
"Ibu baik-baik saja, Sayang." Melinda memeluk Atha untuk menenangkan hatinya sekaligus mengusap air mata yang masih meninggalkan jejak di wajah.
"Apakah Ibu tidak berbohong pada Atha? Bu, apakah Nenek dan Bapak jahat pada Ibu?" Anak itu masih saja penasaran. Memberondong dengan banyak pertanyaan.
Melinda melerai pelukan itu lalu membopong Atha dan mengajaknya tidur. "Mereka semua itu baik. Tidak ada yang jahat. Lebih baik sekarang kita tidur."
Anak itu pun menggangguk mengiyakan tanpa bertanya lagi. Kemudian, memeluk sang ibu dengan erat dan tertidur lelap setelahnya.
Berbeda dengan Melinda yang sama sekali tidak bisa tidur. Pikirannya berkelana entah ke mana. Ada kegelisahan yang dirasakan bercampur dengan rasa amarah yang masih memenuhi dada. Sungguh, Melinda merasa sakit atas sikap Fatih dan Dewi yang baginya sangat keterlaluan.
Aku tidak tahu sampai kapan diriku akan tetap kuat dan bertahan.
Melinda memejamkan mata seiring bulir-bulir bening yang mengalir dari kedua sudut matanya.
***
Ketika Melinda sudah mulai bekerja lagi, Fatih sibuk di meja judi. Bermain dengan lawan yang biasanya. Ia sama sekali tidak menyerah walaupun selalu kalah. Tekadnya harus menang meski hanya sekali. Apalagi ia selalu menjadi bahan cemoohan teman-temannya. Membuat Fatih bersikeras untuk meninggikan harga dirinya yang sudah diinjak-injak. Apa pun caranya ia harus menang walaupun harus kehabisan harta benda sekalipun. Ia harus bisa membuat mereka semua membayar tinggi atas penghinaan yang sudah mereka lakukan.
"Kau kalah lagi. Hahaha. Kau yakin belum mau menyerah?" tanya salah seorang lawan Fatih.
"Sialan!" Fatih mengumpat geram. "Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupku. Pokoknya aku akan datang lagi besok dan pasti aku akan menang."
Ucapan Fatih mendapat sambutan tepuk tangan meriah dan tawa meledek dari orang-orang di sana. Bukannya merasa salut, mereka justru makin meledek lelaki tersebut.
"Kau sungguh luar biasa. Baiklah, kami akan menunggumu datang. Semoga Dewi Fortuna memihakmu besok," ujar lelaki itu. Bibirnya tersungging. Tersenyum sinis ke arah Fatih yang sudah mengepalkan tangannya erat.
__ADS_1
Setelah kesal terus mendapat ledekan, Fatih pun langsung pulang bahkan tanpa berpamitan pada mereka. Membawa rasa kesal karena hinaan yang begitu terngiang di kepala. Rasanya ingin sekali menghabisi mereka satu persatu, tetapi belum ada keberanian karena mereka memiliki uang banyak. Ia sadar bahwa uang adalah pemegang kekuasaan tertinggi dalam hidup ini. Apa pun bisa dibeli termasuk hukum sekalipun. Jadi, sudah bisa dipastikan jika Fatih melawan, justru dirinya yang akan kalah.
Membawa amarah dalam dada dan tidak mau melampiaskan pada putranya, Fatih pun memilih untuk datang ke tempat prostitusi milik Tante Sisca. Menunggu istrinya yang masih bekerja di sana. Itu lebih baik menurutnya. Apalagi, ia bisa langsung meminta uang pada Melinda setelah ini.
Sebenarnya, ada sebersit rasa sakit yang Fatih rasakan jika membayangkan Melinda sedang bercinta dengan pria lain. Namun, ia selalu menepis perasaan itu. Menganggap Melinda bukan lagi istrinya melainkan boneka pecipta uang. Dengan pekerjaan wanita tersebut, ia bisa memiliki uang dengan mudah meskipun selalu habis di meja judi. Setidaknya, ia tidak perlu bersusah payah bekerja.
Setelah hampir setengah jam menunggu, Fatih melihat Melinda keluar dan langsung mendekat ke arahnya. Bahkan, Melinda pun langsung duduk di belakang Fatih tanpa berbicara apa pun. Setelahnya, Fatih pun melajukan motornya pulang.
