
Melinda meninggalkan Fatih begitu saja tanpa mengucap sepatah kata pun. Sudah cukup selama ini kesabarannya diuji oleh lelaki itu. Sementara Fatih hanya diam terpaku menatap punggung istrinya yang perlahan lenyap dari pandangan. Amarah dalam dada lelaki tersebut kian memuncak apalagi saat teringat bagaimana tadi Melinda berani melawan dirinya.
"Lihat saja setelah aku menang taruhan ini, aku akan membuangmu wanita murahan. Aku tidak lagi membutuhkanmu." Fatih berbicara tegas. Lalu bergegas pergi meninggalkan rumahnya.
Tanpa sepengetahuan Fatih, Melinda diam-diam datang ke rumah Theo. Kedatangannya begitu disambut hangat oleh lelaki itu, sangat berbeda ketika ia bersama suaminya.
"Kau sudah siap untuk nanti malam?" tanya Theo disertai senyuman manis.
Melinda mengangguk cepat. "Tentu saja. Sudah cukup aku bersabar selama ini. Hatiku sudah tidak sanggup merasakan sakit hati. Walaupun aku tidak tahu nantinya jalan hidupku akan seperti apa, yang pasti aku bisa membalas segala rasa sakit ini."
Theo bertepuk tangan hingga membuat Melinda terkejut. Lalu menatap lelaki itu dengan heran. "Aku suka sekali wanita seperti ini. Kau memang seharusnya kuat, jangan menjadi wanita lemah, Nona."
"Semua berkat kau yang sudah berbaik hati dan bersedia untuk membantuku." Melinda sungguh merasa sangat bersyukur karena dipertemukan dengan Theo.
"Baiklah. Setelah ini kau berdiam diri di rumah dan akan kupanggilkan seorang MUA untuk membuatmu semakin cantik," kata Theo.
"Terima kasih banyak. Tapi ...."
"Tapi apa?" sela Theo. Menatap Melinda penuh selidik.
"Tapi bagaimana dengan putraku? Setelah Mas Fatih tahu, aku tidak yakin putraku akan baik-baik saja." Melinda meragu. Apalagi sekarang ini ia meninggalkan Atha di rumah.
"Untuk hal itu kau tenang saja. Putramu akan bersama kita dan aku akan melindunginya dengan sepenuh hati. Akan kuanggap ia seperti putraku sendiri." Theo berbicara tegas. Hal itu membuat Melinda terharu. Tanpa terasa kedua matanya berkaca-kaca. Belum sepenuhnya percaya ada pria sebaik Theo di dunia ini.
"Terima kasih banyak. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana membalas semua kebaikanmu." Melinda mengusap sudut matanya yang mulai basah. Theo pun tersenyum simpul karenanya lalu meminta Melinda untuk membersihkan diri.
***
__ADS_1
Malam ini Fatih datang lebih awal. Membawa sertifikat rumah milik ibunya. Senyumnya sejak tadi terlihat semringah bahkan gayanya begitu angkuh. Ia tidak peduli meskipun masih ada orang yang menatapnya sinis. Ia akan membuktikan pada mereka semua yang selama ini menghina dirinya.
"Apa kau yakin akan menang malam ini?" tanya lelaki yang biasanya memenangkan perjudian itu. Ia masih belum percaya bahwa Fatih bisa mengalahkan Theo berturut-turut. Walaupun belum tahu siapa Theo sebenarnya, tetapi dirinya merasa yakin bahwa Theo bukanlah orang sembarangan.
"Tentu saja. Apa kau tidak tahu kalau aku berhasil mengalahkan pria itu." Fatih menepuk dada. Menyombongkan dirinya sendiri hingga membuat lelaki itu merasa muak.
"Aku tidak percaya padamu," katanya disertai senyuman meledek hingga membuat Fatih merasa geram.
"Ya sudah. Kalau begitu, lihat saja nanti. Kalau aku menang, aku akan memberimu uang lima juta." Fatih tersenyum licik, begitu pun dengan lelaki tersebut yang langsung bertepuk tangan. Hal itu pun disambut sorak sorai di ruangan itu.
Tanpa sepengetahuan mereka, mobil Theo sudah terparkir di depan tempat tersebut. Senyuman Theo terlihat mengembang saat membayangkan bagaimana raut wajah Fatih nantinya. Berbeda dengan Melinda yang terlihat begitu gugup.
