
Melinda menggantungkan ucapannya karena masih merasa bimbang. Sementara Theo menunggu jawaban Melinda dengan setia. Ia duduk tegak dan terus menatap wanita itu.
"Kau setuju atau tidak?" tanya Theo setelah kesabarannya hampir habis.
Melinda menghirup napas dalam terlebih dahulu. Mempertimbangkan semuanya dengan matang. "Baiklah. Aku setuju."
Senyum Theo terlihat mengembang sempurna. Merasa senang karena Melinda akhirnya setuju. Theo pun meminta Melinda agar segera memakai pakaiannya kembali.
"Pulanglah. Sudah cukup untuk malam ini dan kau bisa bekerja padaku mulai besok." Theo memakai jaket yang sempat dilepas lalu berjalan keluar kamar meninggalkan Melinda. Tak lupa, Theo menaruh uang lima juta di atas kasur.
Setelah pintu kamar tertutup rapat, Melinda menghela napas panjang. Hatinya belum sepenuhnya yakin, tetapi ia juga tidak mau melewatkan kesempatan. Melinda berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua ini adalah garis takdir yang harus dilalui.
Tuhan, semoga segala penderitaan yang harus kulalui akan segera berakhir.
***
"Kenapa kau sudah pulang? Apa kau tidak bekerja!" Suara Fatih yang menggelegar mengejutkan Melinda. Padahal wanita itu baru saja berdiri di ambang pintu.
Melinda hanya melengos lalu berjalan santai ke kamar. Berusaha tidak peduli lagi pada suaminya yang selalu menorehkan luka di hati. Sudah cukup kesabaran Melinda selalu diuji selama ini. Sekarang, Melinda merasa yakin kalau ia memang butuh bantuan Theo untuk membalas segala rasa sakit hati yang telah dirasakan.
Melihat sikap Melinda yang begitu acuh tak acuh, seketika membuat Fatih meradang. Dengan langkah tegas lelaki itu mendekati Melinda lalu menjambak rambut wanita tersebut dengan sangat kuat. Melinda yang terkejut atas apa yang dilakukan oleh Fatih pun hanya bisa meringis kesakitan sambil berusaha melepaskan tangan Fatih dari rambutnya.
"Kau sudah sombong sekarang?" Nada bicara Fatih terdengar penuh penekanan.
"Mas, ini sakit. Lepaskan." Melinda hampir menangis. Jambakan itu sangat kuat seperti hendak mencabut rambut Melinda dari akarnya. Bahkan, Melinda merasa kepalanya terasa perih dan memanas.
__ADS_1
"Jangan belagu! Kau masih istriku, bodoh! Sekarang, berikan uangmu padaku! Aku yakin kalau kau pasti sudah punya banyak uang." Fatih menjambak sampai menggerutukkan gigi. Rasa simpati tidak lagi dimiliki oleh lelaki tersebut.
"Aku tidak punya uang, Mas. Tubuhku tidak enak badan jadi aku pulang," ujar Melinda berbohong. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa dirinya memiliki banyak uang karena sudah pasti Fatih akan merebut semuanya.
"Jangan pernah berbohong padaku!" sentak Fatih. Makin menguatkan jambakannya. Melinda tidak menyahut, hanya menangis karena rasa sakit yang dirasakan.
Dewi yang mendengar keributan pun segera masuk dan tersenyum sinis ketika melihat Melinda masih dijambak oleh Fatih. Sama sekali tidak mau menolong wanita tersebut. Bahkan, Dewi mengangguk cepat ketika Fatih memberi kode padanya. Dengan gegas, Dewi merebut tas milik Melinda yang sedang dipeluk erat.
"Jangan, Bu!" teriak Melinda. Kali ini, wanita itu tidak sanggup lagi menahan tangis yang mulai mengeras.
