
"Mas, aku lelah hidup denganmu." Melinda berbicara lirih di sela isak tangis yang memilukan. "Sampai kapan kau akan terus bersikap kejam seperti ini? Apa salahnya aku padamu, Mas."
Melinda mendongak. Menatap Fatih dengan tajam meski sorot matanya terlihat penuh lara. Sementara Fatih, justru berdecih dan tidak merasa bersalah sama sekali.
"Lalu kau mau minta cerai?" tanya Fatih setengah membentak. Melinda pun mengangguk lemah. Fatih langsung berjongkok dan merem*s dagu wanita itu dengan sangat kuat. "Kau harus ingat satu hal bahwa sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menceraikanmu, ingat itu!"
"Ini ada apa?" tanya Dewi ikut nimbrung ketika suasana sedang panas.
Melinda hanya bisa menutup rapat mulutnya. Hanya bisa pasrah karena ia yakin setelah ini dirinya akan lebih terluka. Ia sudah sangat paham bagaimana tabiat ibu mertuanya.
"Biasalah, Bu. Anak menantumu," adu Fatih.
"Kenapa? Bikin masalah lagi?" Dewi melemparkan tatapan sinis. Fatih bercerita dengan dibuat-buat seolah Melinda lah yang paling bersalah di sini. "Halah, wanita murahan aja belagu."
"Bu, siapa yang belagu? Semurahan itukah aku sampai kau sangat membenciku," timpal Melinda berusaha membela diri meski pada akhirnya setelah ini ia sadar tetap akan kalah.
"Loh, bukannya kau memang murahan? Punya barang bisa dipakai siapa saja," cemooh Dewi.
"Walaupun kau murahan, seharusnya kau sadar, Bu. Dengan pekerjaanku kau bisa tetap makan, Atha bisa berobat bahkan Mas Fatih bisa tetap berjudi. Kalau memang kau mau menyalahkan, seharusnya yang kau salahkan adalah putramu! Bukan aku!" Melinda berbicara menggebu-gebu seiring air mata yang kian mengalir deras.
Plak!
Fatih lagi-lagi menampar Melinda sekuat tenaga. Hingga sudut bibir wanita itu tampak kebiruan.
"Kau memang kurang ajar!"
"Bapak! Jangan sakiti ibu!" teriak Atha. Anak itu berlari kencang dan memeluk ibunya sangat erat. Menahan agar jangan sampai Fatih kembali memukul wanita itu.
"Pergi kau anak kecil! Ini bukan urusanmu!" bentak Fatih.
__ADS_1
"Atha tidak mau! Atha tidak mau kalau sampai Bapak menyakiti ibu." Anak itu tanpa rasa takut berdiri di depan Melinda dan merentangkan tangan untuk melindungi ibunya. Hal itu pun membuat Melinda merasa terharu.
Fatih dan Dewi memilih pergi karena tidak mungkin mereka menyakiti Atha. Walaupun sekarang mereka membenci Melinda, tetapi Atha adalah putra dan cucu mereka satu-satunya.
"Sayang, terima kasih banyak kau sudah melindungi ibu." Melinda memeluk Atha sangat erat dan langsung dibalas oleh anak lelaki tersebut.
"Bukankah Atha sudah bilang tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, Bu. Termasuk bapak dan nenek sekalipun." Atha berbicara yakin.
Melinda pun mengeratkan pelukannya.
Jika bukan karena dirimu, sudah pasti ibu menyerah sejak lama.
***
Theo duduk gelisah. Menatap benda pipih yang tergeletak di atas meja. Sudah sejak beberapa hari yang lalu hidupnya terus saja merasa tidak tenang karena menunggu kabar. Ia pikir, setelah melakukan percintaan panas, Melinda akan datang padanya dan meminta pertanggungjawaban. Namun, ternyata dugaannya salah. Wanita itu sama sekali tidak datang padanya ataupun sekadar memberi kabar lewat pesan.
Sungguh, baru pertama kali ini ia dibuat gelisah hanya karena menanti kabar seorang wanita, setelah ia menutup pintu hatinya. Entah mengapa, Theo merasa Melinda sangatlah berbeda.
