Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam

Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam
TMKKM-24


__ADS_3

"Jadi kau kalah judi!" bentak Dewi sambil mendelik tajam.


Fatih terdiam sesaat dan tampak gelisah karena keceplosan. Padahal sebelumnya ia berencana akan menyembunyikan dari Dewi. Ia harus mencari alasan agar Dewi tidak murka padanya. 


"Bu, pria itu licik. Dia ingin menghancurkanku karena pengaruh wanita sialan itu!" Fatih masih membela diri. Berharap sang ibu tidak akan terlalu murka dan kecewa. 


"Entah licik atau tidak. Bukankah saat kau kalah, itu artinya tetap kalah? Lalu bagaimana dengan rumah ini, Tih? Bagaimana!" Dewi tak kuasa lagi menahan air mata. Tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia harus terusir dari rumah ini. Rumah peninggalan mantan suaminya dan merupakan harta satu-satunya yang ia miliki.


"Aku akan merebut sertifikat rumah ini kembali, Bu. Kau tenang saja."


"Tenang? Kau menyuruh ibu untuk tenang padahal keadaan sudah serumit ini? Ibu tidak tahu, bagaimana jalan pikiranmu!" Dewi menatap putranya dengan penuh kekecewaan.


"Bu, aku juga tidak tahu harus bagaimana lagi. Jadi, lebih baik Ibu diam saja jangan menambah rumit pikiranku!" sentak Fatih tanpa sadar.


Tak ayal sebuah tamparan mendarat di pipi lelaki itu. Fatih terpaku sambil memegang pipinya yang terasa memanas. Ini adalah tamparan pertama kali yang diberikan oleh Dewi padanya. Fatih menatap ibunya dengan memelas, tetapi Fatih bisa melihat jelas rahang ibunya yang mengetat. Betapa wanita itu sedang dipenuhi emosi sekarang ini.


"Pokoknya ibu tidak mau tahu! Apa pun caranya kau harus bisa mengambil kembali sertifikat rumah ini! Kalau tidak bisa maka ibu tidak akan pernah sudi memaafkanmu!" 


Brak! 


Dewi membanting pintu kamar dengan kencang hingga membuat Fatih terkejut. Setelah melihat kemarahan sang ibu, Fatih hanya bisa mengusap wajahnya secara kasar seperti orang yang frustasi. Ia sadar bahwa sekarang ini hidupnya sedang berada dalam kehancuran.


Awas saja kau, Mel. Aku tidak terima semua ini. Aku akan membalasnya lebih pedih dari yang kurasakan. Dasar wanita sialan! 

__ADS_1


Tangan Fatih terkepal erat. Lalu ia pun memilih untuk pergi dari rumah tersebut untuk sekadar menenangkan diri. 


****


"Ibu, kita di mana? Rumah siapa itu? Kenapa seperti istana?" tanya Atha terpukau ketika melihat rumah mewah milik Theo. 


"Ini rumah Paman Theo, Sayang." Melinda mengulas senyum ketika melihat wajah putranya yang terlihat berbinar bahagia. 


"Wah, besar sekali, Bu. Apakah ada kolam renang di dalamnya? Apakah ada TV besar seperti di film-film?" Atha makin cerewet. 


"Tentu saja. Nanti kau akan tahu sendiri kalau sudah masuk ke sana dan kau boleh anggap rumah ini adalah rumahmu sendiri," sahut Theo ikut nimbrung pembicaraan ibu dan anak tersebut. Mendengar jawaban Theo, Atha pun langsung berjingkrak kegirangan. 


Setelah mobil berhenti tepat di depan pintu utama, mereka bergegas masuk. Benar seperti dugaan sebelumnya, Atha tampak sangat riang dan mengagumi apa pun yang ada di rumah Theo. Melihat senyum putranya yang mengembang sejak tadi, Melinda pun tak kuasa menahan air mata haru. 


