
"Aku? Pria bodoh?" tanya Theo sambil menunjuk dirinya sendiri. Lelaki itu justru tertawa apalagi saat menatap Fatih yang masih dipenuhi kekesalan. "Sepertinya yang bodoh bukan aku, tapi kau!" Theo menunjuk Fatih, tepat di depan wajah lelaki itu.
"Kenapa aku? Hai, Bung! Kau harus sadar kalau dia hanyalah wanita yang tidak lebih seperti barang rongsokan."
"Itu menurutmu. Padahal dia adalah berlian. Kau sangat bodoh karena sudah menyiakan wanita sehebat dia. Jadi, lebih baik kau tunggu saja surat perceraian dari dia karena aku akan membantu mengurus semuanya." Theo pun merangkul pundak Melinda dan mengajak pergi dari sana. Tak lupa ia meminta anak buahnya untuk mengamankan Fatih agar tidak menyerang.
"Lihat saja! Aku akan membalas kalian!" teriak Fatih saat Theo dan Melinda sudah sampai di ambang pintu.
"Aku akan menunggu pembalasanmu. Kita lihat, siapa yang akan kalah setelah ini." Theo berbicara angkuh. Lalu mengajak Melinda agar segera pergi dari sana.
***
"Aku tidak mau kau terlalu lama di sini," kata Theo melirik rumah Fatih. Setelah dari tempat perjudian, mereka langsung ke rumah Fatih untuk menjemput Atha dan mereka akan pergi dari rumah itu. Theo akan mengajak Melinda dan Atha untuk tinggal di rumahnya.
"Tapi aku belum menata bajuku dan Atha sama sekali, Tuan. Jika harus berbenah, itu pasti membutuhkan waktu yang cukup lama," sahut Melinda.
"Kau tidak perlu membawa apa pun. Tenang saja, aku akan membelikan baju dan semua perlengkapan kalian yang baru. Lebih baik, sekarang kita turun." Theo membuka pintu lalu keluar dari sana. Melinda pun hanya bisa menuruti lelaki tersebut.
Kedatangan Melinda mengejutkan Dewi yang saat itu sedang duduk di depan televisi. Melinda masuk sendiri, sedangkan Theo memilih untuk menunggu di luar terlebih dahulu. Padahal bukan kedatangan Melinda yang dinanti oleh Dewi, tetapi Fatih. Ia tidak sabar menunggu Fatih pulang dengan membawa sertifikat rumah dan juga mobil mewah.
"Kenapa kau yang datang!" sentak Dewi padahal Melinda belum mengucap sepatah kata pun.
"Aku datang untuk menjemput Atha, Bu. Aku akan pergi dari sini." Melinda menjawab santai. Berjalan ke kamar tanpa peduli lagi pada Dewi. Rasa hormat kepada wanita itu seolah sirna sudah.
"Ke mana? Memangnya kau berani pergi dari sini wanita murahan?" tanya Dewi begitu menghina. Pertanyaan tersebut berhasil menghentikan langkah Melinda yang sudah sampai di ambang pintu.
__ADS_1
"Kenapa aku mesti takut, Bu." Melinda berbalik dan menatap Dewi dengan senyuman sinis. Dewi yang melihat respon Melinda pun langsung merasa dongkol karenanya. "Seharusnya Ibu jangan bersikap seperti itu lagi padaku. Ibu juga harus tahu kalau rumah ini sebentar lagi akan menjadi milikku."
"Apa maksudmu!" sentak Dewi.
"Kau nanti akan tahu sendiri, Bu." Melinda yang sudah merasa malas meladeni Dewi pun, akhirnya memilih untuk masuk kamar dan mengajak Atha untuk pergi dari sana.
Walaupun Atha melontarkan banyak pertanyaan, tetapi Melinda tidak sekalipun menjawab. Justru meminta anak itu agar tetap diam dan mengikuti perintahnya.
"Wanita murahan! Kau yakin akan pergi dari sini?" teriak Dewi.
"Tentu saja. Selamat tinggal, Bu."
"Baiklah. Aku menunggu penderitaanmu karena kesombonganmu ini!" teriaknya lagi.
Dewi menatap heran saat Melinda masuk ke mobil mewah apalagi ketika melihat Theo, lelaki asing, yang berdiri tepat di samping mobil tersebut.
"Ibu, dia siapa?" tanya Atha. Mendongak untuk mengamati wajah Theo.
"Kau panggilah dia Paman Theo. Dia lelaki baik yang akan membawa kita pergi dari sini dan kau akan berobat sampai sembuh," sahut Melinda lembut. Mengusap puncak kepala Atha dengan penuh kasih sayang.
"Apakah itu benar? Apakah Paman ini benar-benar baik?" Anak lelaki itu benar-benar cerewet, tetapi Theo sangat senang akan hal itu.
Theo berjongkok lalu menyentuh pundak Atha dan menatapnya lekat. "Kau tenang saja, Anak Ganteng. Paman berjanji tidak akan jahat pada kalian dan akan mengobati sampai kau sembuh."
Atha menatap Theo untuk mencari kesungguhan dari sorot mata lelaki tersebut. Setelahnya, ia pun mengangguk cepat. "Terima kasih, Paman. Nenek, aku pergi dulu ya!"
__ADS_1
Atha melambaikan tangan lalu masuk ke mobil bersama dengan Melinda. Tanpa peduli pada Dewi, Theo pun dengan gegas melajukan mobilnya meninggalkan rumah tersebut.
Semoga ini memang awal kebahagiaan untukku.
***
Fatih terus menggeram marah selama berjalan ke rumah. Amarah dalam dada terasa sangat penuh dan seperti hendak meledak. Dalam hatinya berniat akan memberi pelajaran saat sudah sampai di rumah nanti. Bisa jadi, ia akan membunuh Melinda karena terlalu sakit hati.
"Melinda!" teriak Fatih saat baru masuk rumah. Teriakan itu berhasil mengejutkan Dewi yang sedang berada di kamar.
"Kau kenapa?" tanya Dewi.
"Di mana wanita sialan itu, Bu? Aku harus memberinya pelajaran!" sentak Fatih. Berjalan menuju ke kamar dan diikuti oleh Dewi.
"Dia sudah pergi dari sini." Dewi menjawab cepat. Menghentikan langkah Fatih yang baru saja masuk kamar.
"Pergi? Pergi ke mana dia? Lalu di mana Atha?" tanyanya lagi saat tidak melihat keberadaan putranya.
"Dia sudah pergi dari rumah ini bersama Atha juga seorang pria yang belum pernah ibu lihat sama sekali. Bahkan, mereka menggunakan mobil mewah," jelas Dewi.
Fatih menoleh dan menatap ibunya dengan begitu menuntut. "Seorang pria? Itu pasti Theo. Dasar sialan!"
"Theo? Siapa Theo?" tanya Dewi kian merasa bingung.
"Bu, Melinda dan Theo ternyata sekongkol. Mereka sengaja membuatku murka. Aku tidak tahu kalau ternyata Theo sangat licik. Sampai-sampai sertifikat rumah ini menjadi milik dia bahkan Theo bilang akan mengganti kepemilikan rumah ini atas nama Melinda."
__ADS_1
"Apa!"