Theo pun menghubungi pemilik klub malam itu dan bertanya apakah ada kartu nama miliknya dan uang dua juta yang tertinggal di nakas setelah ia menginap, tetapi pelayan di sana mengatakan bahwa semua tidak ada. Setelah Theo pergi, hanya Melinda yang keluar dari kamar itu dan tidak ada apa pun di nakas. Bahkan, semua pelayan di sana sampai bersumpah kepada Theo.
"Hah!" Theo mendes*hkan napas ke udara secara kasar. "Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa membuatku segelisah ini."
Theo mengacak rambutnya seperti orang frustrasi. Lalu ia pun memilih untuk bergegas pergi ke klub malam. Ia meminta rekaman CCTV di sana terlebih lagi saat Theo menarik Melinda masuk kamar. Setelahnya, Theo meminta anak buahnya untuk mencari informasi tentang Melinda.
"Seharusnya saat itu aku menyembunyikan ponselmu agar kau datang padaku," ujar Theo menyesal.
Ia pun segera pulang dan menunggu kabar dari anak buahnya. Dalam hatinya berharap semoga mereka lekas mendapatkan informasi tentang Melinda.
****
__ADS_1
"Ibu, apakah Ibu akan berangkat bekerja?" tanya Atha saat Melinda sudah bersiap untuk berangkat ke tempat Tante Sisca.
"Tentu saja. Kita masih butuh banyak uang supaya kau cepat sembuh, Sayang." Melinda menjawab lembut.
"Tapi, Bu. Atha masih ingin bersama Ibu. Bagaimana kalau Atha tidak perlu berobat dan kita punya banyak waktu untuk bermain bersama." Atha tersenyum setelah memberi ide.
Melinda tersenyum simpul sambil mengusap puncak kepala putranya. "Kau harus terus berobat supaya lekas sembuh. Sekarang Ibu harus berangkat, berjanjilah kalau kau akan baik-baik di rumah bersama bapak dan nenek."
Setelah mengecup puncak kepala Atha, Melinda pun segera pergi menggunakan ojek online. Bahkan, ketika berpapasan dengan Dewi dan Fatih, ia hanya melengos dan tidak menyapa sama sekali. Rasa sakit hati karena sikap mereka berdua masih begitu terngiang dan terasa menyakiti hati.
Melinda sengaja turun dengan jarak yang cukup jauh dari tempat Tante Sisca. Tidak ingin ada orang yang tahu kalau ia adalah seorang wanita malam. Namun, ketika sedang berjalan ia merasa seperti ada orang yang mengikuti di belakang. Melinda beberapa kali menoleh, tetapi tidak ada siapa pun di belakangnya. Tubuh Melinda pun bergidik ngeri karena hal itu dan ia segera mempercepat langkahnya.
"Itu benar dia!"
Melinda tersentak ketika mendengar suara dari arah belakang. Melinda berbalik dan lagi-lagi tidak mendapati siapa pun di belakang. Pada akhirnya, Melinda memilih untuk berlari sampai ke tempat Tante Sisca.
"Kau kenapa, Mel?" tanya Tante Sisca merasa heran karena melihat Melinda datang dengan napas tersengal. Seperti orang yang habis dikejar setan.
"Tidak papa, Tan. Aku cuma ngerasa ada orang yang mengikutiku tadi." Melinda menjawab ngos-ngosan.
Tante Sisca pun menggeleng saat mendengarnya. "Mungkin hanya perasaanmu saja. Lebih baik kau ganti baju dan bersiap. Sebentar lagi akan ada orang yang memakai jasamu."
Melinda mengangguk lalu masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Ia bercermin. Menatap pantulan dirinya yang terlihat menyedihkan. Luka lebam di sudut bibir masih terlihat jelas, tetapi Melinda berusaha menutupi menggunakan alas bedak.
Kau harus sabar, Mel. Tuhan tidak pernah tidur dan percayalah suatu saat kau akan mendapatkan kebahagian.
Melinda memejamkan mata sembari menghirup napas dalam.
Semoga saja .....
__ADS_1