Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam

Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam
TMKKM-38


__ADS_3

"Fatih, Ya Tuhan. Kenapa kau bisa sampai membunuh orang, Nak?" Dewi histeris saat baru saja masuk kantor polisi dan melihat sang putra sedang tertunduk lesu. 


"Aku tidak sengaja, Bu. Dia membuatku emosi sampai aku kehilangan kendali." Fatih menjawab lesu. Suaranya bahkan nyaris tak terdengar. Dewi memeluk putranya dengan erat. Memberi kekuatan kepada lelaki tersebut. Tanpa sadar, Fatih menitikkan air mata. Ia merasa bersalah karena sudah membunuh pria pemilik tempat perjudian tersebut. 


"Lalu sekarang bagaimana? Ibu tidak mau kau tinggal di balik jeruji besi. Pasti itu sangat dingin," ujar Dewi penuh kecemasan. Walaupun putranya sangat bersalah, ia tetap membela lelaki tersebut. Bagaimanapun juga, Fatih adalah darah dagingnya dan hanya dia yang dimiliki Dewi saat ini. 


"Bu Dewi, aku turut prihatin karena putramu harus dipenjara. Daripada kau merasa cemas, bagaimana kalau kau juga ikut tinggal di sana," kata Yuli disertai senyuman sinis. 


Dewi bangkit lalu mendelik tajam ke arah wanita itu. Tatapannya begitu menantang, tetapi tidak membuat Yuli merasa takut. 


"Bu Yuli! Apa maksudnya ini! Ini bukan waktunya untuk bercanda," timpal Dewi sengit. Merasa tersinggung dengan ucapan Ibu Yuli. 


"Pak, mumpung orangnya ada di sini. Saya juga memang mau melaporkan kedua orang ini karena sudah mencuri di rumah juga warung saya. Pria ini juga merupakan  seorang pencopet," kata Yuli.


"Bu Yuli! Jangan lancang ya kalau berbicara!" Dewi tidak terima. Menunjuk wajah Yuli seperti hendak mencokel matanya. 


"Sudah, jangan gaduh. Ini kantor polisi." Salah seorang anggota kepolisian memberi peringatan. Ia menatap Dewi dan Yuli secara bergantian. "Ibu, apakah yang Anda katakan itu benar? Kalau memang benar, apa buktinya?" 


Yuli tidak menjawab. Ia mengambil ponsel miliknya lalu menunjukkan  rekaman CCTV di rumahnya. Apa yang dilakukan oleh Dewi dan Fatih, juga apa saja yang dibicarakan oleh kedua orang itu. 


Mendengar dan melihat rekaman tersebut, seketika wajah Dewi dan Fatih memucat. Seperti tidak ada aliran darahnya sama sekali di wajah mereka. Dewi yang tadi menantang pun kini mulai beringsut takut. Bahkan, kepalanya tertunduk lesu. 


Walaupun dalam hati Dewi terus mengumpati Yuli, tetapi itu tidak akan mengubah keputusan. Ia akan tetap dipenjara bersama dengan Fatih. Apalagi bukti yang diserahkan oleh Yuli sangatlah kuat. 


"Bu, kenapa sial sekali hidup kita." Fatih menggeram marah. Dewi tidak menyahut karena tatapannya mendadak kosong. 


"Terimalah nasib kalian. Semua ini karena ketamakkan kalian," ujar Yuli. Kemudian, bergegas pergi dari kantor polisi membiarkan  kedua orang itu tinggal di balik jeruji besi. 


***

__ADS_1


"Tuan, jujur saya belum bisa sepenuhnya percaya ini." Melinda menghela napas panjang. 


"Kenapa? Kau meragukan perasaanku?" tanya Theo dengan raut wajah datar. 


Melinda mengangguk cepat. "Iya, Tuan. Sebenarnya, apa yang membuat Anda jatuh cinta pada saya? Sementara saya ini adalah wanita biasa yang jauh dari kata sempurna." 


"Cinta tidak butuh alasan." Theo menjawab sambil merangkul Melinda. Mengejutkan wanita itu. Ingin sekali Melinda menjauh, tetapi Theo justru makin mengeratkan rangkulannya. "Cinta itu tidak memandang harta dan tahta. Jadi, kau jangan berpikir terlalu jauh apalagi sampai meragukan perasaanku. Bersiaplah karena sebentar lagi aku ingin kita menikah." 


"Tuan, yang benar saja!" Melinda melepas rangkulan Theo dengan paksa lalu menatap lelaki itu sangat lekat. Seolah mencari kesungguhan dari sorot matanya. Theo yang melihatnya justru terkekeh lalu mengacak rambut Melinda saking gemasnya. 


