
Melinda terus saja merasakan kesedihan yang tidak bisa lagi dijabarkan dengan kata-kata. Hanya air mata wanita tersebut yang menjadi pertanda betapa terluka hatinya. Namun, sebisa mungkin Melinda meredam tangis agar tidak membangunkan Atha yang masih terlelap tidur. Sekarang ini, hanya anak itulah yang menjadi kekuatan untuknya bertahan dari segala lara yang datang bertubi-tubi.
Ke mana lagi aku harus mengadu? Aku tidak punya siapa pun. Tidak ada tempatku berkeluh kesah dari segala rasa sakit ini.
Mata Melinda terpejam seiring rasa sakit yang menusuk sukma. Rasa sakit yang harusnya bisa sedikit terobati dengan menangis, justru kian sesak terasa. Seolah melumpuhkan jiwanya yang perlahan rapuh.
"Maafkan ibu, Sayang." Melinda mengusap puncak kepala Atha lalu mendaratkan ciuman di kening anak tersebut. Untuk sekarang ini, Melinda harus lebih bisa kuat bertahan lagi demi Atha. Hanya demi anak itu.
***
Seharian ini Melinda menghabiskan waktu bersama Atha. Setelah memeriksa kesehatan Atha, Melinda pun bermain bersama bahkan menuruti semua keinginan anak tersebut. Melihat senyum Atha yang memancarkan kebahagiaan, seolah menjadi pelipur lara bagi hati Melinda.
"Ibu, besok lagi, ya." Atha berbicara antusias. Melinda pun mengangguk mengiyakan sambil mengusap perlahan rambut anak tersebut.
"Tentu saja. Apa pun yang kau mau, akan ibu usahakan bisa terwujud. Asal kau berjanji untuk segera sembuh." Melinda mencubit hidung Atha saking gemasnya.
"Tentu saja. Kalau aku sembuh dan sudah besar nanti. Maka aku akan menjaga Ibu. Aku tidak akan membiarkan satu orang pun menyakiti Ibu. Termasuk bapak ataupun nenek sekalipun," kata Atha penuh semangat.
Hal itu justru menciptakan desiran di hati Melinda. Ada rasa sesak dan haru yang bercampur menjadi satu. Tanpa terasa, kedua mata wanita itu terlihat basah. Sebelum Atha melihat, Melinda menghapus dengan cepat. Kemudian, memeluk anak itu sangat erat seolah tidak ingin melepaskan.
"Kau memang pahlawan ibu. Ibu sayang kamu."
__ADS_1
Melinda pun memilih untuk menyudahi pembicaraan tersebut dan langsung mengajak Atha untuk segera pulang. Tidak ingin jika putranya tersebut kelelahan. Ketika Atha sudah terlelap tidur, Melinda langsung bersiap untuk berangkat kerja.
Di saat sedang bersiap-siap, Dewi datang sambil menatapnya sinis. Melinda pun berusaha bersikap tak acuh dan tetap sibuk bersiap-siap.
"Cuma jadi pelacur aja belagu!"cibir Dewi. Seolah menguji kesabaran Melinda. "Bilangnya kerja di kafe, eh ternyata di klub malam."
"Bu, aku mau berangkat. Jangan merusak suasana hatiku." Melinda mencoba memberanikan diri untuk melawan. Tidak mau jika harus terus diinjak-injak.
"Berangkat tinggal berangkat. Mau ngelonte aja kenapa mesti pamit."
Kali ini kesabaran Melinda setipis tisu. Ia bangkit dan menatap Dewi dengan tatapan menantang. Tanpa ada ketakutan sama sekali walaupun wanita itu adalah ibu mertuanya.
"Bu, berhentilah menghinaku. Bagaimanapun juga aku berjuang keras mencari uang untuk pengobatan cucumu. Apalagi, sekarang Mas Fatih selalu minta uang padaku untuk berjudi. Harusnya kau menyalahkan anakmu yang tidak bisa bertanggung jawab dengan baik terhadap anak dan istrinya," kata Melinda tanpa rasa takut.
"Ini ada apa?" tanya Fatih yang baru masuk rumah. Ia menatap Melinda dan Dewi secara bergantian.
