Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam

Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam
TMKKM-16


__ADS_3

Melinda mengerutkan kening. Mengamati lebih dalam pria tampan yang sekarang masih berdiri di depannya sambil tersenyum simpul. Ia berusaha mengingat di mana pernah bertemu lelaki tersebut, tetapi ingatannya sedang sangat buruk. Sama sekali tidak bisa mengingatnya. 


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Melinda. 


"Kau yakin tidak mengingatku, Nona?" Theo balik bertanya. Melinda pun menggeleng lemah. "Apa kau ingat pernah melakukan malam panas bersama seorang pria di sebuah klub malam. Sepertinya waktu itu kau sedang mabuk." 


Melinda pun terpaku sesaat lalu membulatkan mata penuh saat kembali teringat malam panas itu. "Apakah kau lelaki yang ...." 


"Ya. Aku adalah lelaki itu." Theo menyela. Lalu mengulurkan tangan tepat di depan Melinda. "Perkenalkan namaku Theo David Arnanda." 


Bibir Melinda terkatup rapat. Tidak bisa berkata-kata saat Theo menyebutkan nama panjangnya. Ya, Melinda kembali mengingat kartu nama yang disobek oleh Fatih. Nama yang disebut lelaki tersebut sama persis dengan nama yang tertera dalam kartu nama waktu itu. Melinda sungguh tidak menyangka bisa kembali dipertemukan dengan Theo. 


"Hai, Nona. Kenapa kau melamun?" Theo melambaikan tangan di depan wajah Melinda untuk menyadarkan wanita itu. 


Melinda tergagap lalu mendes*hkan napas ke udara secara kasar setelahnya. "Em, Tuan. Maaf untuk malam itu dan kuharap kau melupakannya saja." 


"Tapi aku tidak pernah bisa melupakan malam itu. Aku sungguh merasa bersalah karena sudah memaksamu agar bercinta denganku." Theo tidak sekalipun melepaskan pandangan dari sosok Melinda. 


Menelisik setiap inchi tubuh wanita tersebut dan entah mengapa, Theo merasa kagum. Walaupun hanya melihat sekilas saja, Theo bisa menilai kalau Melinda adalah wanita tangguh. 


"Tidak apa. Lagi pula aku bukan wanita baik, jadi kau tidak perlu meminta maaf, Tuan. Kau sudah membayarku lebih dari cukup." Melinda merasa tidak nyaman ketika menyadari tatapan yang berbeda dari Theo. "Aku permisi dulu, Tuan." 


"Nona tunggu!" titah Theo kembali menghentikan langkah Melinda. Wanita itu pun mulai merasa malas dan mendengkus tidak suka.


"Apalagi?" Melinda mulai tidak sabar sendiri. Merasa Theo terlalu banyak basa-basi. 


"Aku akan menyewa jasamu malam ini," ujar Theo. Membuat Melinda terdiam dalam waktu yang lama. "Tenang saja. Aku akan membayar lima kali lipat dari biasanya." 


Melinda tersenyum  sinis. "Ternyata otakmu sangat licik, Tuan." 

__ADS_1


"Kenapa? Kau kagum padaku?" Theo justru berbicara dengan penuh percaya diri menggoda Melinda. Wanita itu pun mendengkus kasar karenanya. 


Dengan bujuk rayu yang dilakuan oleh Theo, pada akhirnya Melinda terpaksa menerima ajakan lelaki itu. Dalam semalam ini Theo akan membayar jasa Melinda. Tante Sisca pun langsung setuju karena Theo juga memberi tips yang sangat lumayan untuknya. Bahkan, Tante Sisca berharap Theo akan selalu datang ke sini. 


***


Theo duduk di ranjang dan melihat Melinda yang sedang melepas lingerie yang dikenakan. Walaupun gerakan tubuh wanita itu sangat lihai, tetapi Theo bisa melihat raut wajah Melinda yang tampak canggung. 


"Sudah. Jangan diteruskan," perintah Theo. Menghentikan gerakan tangan Melinda yang sedang membuka bra. Melinda tidak membuka suara, hanya mengerutkan kening saat mendengar perintah Theo. "Aku tidak mau kau telanjang di depanku." 