"Kau yakin semua akan berjalan lancar?" tanya Melinda ragu. Theo mengusap pundak Melinda hingga membuat wanita itu terjengkit.
"Ah, maaf. Aku sudah membuatmu terkejut. Kau tenang saja, semua pasti akan berjalan lancar dan inilah waktunya kau membalas dendam," kata Theo memberi penegasan. Melinda hanya bisa diam tanpa mengucap sepatah kata pun. "Kau tetap di dalam mobil terlebih dahulu. Jangan masuk jika aku belum memberi perintah."
"Wah, kau sudah datang." Fatih menyambut hangat kedatangan Theo. Namun, hal itu tidak mendapat balasan apa pun karena Theo bersikap acuh tak acuh. Bahkan, Theo dengan gagah duduk tepat di depan Fatih. Sikapnya sangat berbeda dari sebelumnya.
Sombong sekali pria ini. Lihat saja, setelah ini aku akan membuatnya bertekuk lutut di hadapanku.
"Bagaimana? Apa kau sudah membawa taruhannya?" tanya Theo tanpa basa-basi lagi.
"Kau keluarkan dulu taruhanmu, barulah aku akan mengeluarkan milikku." Fatih berjaga-jaga. Tidak ingin jika Theo sampai membohongi dirinya.
Dengan santainya, Theo meminta anak buahnya untuk mengeluarkan surat-surat mobil miliknya dan menaruhnya di meja. Setelah merasa yakin, Fatih pun menaruh sertifikat rumah yang dibawa tepat di depannya. Tanpa mengulur waktu lagi, permainan itu segera dimulai.
Suasana memanas. Tidak ada yang membuka suara di sana. Semua mata tertuju kepada dua orang itu dengan perasaan harap-harap cemas. Ada yang mendukung Theo, adapula yang meremehkan lelaki itu karena selalu kalah dari Fatih. Begitu pun dengan Melinda yang terus saja merasa gelisah. Terus berdoa semoga Theo bisa memenangkan taruhan kali ini.
__ADS_1
"Sepertinya kau harus bersiap untuk kehilangan mobilmu." Fatih tersenyum miring. Merasa yakin kalau dirinya akan menang.
Theo pun tidak gentar dan tetap saja bersikap santai. "Tidak apa. Mari kita buktikan siapa yang menang kali ini."
Suasana kembali hening. Fatih mulai berdebar tidak karuan. Sampai akhirnya wajahnya memucat ketika Theo berteriak, "kau kalah!"
Demi apa pun, Fatih seketika mematung. Masih tidak bisa mempercayai ini. Dirinya kalah dari Theo, lelaki yang sejak kemarin dikalahkan olehnya.
"Ini tidak mungkin!" Fatih berteriak. Ia bangkit dan mengambil sertifikat rumahnya. Tidak ingin jika barang tersebut sampai jatuh ke tangan Theo.
"Tangkap dia!" perintah Theo.
Anak buah Theo pun langsung mencekal Fatih dan merebut sertifikat rumah dari tangan lelaki itu. Tidak peduli meskipun Fatih sudah meronta sekuat tenaga.
"Ini milikku! Kembalikan!" bentak Fatih. Matanya memerah antara marah dan takut bercampur menjadi satu.
"Tidak akan. Sertifikat ini sudah menjadi milikku." Theo tersenyum puas. "Kau tenang saja, aku punya satu kejutan untukmu."
Fatih pun mulai diam dan melihat Theo penuh dengan selidik. Hatinya merasa cemas dan memiliki firasat buruk bahwa Theo bukanlah lelaki yang bisa ia tandingi.
"Kejutan apa? Aku tidak menyangka ternyata kau begitu licik. Cih!" Fatih berdecih dan geram.
"Sebelum aku memberi kejutan untukmu. Perkenalkan namaku Theo David Arnanda." Theo mengulurkan tangan, sedangkan Fatih hanya menatap tanpa berniat membalas.
Sepertinya nama itu tidak asing, tapi di mana aku mengetahui nama lelaki ini, aku sungguh bodoh karena tidak bisa mengingatnya.
"Ah, baiklah. Sepertinya kau tidak mau berkenalan denganku. Kalau begitu aku akan umumkan saja di sini bahwa sertifikat rumah ini akan aku balik nama menjadi atas nama Melinda."
__ADS_1
Bola mata Fatih membulat penuh. Dirinya semakin dibuat terkejut ketika Melinda berjalan santai masuk ke ruangan itu hingga mengalihkan perhatian semua orang yang berada di sana.