
"Kenapa kau diam saja, Tuan? Sebenarnya apa?" tanya Melinda tidak sabar. Pasalnya, sudah beberapa menit berlalu, Theo hanya diam saja tanpa melanjutkan ucapannya.
Theo tergagap. Lalu memalingkan wajah agar tidak terlihat gugup di depan Melinda. "Em, tidak papa. Sebenarnya aku merasa sangat lelah dan ingin dipijit, tapi sepertinya kau lebih lelah. Jadi, lebih baik kau istirahat saja."
Theo berkilah agar Melinda tidak curiga. Padahal ia ingin mengungkapkan isi hatinya, tetapi keberaniannya belum terkumpul. Terlebih lagi, ada hal yang harus ia pertimbangkan sebelum mengungkapkan semuanya.
"Kalau memang kau mau dipijit, biar aku pijit sekarang, Tuan. Hal itu sangat mudah bagiku." Melinda berjalan kembali mendekati ranjang dan hendak naik ke sana. Namun, Theo menahan.
"Tidak untuk malam ini. Sekarang kau kembali saja ke kamar. Kasihan Atha sendirian. Lain kali, kalau aku butuh pijatan, aku akan menyuruhmu." Theo memberi perintah.
Melinda pun mengangguk paham dan pergi dari kamar itu. Dalam hati Melinda mengembuskan napas lega karena jujur ia belum siap jika harus bercinta dengan Theo. Rasanya sangat canggung meskipun ia terbiasa melayani pria yang bukan suaminya.
***
Sama seperti apa yang Theo katakan, ia membawa Atha ke luar negeri untuk menjalani pengobatan. Berapa pun biaya yang harus dikeluarkan, Theo tidak tanggung-tanggung mengeluarkannya demi kesembuhan Atha. Ia tidak tahu jika sang papa ternyata mengetahui apa yang dilakukan olehnya.
"Jadi, dia membawa seorang wanita malam ke rumah bahkan mengeluarkan biaya yang besar untuk menyembuhkan penyakit anak dari wanita itu?" tanya Wijaya—papanya Theo.
"Iya, Tuan. Itu informasi yang berhasil saya dapatkan." Anak buah Wijaya mengiyakan.
Wijaya menggeram marah. Selama ini ia membebaskan Theo. Terserah putranya akan melakukan apa pun yang dimau setelah merasakan sakit hati. Wijaya tidak ingin jika Theo terlalu depresi dan itu akan merusak mentalnya. Namun, ternyata ia salah karena terlalu membebaskan putranya.
__ADS_1
"Kalau begitu, besok aku akan datang ke rumah Theo. Jangan beritahu dia. Apa mereka sudah pulang dari luar negeri?" tanya Wijaya.
"Sedang dalam perjalanan, Tuan. Kemungkinan nanti malam mereka sudah tiba."
Wijaya tidak mengucap sepatah kata pun. Ia menyuruh anak buahnya agar pergi dari ruangannya. Selepas pintu ruangan tertutup, Wijaya duduk bersandar di kursi kebesaran sambil menatap langit-langit kamar. Hatinya merasa penasaran wanita seperti apa yang sudah membuat putranya rela berkorban sampai sejauh itu.
Keesokan paginya.
Wijaya sudah berada dalam perjalanan menuju ke rumah putranya. Rasanya sungguh tidak sabar ingin bertemu dengan Melinda. Setibanya di sana, ternyata Theo sudah berangkat ke kantor. Hanya pelayan yang menyambut kedatangannya.
"Selamat datang, Tuan Besar," sapa pelayan dengan sopan. Wijaya mengangguk tanpa membalas sapaan itu.
"Di mana wanita yang dibawa Theo? Apakah wanita itu ikut Theo ke kantor?" tanya Wijaya tanpa basa-basi.
"Ya."
Dengan langkah cepat, pelayan tersebut mengajak Wijaya menuju ke kamar yang sekarang dihuni oleh Melinda. Ketika pelayan tersebut membuka pintu, ternyata Melinda sedang bermain bersama Atha. Melihat kedatangan mereka, Melinda langsung bangkit. Raut wajahnya tampak terkejut apalagi ketika melihat Wijaya yang terlihat begitu sangar dan seperti tidak bersahabat.
Melinda menatap pelayan. Seolah memberi kode pada pelayan tersebut tentang siapa Wijaya karena ini baru pertama kali ia bertemu dengan pria tersebut.
"Jadi, ini wanita malam yang menggoda putraku?" tanya Wijaya dengan nada tinggi. Seolah memberi jawaban kepada Melinda. "Bagaimana bisa putraku terpikat pada wanita seperti ini?"
__ADS_1
Kalimat penghinaan tersebut membuat Melinda menunduk dalam. Bahkan, ia menarik tubuh Atha agar merapat padanya.
"Ibu, dia siapa? Kenapa galak sekali?" tanya Atha dengan polosnya. Melinda mengedipkan mata. Memberi kode kepada Atha agar diam. "Bu ...."
"Sayang, kau di kamar dulu dengan pelayan ya. Ada hal penting yang akan ibu bicarakan dengan tuan ini. Jadi, kau jangan keluar jika ibu belum selesai berbicara. Apa kau paham?" perintah Melinda dengan lembut.
Tatapan polos bocah itu seperti hendak menolak, tetapi melihat Melinda yang menatapnya penuh harap, Atha pun langsung mengangguk mengiyakan. Dengan perasaan yang teramat gugup, Melinda mengajak Wijaya untuk berbicara di luar kamar saja.
"Kau berani memerintahku!" Wijaya kesal sendiri walaupun ia mengikuti Melinda keluar kamar.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak ada maksud untuk memerintah Anda. Saya hanya tidak ingin Atha ketakutan." Melinda menangkup kedua tangan di depan dada.
Wijaya berdecih sambil menunggingkan senyum. "Memang apa urusannya denganku? Aku datang hanya ingin melihat wanita seperti apa yang sudah menggoda putraku. Ternyata hanya wanita malam biasa yang bahkan kalah jauh dengan wanita yang selama ini dekat dengan putraku."
Mendengar ucapan penghinaan Wijaya, Melinda langsung menunduk dalam. Hatinya merasa sakit seperti diremas dengan kuat. Namun, ia seperti ditampar oleh kenyataan bahwa dirinya memang wanita malam yang tidak akan bisa sebanding dengan Theo.
"Ma-maafkan saya, Tuan." Suara Melinda bergetar karena menahan tangis.
"Kau harus tahu bahwa putraku adalah seorang konglomerat. Pengusaha muda berbakat. Wanita yang pantas bersanding dengannya adalah wanita yang cerdas dan dari keluarga yang sederajat. Bukan wanita murahan dengan anak yang penyakitan," ujar Wijaya tanpa peduli pada perasaan Melinda.
Tangan Melinda merem*s ujung baju yang dikenakan dengan kuat. Menyalurkan rasa sakit hati karena ucapan Wijaya. Bahkan, Melinda sama sekali tidak berani mendongak untuk sekadar menatap lelaki di depannya.
__ADS_1
"Aku akan memberimu uang seratus juta, tapi pergilah dari kehidupan Theo dan jangan sekalipun kau datang ke sini lagi atau bertemu dengan putraku. Wanita malam yang kotor dan murahan tidak akan pernah pantas bersanding dengan putraku!"