"Untuk apa aku bercanda. Justru aku yang sebenarnya ingin protes kepadamu." Raut wajah Theo berubah. Membuat Melinda mendadak menaruh rasa curiga. 


"A-apa, Tuan?" 


"Kuharap kau tidak memanggilku Tuan lagi. Setelah kau selesai masa Iddah maka aku akan langsung mengucapkan ijab kabul atas dirimu. Jadi ... panggil aku Mas Theo." 


Melinda melipat bibir karena ingin tertawa. Lucu sekali jika ia memanggil Theo dengan panggilan seperti itu. Seperti tidak cocok untuk lidahnya. Namun, saat melihat tatapan Theo yang menajam, Melinda pun langsung mengangguk cepat. 


Mendengar Melinda memanggil Mas kepadanya, Theo pun segera memeluk wanita itu dan tanpa malu mencium keningnya. Menyalurkan rasa sayang yang ia miliki untuk wanita tersebut. 


Di saat suasana sedang romantis, Theo berdecak kesal saat ada sebuah panggilan suara masuk. Sangat mengganggu menurutnya. Namun, Theo tetap menerima panggilan itu saat melihat nama anak buahnya tertera di layar. 


"Apa! Lelaki brengsek dan ibunya masuk penjara?" 


Melinda mendongak. Jantungnya berdebar kencang saat mendengar ucapan Theo. Mungkinkah lelaki brengsek dan ibunya yang dimaksud oleh Theo adalah Fatih dan Dewi. Walaupun dipenuhi rasa penasaran, tetapi Melinda tetap diam sampai Theo selesai menelepon. 


"Fatih dan ibunya masuk penjara karena membunuh, mencopet, menipu, dan mencuri," kata Theo. Membuat Melinda makin tersentak. 


"Yang benar saja, Mas." 

__ADS_1


"Tentu saja. Anak buahku tidak mungkin berbohong. Besok kita akan datang ke kantor polisi untuk mengucapkan selamat pada mereka." Theo menyimpan ponsel ke dalam saku lagi. Lalu menatap Melinda yang justru tampak tidak bersemangat. 


"Kenapa? Kau sedih melihat mantan suami dan ibu mertuamu masuk penjara?" tanya Theo dengan sedikit penekanan. Sepertinya lelaki itu cemburu atau salah paham. 


Melinda menggeleng lemah. "Tidak. Aku cuma tidak percaya saja kalau mereka bisa berbuat sejauh itu." 


"Hahaha!" Theo tergelak. Melinda pun menatap bingung. "Kau lucu kalau sedang cemas seperti ini. Mel, saatnya kau tunjukkan pada mereka bahwa kau bukanlah wanita lemah. Aku capek dan mau istirahat." 


Theo berjalan meninggalkan Melinda sebelum wanita itu membuka suara. 


***


"Untuk apa kau datang ke sini wanita murahan!" sentak Fatih saat Melinda berkunjung padanya. 


Fatih mengamati penampilan Melinda dari atas sampai bawah. Wanita itu sangat berbeda dengan Melinda yang dulu. Melinda yang sekarang terlihat lebih cantik dan terurus. Tidak seperti saat masih menjadi istrinya. Ia jadi menyesal. Namun, semua 


"Tentu saja untuk mengucapkan selamat padamu, Mas. Juga untuk ibumu yang paling tercinta itu. Selamat ya, Mas. Akhirnya kau mendapat balasan atas apa yang kau lakukan selama ini padaku." Melinda menunggingkan senyum. Merasa puas melihat wajah kesal Fatih karena ia yakin lelaki itu tidak akan mungkin melakukan hal yang membahayakan dirinya. Ada Theo yang menunggu dan bisa saja berbuat kejam jika sampai Fatih menyakiti Melinda. 


"Kau!" 


"Aku pamit, Mas." Melinda bangkit karena tidak ingin ada keributan. "Aku juga meminta restu karena setelah masa Iddah ku selesai, aku akan menikah dengan Mas Theo," kata Fatih.


"Dasar wanita murahan!" umpat Fatih geram. 


"Aku memang wanita murahan sejak dulu. Itupun karena kau tidak becus menjadi seorang suami. Selamat tinggal, Mas." Melinda berjalan pergi meninggalkan  Fatih. 


"Arrgh!" Tiba-tiba ia mengerang saat Fatih memukul kepalanya cukup kencang. Polisi yang di sana langsung mengamankan Fatih, sedangkan Theo hampir saja memukuli lelaki itu jika tidak ditahan. 


"Sudah, aku baik-baik saja." Melinda berbicara lirih. 

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit sekarang." 


__ADS_2