
Theo terbangun tengah malam saat mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Ia tidak melihat istrinya di samping. Tidak menaruh rasa curiga apa pun, Theo pun memilih kembali memejamkan mata. Namun, itu hanya sesaat karena ia membuka matanya kembali ketika mendengar suara orang sedang muntah-muntah. Dengan gegas, Theo langsung turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
"Kau kenapa, Mel?" Theo membantu mengusap tengkuk Melinda.
Wanita itu tidak menyahut dan kembali memuntahkan segala isi perutnya. Setelahnya, ia pun terduduk lemas. Dengan cemasnya, Theo membopong wanita tersebut dan membawanya ke kamar.
Ia merasa tidak tega ketika melihat wajah Melinda yang sudah pucat dan lemas. Ia segera memanggil dokter dan meminta seorang pelayan untuk membuat teh panas.
"Aku baik-baik saja. Hanya masuk angin. Jangan memanggil dokter karena jam segini sudah pasti waktunya orang beristirahat." Melinda berbicara dengan lirih. Tenaganya seolah terkuras habis.
"Dokternya sedang dalam perjalanan ke sini. Aku tidak tenang kalau kau belum diperiksa. Aku khawatir kalau terjadi apa-apa padamu." Theo mengecup kening Melinda. Membuat hati wanita tersebut merasa berbunga-bunga. Melihat betapa cemasnya Theo padanya saja sudah menciptakan kebahagiaan tersendiri bagi wanita itu.
Selang beberapa saat, masuklah seorang dokter. Tanpa disuruh lagi, langsung duduk di tepi ranjang dan memeriksa Melinda. Dokter itu terdiam dalam waktu yang lama lalu meminta Melinda melakukan testpack. Tentu saja hal itu membuat Melinda dan Theo saling pandang.
Saat teringat bahwa dirinya memang sudah terlambat datang bulan, rasa lemas yang dirasakan oleh Melinda pun langsung hilang. Dengan penuh semangat masuk ke kamar mandi dan melakukan apa yang diperintah oleh dokter tersebut.
"Bagaimana, Mel?" Theo yang tidak sabar sendiri. Berdiri di depan kamar mandi sambil mengetuk pintu berkali-kali walaupun Melinda sudah menyahut, tetap saja pintu tersebut diketuk tanpa rasa lelah.
"Ya ampun, Mas. Aku bilang kan belum selesai. Kau tidak sabar sekali." Melinda mengerucutkan bibir seperti anak kecil. Theo merasa gemas karenanya langsung mengecup bibir wanita itu.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Theo lembut.
Melinda menghela napas panjang lalu mengembuskan dengan cepat. "Aku hamil, Mas." Melinda menunjukan testpack yamg dipegang. Ada garis dua di sana. Theo terpaku beberapa saat lalu memeluk wanita itu sangat erat.
__ADS_1
"Ya Tuhan, terima kasih. Akhirnya aku sebentar lagi akan memiliki anak," gumam Theo penuh haru. Pelukan itu pun terasa erat dan Melinda tak mampu lagi menahan air mata. Ia pun terharu.
Tidak ingin menunda kabar bahagia, Theo segera menghubungi orang tuanya setelah dokter tersebut pergi. Mengatakan pada mereka bahwa Melinda hamil. Hal itu tentu saja disambut antusias oleh mereka.
***
Anak adalah sebuah hal yang diharapkan dari sebuah pernikahan. Sebagai pengukuh kehidupan berumahtangga. Penyempurna kebahagiaan dari setiap pasangan. Seperti Melinda dan Theo yang sedang menikmati masa-masa ngidam dengan penuh kesabaran, Theo menuruti permintaan wanita hamil tersebut. Termasuk hampir setiap sore Melinda selalu meminta menjenguk makam Atha.
Entah mengapa, semenjak hamil Melinda selalu merasa merindukan Atha. Selalu ingin datang ke tempat peristirahatan terakhir sang putra. Bahkan sampai sekarang di saat usia kehamilan Melinda sudah menginjak usia sembilan bulan.
Perut wanita itu sudah membuncit. Membuat Theo merasa tidak tega dan melarang wanita itu. Hanya boleh berkunjung ke makam sesekali saja. Namun, Melinda justru menangis dan terkadang nekat berangkat sendiri hingga membuat Theo melakukan pengawasan ketat.
Seperti sekarang ini, Theo terpaksa pulang lebih awal saat seorang pelayan menelepon bahwa Melinda pergi ke makam lagi, sedangkan orang tua Theo sedang pergi ke luar kota. Tanpa menunggu lama, Theo pun menyusul wanita itu.
***
Ibu ... apakah kau merindukanku? Ibu ... aku datang padamu.
"Atha!"
Melinda terbangun paksa karena memimpikan Atha, bahkan Theo yang sedang terlelap pun sampai ikut terbangun. Ia khawatir melihat Melinda yang terduduk dengan napas tersengal. Dengan gegas ia memberi air putih padanya.
"Kau kenapa, Mel? Apa kau bermimpi Atha?"
__ADS_1
"Ya. Mungkin karena aku tidak menjenguknya. Aduh, sakit sekali perutku, Mas." Melinda merasakan mulas yang teramat hebat. Sepertinya ia kontraksi. Bahkan tempat tidur itu sudah basah.
Theo yang khawatir langsung membawa Melinda ke rumah sakit. Ia pun mengabari orang tuanya agar segera pulang. Setibanya di sana, Melinda memang sudah pembukaan dan sebentar lagi akan melahirkan.
Baru pertama kali menemani istrinya melahirkan membuat Theo merasa sangat cemas walaupun ia berusaha terus memberi semangat. Sampai akhirnya, lahirlah seorang bayi laki-laki yang suara tangisnya menggema di ruangan tersebut. Theo mengucap syukur bahkan sampai menitikkan air mata haru.
Tepat ketika bayi tersebut selesai dibersihkan, orang tua Theo sampai di rumah sakit. Mereka pun mengucap syukur karena cucu mereka terlahir dengan selamat.
Kebahagiaan itu pun kian terasa sempurna dengan kehadiran bayi mungil di antara mereka. Apalagi wajah bayi tersebut sangat mirip sekali dengan Atha. Sama sekali tidak ada yang berbeda. Membuat Melinda mengucap syukur. Seolah rasa rindu untuk Atha sedikit terobati. Bahkan, rasa bahagia yang dirasakan oleh wanita tersebut tidak mampu lagi diucapkan dengan kata-kata.
***
Percayalah bahwa setiap manusia pasti memiliki cobaan. Tuhan tidak akan membebani manusia di luar batas kemampuan. Selalu ada jalan dari setiap masalah yang dihadapi. Percayalah bahwa akan ada pelangi setelah badai menerjang. Tuhan akan memberi kado terindah untuk orang-orang yang mau bersabar.
Terima kasih, Tuhan. Kau memberi obat dari segala rasa sakit yang pernah aku alami dulu. Bahkan, kau memberi kebahagiaan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya—Melinda.
~TAMAT~
***
Assalamualaikum. Hallo gaess.
Terima kasih untuk kalian yang sudah setia membaca karya Othor yang satu ini. Mohon maaf apabila ada kesalahan dari Othor baik yang disengaja maupun tidak 🙏
__ADS_1
Semoga kalian selalu dilimpahi kebahagiaan dan kesehatan selalu. Love you, All 😘