untuk bisa mengendalikan diri dan tidak memukul ibu mertuanya.
"Ya ampun, Bu. Ternyata menantumu ini *****. Kok, si Fatih masih mau aja. Padahal 'kan kalau ***** itu suka main sama sembarang orang. Udah kayak salome aja, satu lobang rame-rame," cibir Yuli. Menatap jijik ke arah Melinda yang hanya bisa terpaku tanpa bisa berkata-kata.
"Putraku tentu saja sudah tidak mau menyentuhnya. Gimana lagi ya, Bu Yuli. Cuma pekerjaan itu yang pantas untuk dia dan bisa menghasilkan uang yang banyak untuk berobat Atha." Dewi masih saja tidak sadar bahwa ucapannya mampu melukai hati Melinda.
"Bu, silakan teruskan. Maaf, aku mau pulang."
Tanpa menunggu jawaban dari Dewi, Melinda langsung berjalan pergi meninggalkan kedua wanita itu. Membawa rasa sakit yang mampu memporak-porandakan hatinya. Melinda berusaha sekuat tenaga menahan air mata agar tidak terjatuh.
Ibu mertuanya benar-benar sangat keterlaluan dan seperti iblis yang tidak punya hati. Bagaimana bisa wanita itu membicarakan hal yang tidak seharusnya dibicarakan kepada orang lain. Melinda sungguh tidak habis pikir dengan ibu mertuanya yang tega menyebarkan aib anak menantunya.
Ya Tuhan, aku tidak menyangka ada mertua yang sejahat itu.
Melinda mengusap air matanya dengan cepat. Tidak mau mengundang pusat perhatian orang lain.
"Kau tidak bekerja?" tanya Fatih ketika melihat Melinda sedang duduk santai di kamar sendirian karena Atha masih menonton televisi.
"Tidak." Melinda menjawab bermalasan.
"Kenapa?" tanya Fatih.
Melinda mendongak dan menatap suaminya dengan tatapan yang begitu susah dijelaskan. "Kau tanya kenapa, Mas? Tentu saja aku lelah. Kau pikir aku ini robot yang tidak punya rasa lelah!"
Melihat istrinya yang begitu emosi, Fatih pun langsung diam dan tidak berbicara lagi. Di saat sedang suasana tegang seperti itu, Dewi justru nyelonong masuk ke kamar Fatih tanpa permisi. Melihat kedatangan ibu mertuanya seketika membuat Melinda berdecak keras. Rasa sakit hati atas ucapan dan perlakuan wanita itu masih begitu membekas.
__ADS_1
"Fatih, istrimu itu sangat keterlaluan. Masa aku mengajak dia untuk belanja, justru ibu ditinggalin gitu aja," adu Dewi. Masih merasa kesal karena Melinda pergi begitu saja hingga membuat ia kewalahan karena belanja cukup banyak.
"Salahmu, Bu."
Fatih yang mendengar Melinda menyahut dan menyalahkan sang ibu pun, langsung mendelik tajam ke arah istrinya. "Kau bilang apa? Kenapa kau menyalahkan ibuku? Harusnya kau yang disalahkan karena sudah meninggalkan ibu di pasar."
"Mas, kau tidak tahu. Ibumu ini sudah menyebar aibku kepada orang lain. Dia bilang kalau aku bekerja sebagai wanita malam. Bukankah itu keterlaluan." Melinda ikut mengadu. Berharap Fatih akan membela dirinya karena sejujurnya ucapan Dewi dan apa yang dilakukan wanita itu tadi siang masih menggoreskan rasa sakit sampai sekarang.
"Keterlaluan bagaimana? Bukankah kau memang bekerja sebagai wanita malam? Ibuku bilang yang jujur, apakah itu salah?"
Sungguh di luar dugaan, Fatih justru membela ibunya.
"Mas, tapi apa yang dikatakan oleh ibumu itu aib. Bukan kebanggaan. Aib yang seharusnya tidak diceritakan kepada orang lain. Kenapa kau justru membela ibumu, Mas?" Mata Melinda berkaca-kaca. Berusaha keras menahan air mata agar tidak terjatuh membasahi wajah cantiknya yang menyedihkan.
"Halah, buat apa ditutupi. Biarkan saja orang berkata apa. Yang penting kau bekerja keras dan hasilkan uang yang banyak." Fatih menyeringai.
"Mas, aku tidak menyangka kenapa kau sejahat ini."
"Sudahlah, jangan mengeluarkan air mata buaya seperti itu. Kau terlalu berlebihan. Lagi pula, tadi aku juga mengatakan pada mereka kalau kau menjadi wanita malam untuk biaya pengobatan Atha yang tidak sedikit. Gitu aja lebay," ucap Dewi tanpa perasaan sama sekali. Bahkan, wanita itu berlalu pergi begitu saja tanpa merasa bersalah.
"Baru sehari di rumah saja kau sudah membuat masalah. Dasar wanita tidak tahu diuntung!" Fatih menyusul ibunya keluar kamar.
Berbeda dengan Melinda yang merem*s baju yang dikenakan untuk menyalurkan rasa sakit hati yang begitu dalam dirasakan. Bahkan, air mata Melinda tidak terbendung lagi saat teringat ucapan dan perlakuan suami dan ibu mertuanya yang sudah keterlaluan.
Ya Tuhan, kenapa mereka jahat sekali? Kenapa mereka tidak memiliki perasaan. Harus sekuat apa lagi diriku bertahan, Tuhan. Aku lelah. Aku ingin menyerah.
__ADS_1
"Kenapa Ibu menangis?" Suara Atha dari ambang pintu mengejutkan Melinda yang langsung mengusap air mata dengan cepat.