Setibanya di rumah, suasana sudah sepi. Melinda hendak ke rumah untuk beristirahat. Namun, Fatih justru menahan lengan wanita tersebut yang baru saja hendak masuk ke ruang tamu.
"Kenapa, Mas? Aku sudah capek. Mau tidur." Melinda menjawab tidak acuh. Bahkan, ia berusaha menepis tangan Fatih meskipun itu hanya sia-sia.
"Mana uangmu? Berikan padaku!" perintah Fatih. Melinda pun langsung menggenggam tas dengan kuat agar tidak direbut oleh suaminya.
"Besok kau juga dapat lagi, bukan? Lebih baik sekarang berikan itu padaku! Untuk berobat Atha, kau bisa mencarinya lagi!" bentak Fatih mulai geram karena Melinda berani membangkang.
"Mas! Sudah kubilang kalau aku tidak akan memberikan uang ini. Seharusnya kau mikir, Mas! Mencari uang bukan tugasku, tapi kewajibanmu! Harusnya aku yang minta padamu bukan malah sebaliknya!"
"Bedeb*h!"
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Melinda. Wanita tersebut memejamkan mata saat merasakan rasa panas yang menjalar bercampur dengan rasa nyeri yang terasa sampai ke relung hati.
"Bukankah kau tahu kalau aku ini pengangguran? Aku cuma menggunakan uangmu untuk taruhan dan saat aku menang, aku akan mengembalikan itu, kenapa kau sangat pelit!" bentak Fatih menggebu-gebu. Rasa amarah yang memuncak membuat lelaki itu menatap istrinya sengit.
__ADS_1
"Mas, sampai kapan aku harus menunggumu menang? Setiap malam kau selalu meminta uangku dan pulang tanpa membawa apa pun. Padahal seharusnya uang itu untuk berobat Atha. Sampai kapan kau akan menjadi suami yang tidak berguna seperti ini, Mas." Melinda berbicara dengan nada tinggi, tetapi sorot matanya terlihat penuh kepiluan.
Bukannya merasa iba, Fatih justru kian geram kepada istrinya karena menganggap wanita itu sudah menghina dirinya. Tanpa sadar, Fatih mencengkeram lengan Melinda dengan sangat kuat hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Berani sekali kau menghinaku seperti ini! Seharusnya kau sadar kalau bukan aku yang menikahi dan memungutmu, kau hanyalah sampah! Dan sekarang kau itu tidak lebih dari seekor binatang yang bisa bercinta dengan siapa saja!"
Sakit!
Hati Melinda merasa sakit karenanya. Sekuat apa pun wanita itu menahan air mata agar tidak terjatuh. Namun, semua pertahanan itu pada akhirnya luruh. Cairan bening itu membanjir tanpa bisa dibendung lagi.
"Jangan menangis! Kau pikir aku akan kasihan padamu jika kau menangis seperti ini? Cih, tidak akan pernah!" Fatih menghempaskan tubuh Melinda dengan kasar hingga membuat wanita tersebut hampir tersungkur ke lantai.
"Mas, aku sudah lelah padamu. Aku mau kita bercerai!" kata Melinda lantang. Menghentikan langkah Fatih yang akan memasukan motor.
Lelaki itu berbalik. Lalu merem*s dagu dan mendelik tajam ke arah wanita tersebut. Sebelah bibirnya tertarik saat melihat Melinda yang sudah menangis dan terlihat sangat menyedihkan.
"Bercerai?" Fatih menyeringai. "Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikanmu. Walaupun kau menangis darah sekalipun. Kalau kau ingin bercerai dariku maka itu hanyalah mimpi!"
Fatih pun meninggalkan Melinda yang masih menangis.
"Kenapa, Mas? Kenapa kau bersikap seperti itu. Apakah kau tidak sayang lagi padaku?" Melinda kembali meninggikan nada bicara agar bisa didengar oleh suaminya.
"Sayang? Untuk apa aku menyayangi wanita murahan sepertimu."
Melinda tidak mampu lagi berkata-kata. Air mata yang mengalir tidak sanggup menjelaskan luka hati yang ia derita. Batinnya sudah terkoyak parah dan entah sampai kapan ia mampu bertahan. Melinda tidak tahu itu. Yang ia inginkan adalah segera bisa terlepas dari penderitaan yang tiada habisnya ini.
__ADS_1