Tanpa peduli pada teriakan Melinda, Dewi langsung membuka tas itu. Wajahnya tampak semringah ketika melihat banyak sekali uang lembaran seratus ribuan. Begitu juga dengan Fatih yang langsung melepaskan jambakannya dengan kasar.
"Aku mohon, jangan ambil uang itu." Melinda menangis memohon. Namun, Fatih dan Dewi sama sekali tidak peduli. Tetap mengambil semua uang tersebut.
"Dasar pembohong! Kau bilang tidak punya uang, ternyata kau memiliki uang yang sangat banyak. Lebih dari yang biasanya." Fatih menggeram dan menonyor kepala Melinda dengan sangat kencang.
Nyatanya, tangisan Melinda yang memilukan tersebut tidak mengubah keputusan Fatih untuk mengambil semua uang itu. Fatih memberi bagian pada Dewi lalu kedua orang itu pun meninggalkan Melinda begitu saja. Tangisan Melinda yang begitu memilukan pun tidak menyentuh hati keduanya.
"Ibu, jangan menangis." Atha mendekati Melinda lalu membantu mengusap air mata wanita tersebut.
Melinda mengusap dengan cepat lalu tersenyum getir sambil menangkup kedua pipi Atha. "Ibu tidak menangis, Sayang."
"Jangan berbohong pada Atha lagi, Bu. Atha bukan lagi anak kecil yang bisa dibohongi. Atha tahu, bapak dan nenek sudah menyakitimu, Bu."
Tatapan mata polos Atha seketika membuat hati Melinda tersentuh. Wanita itu memeluk putranya dengan erat. Bahkan sangat erat. Seolah meluapkan segala rasa sakit yang terasa menggerogoti sukma. Menjadikannya sebagai wanita lemah tak berdaya.
__ADS_1
Hanya Atha. Hanya anak kecil inilah yang menjadi pelipur lara.
"Jangan dipikirkan, Sayang. Suatu saat pasti bapak dan nenekmu akan sadar. Bahkan, kita bisa menemukan kebahagiaan. Sekarang, kau harus fokus pada kesembuhanmu." Melinda mencium puncak kepala Atha sangat lama. Lalu mengajak anak tersebut untuk segera tidur.
****
"Tuan, sepertinya wanita itu mendapat siksaan dari suaminya lagi. Kami mendengar pertengkaran mereka walau tidak jelas," adu seorang anak buah Theo yang bertugas menjaga Melinda.
Theo yang saat itu sedang fokus dengan laptop pun langsung menghentikan kegiatannya. Menatap anak buahnya dengan tatapan menyelidik.
"Apa kau yakin?" tanyanya masih belum percaya.
"Iya, Tuan. Saya punya saran. Bagaimana kalau kita memasang CCTV tersembunyi di rumah itu?" ujar anak buah Theo.
"Ide bagus juga." Theo mengusap dagu sambil memikirkan saran tersebut. "Tapi, apa kau bisa memasang CCTV di sana?"
"Anda bisa meminta Nona Melinda untuk memasangnya, Tuan. Kalau memang tidak bisa maka nanti saya akan memikirkan cara supaya bisa masuk ke rumah itu." Anak buah itu memberi ide lagi.
Theo pun langsung setuju. Ia mengambil ponsel dan segera menghubungi Melinda. Namun, tidak ada satu pun panggilan yang diterima. Tanpa lelah, Theo terus mencoba menghubungi karena ia juga merindukan suara wanita tersebut. Sampai pada akhirnya saat panggilan kelima ....
"Hallo."
Jantung Theo berdebar kencang ketika mendengar suara Melinda yang terdengar parau. Jelas sekali jika wanita itu baru saja menangis.
"Hallo, ini siapa?" tanya Melinda lagi karena ia belum menyimpan nomor Theo. "Tidak jelas. Maaf, lebih baik aku matikan saja."
__ADS_1
"Jangan dimatikan!" perintah Theo menghentikan Melinda. "Ini aku, Theo."