Theo mengambil selimut lalu menutupi tubuh Melinda. Setelahnya, ia meminta Melinda agar duduk di ranjang. Wanita itu pun hanya bisa menurut. 


"Aku tidak mau bercinta denganmu." 


"Kenapa? Jangan khawatir, aku bisa memuaskanmu," sergah Melinda. Bersikap sebagai seorang wanita malam yang sedang merayu pria hidung belang. 


"Hanya itu?" tanya Melinda masih belum percaya. 


"Ya." Theo menghisap rokok itu dengan dalam lalu mengembuskan asapnya secara perlahan. "Aku tidak butuh pelampiasan napsu. Hanya butuh teman untuk mengobrol saja." 


"Kau ini aneh!" cibir Melinda. 


"Memangnya kenapa kalau aku aneh? Em, Nona. Aku masih merasa bersalah perihal malam panas itu. Bagaimana kalau kau meminta permintaan sebagai tanda maaf dariku. Aku sungguh tidak bisa merasa tenang." Theo berusaha memancing Melinda. Namun, wanita itu justru hanya diam seribu bahasa. 


Theo menepuk bahu Melinda untuk menyadarkan wanita itu dari lamunan. "Jangan melamun atau kau bisa saja kesambet." 


Melinda menggerutu dalam hati. Merasa Theo mulai menyebalkan baginya. "Tuan, janganlah berbasa-basi. Aku tidak suka!" 


"Baiklah, Nona. Begini saja. Bagaimana kalau aku memberi penawaran untukmu. Kudengar hidupmu sangat menyedihkan. Aku akan membantumu memberi pelajaran untuk suamimu." 

__ADS_1


Bola mata Melinda membulat penuh. Tidak percaya pada Theo yang bisa mengetahui tentang dirinya padahal baru dua kali ini mereka bertemu. 


"Ka-Kau tahu dari mana?" tanya Melinda mulai waspada. Entah mengapa, ia merasa kalau Theo bukanlah orang sembarangan. 


"Kau tidak perlu tahu siapa yang sudah memberi informasi tentangmu. Aku hanya butuh kau menjawab iya atau tidak saja. Kalau kau setuju, aku juga akan membantu biaya pengobatan putramu sampai sembuh." 


Makin tersentaklah Melinda mendengar ucapan Theo. Tidak menyangka jika lelaki itu akan memberikan penawaran yang bahkan sama sekali tidak pernah terbesit dalam angan. Hati Melinda mendadak ragu. Batinnya merasa sangat bimbang antara menerima atau menolak permintaan Theo. 


"Aku tidak bisa. Kau bisa saja menipuku dan mencari keuntungan dariku," tukas Melinda. Menatap Theo penuh selidik. Namun, lelaki itu justru menarik sebelah sudut bibirnya. 


"Kau tenang saja. Aku tidak mungkin melakukan itu. Aku hanya ingin menolongmu, kalau kau menolak pun tidak apa. Tapi semoga kau tidak menyesali keputusanmu ini," ucap Theo sambil tersenyum licik. 


Melind pun kian merasa bimbang. Sepertinya memang ia terlalu cepat mengambil keputusan. 


"Bagaimana?" Kali ini suara Theo terdengar lebih tegas.


"Kalau aku setuju, maka apa yang harus aku lakukan?" tanya Melinda sebelum ia mengambil keputusan, ia harus mempertimbangkan dengan matang. 


"Tugasmu gampang. Kau harus melayaniku setiap malam." 


"Hanya itu saja?" tanya Melinda lagi. Masih belum percaya bahwa hal yang dilakukan semudah itu. 


"Ya. Kau bisa berhenti bekerja dari sini. Aku pun tidak akan pernah mengekangmu. Kau bisa datang seperti biasa saat kau bekerja. Berangkat sore dan pulang tengah malam. Kalau kau mau menginap di rumahku, aku justru akan merasa sangat senang." 


"Kau jangan bercanda, Tuan." Melinda masih belum percaya. 


"Tentu saja aku sangat serius. Kuberi kau waktu lima menit dari sekarang." Theo melirik jam tangan lalu menatap Melinda sambil tersenyum simpul. "Cepatlah, Nona. Waktumu tidak banyak." Theo mengompori Melinda. 


"Em  ... aku ... aku ....." 

__ADS_1


__ADS_2