"Fatih, istrimu ini memang kurang ajar. Mentang-mentang punya uang, sombongnya minta ampun. Dia menjelekkanmu bahkan berani membentak ibu. Fatih, sungguh hati ibu merasa sakit dengan sikap angkuhnya." Dewi mengadu sambil mengusap mata yang tidak mengeluarkan cairan bening sama sekali. Sementara Melinda berdecak kesal karena ibu mertuanya begitu pandai bersandiwara.
Tanpa bertanya kepada Melinda, Fatih langsung mendekati waktu itu dan mencengkeram kedua lengan istrinya dengan sangat kuat. "Kau sudah berani kurang ajar?"
"Mas, kau belum tahu yang sebenarnya. Ibumu ...."
__ADS_1
"Ibuku apa!" sela Fatih. "Kau akan menghina dan membentaknya lagi? Seharusnya kau sadar kalau yang hina itu adalah dirimu!"
"Mas, kenapa kau berbicara seperti ini? Aku ini istrimu, Mas." Melinda hendak menangis lagi. Sungguh, ia sangat membenci dirinya yang cengeng dan rapuh ini. Padahal ia tidak ingin lemah. Namun, ia kini sadar bahwa semakin melawan maka dirinya akan semakin kalah.
"Daripada kau membuat masalah di sini. Lebih baik sekarang kau berangkat dan carilah uang yang banyak." Fatih menghempaskan tubuh istrinya dengan kasar.
Tidak mau berdebat yang justru akan membuat hatinya kian sakit, Melinda pun memilih untuk pergi. Ia terlebih dahulu mencium Atha yang sudah tertidur pulas. Beruntung, Atha tidak mendengar pertengkaran mereka tadi.
Melinda berangkat dengan hati yang kacau. Pikirannya sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Ia frustrasi menghadapi sikap mertuanya dan juga suaminya. Semakin hari Melinda merasakan hidupnya kian terasa pelik. Tidak mau buyar ketika berkerja, diam-diam Melinda meminta izin kepada Tante Sisca untuk libur malam ini.
Melinda tidak langsung pulang, tidak mau hatinya kembali dikacaukan oleh keadaan jika melihat dua orang menyebalkan di rumah. Sementara Melinda tidak memiliki satu pun sahabat baik. Jika teman di tempat prostitusi itu hanyalah sebatas teman bekerja.
Langkah Melinda tanpa sadar menuju ke sebuah klub malam. Baginya sekarang ini hanya tempat itulah yang membuat ia bisa melupakan sejenak masalah hidupnya. Walaupun menjadi wanita malam, tetapi jujur Melinda tidak pernah sekalipun menyentuh minuman haram tersebut.
Namun, sekarang ini tidak ada lagi pelarian bagi Melinda selain di sana. Wanita itu memesan satu botol minuman keras dan menenggaknya dengan cepat. Tidak peduli meskipun minuman tersebut terasa asing dan seperti akan membakar tenggorokan.
"Ya Tuhan, kepalaku mulai pusing sekali." Melinda pun merebahkan kepala di meja. Merasakan semua yang dilihatnya terasa berputar-putar. Beberapa kali Melinda menggeleng untuk menjernihkan pandangan, tetapi semua percuma. Seperti banyak semut terbang yang dilihatnya.
"Kau memang sialan, Fatih!" Melinda mulai meracau tidak jelas. "Bodohnya aku masih saja menjadi istrimu dan bertahan denganmu. Apalagi tinggal seatap dengan wanita tua itu. Ahh."
Semakin lama, Melinda semakin meracau tidak jelas. Semua kebencian yang selama ini dipendam, kini keluar tanpa sadar. Di sela rasa pusing yang mulai bertambah parah, Melinda terus saja meracau dan mengumpati suami juga mertuanya. Bahkan, Melinda bisa tiba-tiba menangis sesegukan. Beberapa orang yang berada di sana pun hanya melihat dengan heran.
__ADS_1
"Ah, lebih baik aku pulang. Atha pasti sudah menungguku." Melinda bangkit dan mengambil tas yang tergeletak di meja. Lalu ia pun berjalan sempoyongan hendak pergi dari tempat itu. Walaupun tidak langsung pulang ke rumah atau tidur di pinggir jalan, yang terpenting Melinda bisa keluar dari tempat yang penuh kemaksiatan tersebut.