Ketika sudah selesai mengelilingi  rumah tersebut untuk menyenangkan hati Atha, Theo meminta mereka agar segera beristirahat di kamar yang sudah dipersiapkan sebelumnya. 


"Ada yang ingin aku bicarakan, Tuan." Melinda meragu. Theo yang melihat itu pun segera mengajak Melinda ke kamarnya dan meminta salah seorang pelayan untuk menemani anak lelaki tersebut. 


Setibanya di kamar, Theo langsung mengunci pintu karena tidak ingin ada siapa pun yang mengganggu pembicaraan mereka nantinya. 


"Ada apa?" tanya Theo. Duduk santai di ranjang dan meminta wanita itu agar duduk di depannya. 


"Tuan, aku hanya bingung kenapa kau sebaik ini padaku. Padahal kita awalnya adalah dua orang asing yang tidak saling mengenal. Kalau bisa menjawab jujur, apakah kau tidak memiliki niat tertentu padaku?" tanya Melinda tak kuasa lagi menahan kecurigaan. 

__ADS_1


"Tentu saja ada." Theo menjawab cepat. Melinda mendongak dan menatap Theo penuh selidik. Theo yang melihat tatapan Melinda pun langsung menunggingkan senyum. "Niatku karena ingin menolongmu lepas dari penderitaan yang kau rasakan selama ini." 


Jawaban itu kembali membuat Melinda tercengang. "Tapi, aku belum bisa sepenuhnya percaya ini." 


"Kenapa? Kau tidak perlu bertanya apa pun. Percayalah kalau aku membantumu dengan tulus dan tidak ada niatan buruk apa pun." Theo memegang kedua pundak Melinda dan memaksa wanita itu untuk bertatapan dengannya. 


"Tapi, Tuan. Aku belum bisa sepenuhnya percaya ini. Aku tidak percaya ada seorang pria baik yang mau menolongku dari penderitaan. Padahal aku hanyalah wanita miskin dan kotor. Sangat berbanding terbalik denganmu, Tuan. Bahkan, kita ibarat bumi dan langit yang sangat berbeda jauh." Melinda masih terus berbicara. Hatinya belum bisa tenang jika belum mendapat jawaban yang pasti. 


Theo beralih duduk bersandar kepala ranjang. Lalu menatap Melinda dengan sangat lekat sembari menghirup napas dalam berkali-kali. "Aku tidak tahu pasti kenapa aku bisa menolongmu. Hatiku tergerak sendiri saat melihat semua penderitaanmu. Ada rasa yang begitu kuat dalam dada yang memintaku agar membantumu lepas dari penderitaan." 


"Tapi, Tuan ...." 


"Bahkan, aku merasakan itu sejak pertemuan pertama kita. Jadi, kau jangan berpikiran terlalu jauh tentang hal ini. Aku yakin kalau selama ini kau berdoa pada Tuhan agar semua penderitaanmu berakhir. Jadi, anggap saja ini adalah doamu yang dikabulkan oleh Tuhan." Theo berusaha memungkasi pembicaraan mereka. Tidak ingin jika semakin jauh mengobrol, Theo makin tidak bisa menahan diri. 


"Ya. Aku juga merasa seperti itu. Kau adalah malaikat yang dikirimkan oleh Tuhan untuk menolongku. Terima kasih banyak." Melinda tersenyum simpul. Hal itu membuat jantung berdebar sangat kencang. 


Ia terpesona lagi terhadap wanita tersebut. 


"Ya, kau tidak perlu berterima kasih terus menerus. Aku menolongmu dengan ikhlas." 


Melinda pun bangkit dan berpamitan dari sana. 


"Tunggu!" teriak Theo menghentikan langkah Melinda yang sudah hampir sampai di ambang pintu. Melinda berbalik lalu menatap lelaki tersebut dengan lekat. "Ada hal yang ingin aku katakan padamu lagi." 

__ADS_1


"Apa, Tuan?" 


"Sebenarnya aku ...." 


__ADS_2