
"Jadi, seperti itu kisah hidupnya? Menyedihkan juga ternyata," ujar Wijaya setelah mendengar cerita Zul—anak buahnya—tentang hidup Melinda yang mengenaskan.
"Iya, Tuan. Walaupun rumah itu hendak diganti kepemilikan atas nama Nona Melinda, tetapi pria itu dan ibunya masih tinggal di sana karena Tuan Muda Theo belum mengurusnya," jelasnya lagi.
"Aku sungguh tidak percaya kalau Theo sampai berbuat sejauh itu. Memang apa spesialnya wanita malam itu? Bukankah dia wanita kotor yang jelas-jelas tidak sebanding dengan keluargaku." Wijaya kembali mengeluh. Masih tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Theo. Jika Melinda bukan wanita malam, mungkin Wijaya akan mempertimbangkan lagi.
"Mungkin wanita itu adalah wanita yang baik dan tulus. Terlepas dari ia seorang wanita malam. Apalagi, ia terpaksa menjadi seorang pelacur karena pengobatan anaknya. Ditambah lagi suaminya yang gemar berjudi." Zul berbicara dengan hati-hati karena khawatir akan membuat Wijaya marah.
"Kalau begitu, antar aku menemui lelaki itu. Sepertinya aku harus bekerja sama dengan dia." Wijaya bangkit diikuti oleh yang lainnya. Setelahnya, Zul mengantar Wijaya untuk menemui Fatih.
***
"Kau siapa?" tanya Fatih saat Wijaya sudah berdiri di ambang pintu.
"Biarkan aku masuk dulu." Wijaya memerintah dengan penuh penekanan. Namun, hal itu tidak membuat Fatih merasa takut. Ia tetap berdiri dan menahan pintu karena khawatir Wijaya adalah orang suruhan Theo yang hendak mengusir dirinya. "Bukakan pintunya!"
Wijaya membentak. Fatih tetap saja keras kepala. Zul yang mulai tidak sabar pun langsung mendorong Fatih dengan kencang tanpa disuruh oleh Wijaya. Lalu ia menyuruh tuannya agar masuk.
Melihat Wijaya duduk dengan gaya angkuh di sofa, Fatih pun hanya bisa mendengkus kasar lalu ikut duduk di depan pria itu. Tatapannya terlihat sengit tanpa ada ketakutan. Sementara itu, Dewi yang sedang sakit-sakitan pun segera keluar kamar ketika mendengar seperti ada keributan.
"Kau siapa?" tanya Fatih dengan nada cukup tinggi.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Apakah kau adalah suami Melinda, wanita malam yang menggoda putraku?" Wijaya balik bertanya. Fatih yang tadi terlihat menantang pun kini tampak terkejut. Bahkan, langsung menatap Wijaya dengan penuh selidik.
"Maksudnya?" tanya Fatih memastikan karena ia khawatir akan salah paham.
__ADS_1
"Aku adalah papanya Theo." Wijaya menjawab malas.
Dewi dan Fatih pun terlihat kebingungan. "Apa kau datang ke sini untuk mengambil rumah ini?" Dewi cemas. Belum siap jika harus keluar dari rumah tersebut meskipun cepat atau lambat hal itu pasti akan terjadi. Apalagi sekarang dirinya sering sakit karena terlalu banyak pikiran.
"Tentu saja tidak. Aku justru akan membantu kalian mendapatkan rumah ini kembali." Wijaya tersenyum licik. Kian membuat kedua orang tersebut tersentak.
"Apa kau serius, Tuan?" Fatih bertanya dengan tidak percaya.
"Tentu saja. Untuk apa aku berbohong. Kalau memang kau tidak percaya, kita bisa tanda tangan di atas materai. Aku akan memberikan rumah ini pada kalian lagi, asalkan kalian bisa menemukan keberadaan Melinda lalu memastikan wanita itu pergi sejauh mungkin dari kehidupan Theo. Pastikan Theo tidak bisa menemukannya sama sekali." Wijaya menyeringai. Merasa puas karena Fatih adalah orang yang sangat mudah untuk diperalat.
"Bukankah Melinda tinggal bersama Theo?" Fatih heran dan belum sepenuhnya percaya pada Wijaya. Ia pun merasa waspada terhadap lelaki itu karena takut akan kembali ditipu sama seperti apa yang dilakukan oleh Theo.
