Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam

Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam
TMKKM-22


__ADS_3

"Melinda, benarkah ini kau?" tanya Fatih tidak percaya. Bagaimana lelaki itu tidak merasa pangling jika penampilan Melinda sangat berbeda jauh dari biasanya. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan polesan make-up yang tidak terlalu menor juga gaun yang begitu elegan. Jika boleh jujur, dirinya begitu terpesona melihat penampilan istrinya. 


Fatih mendekat hendak menyentuh istrinya, tetapi dengan sigap Theo menarik Melinda masuk dalam rangkulannya. Hal itu tentu saja membuat Fatih meradang. Tatapan Melinda tampak nyalang ke arah Fatih. Masih ada sebersit rasa tidak tega kepada lelaki tersebut. Theo yang melihat itu pun langsung berbisik di telinga Melinda. 


"Kau harus ingat semua rasa sakit yang sudah ia torehkan untukmu. Jangan sampai semua pengorbananku sia-sia." 


Melinda terpaku sesaat mendengar bisikan itu. Lalu menatap Fatih dengan tatapan yang berbeda dari tadi. Terlihat penuh kebencian. Fatih yang melihat interaksi kedua orang itu pun langsung bisa mengambil kesimpulan.


"Melinda, jadi kau sekongkol dengan pria ini!" bentak Fatih. Hampir saja menyeret Melinda, tetapi Theo langsung menghalangi. 


"Jangan pernah sentuh wanitaku," perintah Theo dibarengi senyuman licik. 


Fatih mendelik tajam lalu tergelak keras setelahnya. Tawanya membuat beberapa orang di sana merasa merinding. "Wanitamu? Kau harus tahu kalau dia adalah istriku!" balasnya tanpa rasa takut. 


"Aku sudah tahu itu." Theo menjawab santai. Fatih pun tertegun karena masih belum percaya. "Aku bahkan tahu kalau kalian punya anak yang sedang membutuhkan biaya berobat yang besar. Bahkan, aku tahu pekerjaan istrimu dan ke mana uang yang ia dapat selama ini." 

__ADS_1


Sungguh, Fatih tidak bisa percaya semua ini. "Sebenarnya siapa kau? Sepertinya kita belum pernah bertemu bahkan aku tidak pernah membuat masalah untukmu." 


Hati Fatih benar-benar merasa geram. 


"Sudahlah, kau tidak perlu tahu dari mana aku mengetahui semuanya. Melinda ...." Theo menatap Melinda sangat dalam. "Rumah ini akan aku balik nama menjadi atas namamu dan setelah ini kita akan ke luar negeri untuk melakukan pengobatan Atha," kata Theo lembut. Tidak segarang saat berbicara dengan Fatih tadi. 


"Aku tidak setuju! Kalian harus ingat kalau dia masih sah sebagai istriku!" Fatih berbicara sangat keras. Bahkan, suaranya yang menggelegar membuat suasana di ruangan itu kian mencekam. 


Theo tidak peduli pada ucapan Fatih dan lebih memilih menatap Melinda lekat-lekat. "Apa kau mau bercerai dari lelaki itu? Kalau iya, maka aku akan membantumu." 


Melinda menatap Theo dan Fatih secara bergantian. Lalu mengangguk cepat setelahnya. Fatih kian tidak terima dan kembali berusaha menyeret Melinda. 


Melinda yang sejak tadi diam pun, akhirnya meminta Theo agar melepaskan rangkulannya lalu berjalan perlahan mendekati pria itu. 


"Walaupun kau tidak mau bercerai denganku, aku tetap akan menggugat cerai dirimu, Mas. Sudah cukup aku bersabar selama ini." Bola mata Melinda berkaca-kaca saat teringat segala rasa sakit yang ditorehkan oleh suaminya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Mel. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Aku tidak akan lagi kasar kepadamu dan aku akan berbuat baik. Aku mohon maafkan aku, Mel." Fatih pun mengaku kalah. Ia harus bisa mengambil simpati Melinda agar wanita itu kembali luluh padanya. 


"Jangan sampai kau tergoda pada ucapan manisnya. Kau harus selalu ingat rasa sakit yang sudah ia berikan padamu dan semua perlakuannya." Theo mengingatkan. 


Melinda mengangguk lemah, "maafkan aku, Mas. Tapi tekadku sudah bulat. Bukankah sudah kukatakan kalau aku akan membalas segala rasa sakit darimu. Sekarang waktunya kau menuai apa yang selama ini kau tanam padaku. Maaf, Mas. Aku tetap akan memilih pergi dari kehidupanmu dan tunggulah sampai surat gugatan cerai datang kepadamu. Kau pantas mendapatkan semua ini!" 


Melinda memilih untuk berbalik membelakangi Fatih. Tidak mau menatap lelaki itu sama sekali. Khawatir keputusannya akan berubah jika mereka terus bertatapan. 


Fatih yang sudah kehabisan kesabaran pun langsung berbicara dengan lantang, "silakan kalau kau akan pergi dariku karena aku yakin pasti tidak ada satu orang pria pun yang mau menerima wanita kotor sepertimu!" 


Fatih menghentikan ucapannya sesaat untuk menghirup napas dalam. Menatap punggung Melinda karena wanita itu belum beranjak sama sekali. "Seharusnya kau sadar kalau kau adalah wanita murahan. Seorang jal*Ng yang bisa disentuh lelaki mana pun. Bahkan kau sudah bercinta dengan banyak pria. Lalu, apa kau pikir masih ada pria yang bersedia menerima wanita kotor sepertimu? Bahkan, kau lebih kotor dari anjing yang najis sekalipun. Apalagi, kau punya anak yang penyakitan? Seharusnya kau sadar diri kalau hidupmu sangat menyedihkan!" 


Tangan Melinda terkepal erat. Ada dentuman rasa sakit yang dirasakan di dada hingga membuat cairan bening mengalir dari kedua sudut mata wanita itu. Namun, Melinda berusaha menahan sekuat tenaga agar tidak membanjir karena ia tidak mau terlihat lemah di depan Fatih. Ia memilih untuk menyeka cairan bening itu tanpa membuka suara karena tidak ingin semuanya makin kacau. 


"Kalau memang ada pria yang bersedia menerimamu, aku yakin kalau pria itu sangat bodoh! Menerima barang bekas yang sudah disentuh oleh banyak pria. Aku saja tidak sudi, cuh!" Fatih meludah. Hal tersebut membuat Theo meradang dan langsung mendaratkan pukulan di wajah lelaki itu. 

__ADS_1


"Arrghh!" Fatih mengerang saat tubuhnya jatuh tersungkur. Pukulan Theo benar-benar sangat kuat seolah menyalurkan segala emosi yang sedang dirasakan oleh lelaki itu. "Kenapa kau memukulku, Tuan? Apakah kau adalah pria bodoh itu?" 


Fatih menarik sebelah sudut bibirnya. Tersenyum meledek ke arah Theo yang kian meradang. 


__ADS_2