"Wanita itu sudah pergi sejak satu minggu yang lalu. Aku khawatir jika Theo bisa menemukannya suatu saat nanti. Kau boleh melakukan apa pun untuk membuatnya pergi jauh, asal kau jangan pernah melukai putraku sedikit pun," sahut Wijaya.
Fatih mengangguk paham. "Baiklah, Tuan. Tanpa tanda tangan di atas materai, aku percaya padamu. Aku akan membuat Melinda pergi jauh dari Theo, tapi kau harus menepati janjimu untuk mengembalikan rumah ini."
Setelah urusannya selesai, Wijaya bergegas mengajak Zul agar pergi dari sana. Setidaknya hati Wijaya bisa merasa sedikit lega karena Fatih bersedia membantunya.
"Apa Anda yakin pada lelaki itu, Tuan?" tanya Zul ragu.
"Tentu saja. Sepertinya dia menaruh kebencian kepada Theo dan Melinda. Terlihat jelas saat menyebut nama mereka. Jadi, kita tinggal lihat saja bagaimana cara kerja dia." Wijaya menjawab yakin. Zul pun mengangguk paham.
Sementara itu di rumah Fatih.
"Kau mau ke mana, Tih?" tanya Dewi saat melihat Fatih sudah berpakaian rapi setelah kepergian Wijaya.
__ADS_1
"Mencari Melinda, Bu. Aku harus segera menemukan dia dan menjauhkan dari Theo agar rumah ini tetap menjadi milik kita." Fatih berbicara dengan menggebu. Rasanya tidak sabar ingin bertemu dengan Melinda dan memberi pelajaran untuk wanita itu.
"Baiklah. Ibu harap kau bisa menemukannya. Jangan sampai rumah ini jatuh ke tangan lelaki itu. Kalau perlu, kita buat hidup Melinda lebih menderita karena sudah membuat Ibu sakit-sakitan seperti ini." Dewi memanasi Fatih.
Lelaki itu mengiyakan ucapan sang ibu lalu segera pergi dari rumah. Menyusuri setiap penjuru tempat untuk bisa menemukan Melinda.
***
"Ibu, apa kita akan pergi jauh? Kenapa kita tidak juga sampai?" Lagi-lagi Atha mengeluh.
"Kita istirahat lagi. Maafkan ibu karena sudah membuatmu susah seperti ini ya." Melinda berbicara lirih dan penuh rasa bersalah. Tangannya mengusap lembut puncak kepala putranya lalu menciumnya dengan sangat lama. Menyalurkan segala rasa sayang yang ia miliki untuk anak lelaki itu.
Melinda menghela napas panjang. Dua hari lagi ia harus memeriksakan Atha. Namun, ia tidak memiliki uang, hanya uang hasil penjualan ponsel yang tidak seberapa. Itu pun untuk persediaan kebutuhan makan mereka. Sementara untuk berobat Atha, ia membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Setelah mencoba mencari banyak solusi lewat pikirannya sendiri. Melinda pun akhirnya memutuskan untuk kembali datang ke tempat Tante Sisca. Hanya di tempat itulah ia bisa mendapatkan pekerjaan yang hasilnya lumayan dalam waktu yang singkat pula.
Maafkan ibu, Sayang. Ibu harus menjadi wanita malam lagi demi pengobatanmu. Apa pun akan ibu lakukan demi kesembuhanmu.
Melinda memejamkan mata saat merasakan sudut matanya terasa hangat. Lalu mengusap dengan cepat sebelum cairan bening itu keluar. Bagaimanapun juga, ia harus menjadi seorang wanita tangguh untuk putranya.
Ketika Atha sudah bangun, Melinda pun segera mengajak putranya untuk datang ke tempat Tante Sisca dan ia akan menyewa kamar kos di sana. Keputusannya itu sudah bulat dan Melinda merasa sangat yakin.
"Kau di sini!"
Melinda tersentak ketika ada orang memanggil dari belakang. Ia pun berbalik dan mendelik tajam setelahnya. Lidahnya mendadak kelu bahkan tubuhnya mematung saat itu juga.
__ADS_1
"Mas ...." Suara wanita itu terbata.