Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam

Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam
TMKKM-33


__ADS_3

"Arrrgghhhh!! Sialan! Brengsek!" 


Fatih mengumpat. Membabi buta. Ia berusaha mengejar pria yang sudah merebut tasnya secara paksa. Namun, sekencang apa pun kakinya berlari tetap saja tidak bisa menandingi laju motor si penjambret yang sudah lenyap dari pandangan. 


Lelaki itu berdiri di tengah jalan. Mengusap wajah dengan kasar. Begitu frustrasi. Dewi pun mendekati dengan napas terengah karena ikut mengejar walaupun semua hanyalah usaha yang sia-sia. 


"Bagaimana?" tanya Dewi dengan perasaan khawatir. 


"Aku tidak berhasil mengejarnya, Bu." Fatih menjawab lesu. 


Dewi merasakan tubuhnya lunglai dan hampir jatuh di jalan karena tidak sadarkan diri. Beruntung Fatih langsung menahan tubuh wanita tersebut dan membopongnya ke tepi. Fatih menepuk pipi Dewi dan berusaha membangunkannya. 


"Syukurlah kau sadar, Bu." Fatih mengembuskan napas lega saat melihat Dewi perlahan mengerjapkan mata. 


Namun, selang beberapa saat Fatih kembali cemas ketika mendengar isakan Dewi. Ia pun mengamati seluruh tubuh ibunya karena khawatir ada yang terluka. 


"Bu ...." 


"Fatih ... kita sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang." Tangisan Dewi kian mengeras. Wanita itu terlihat sangat menyedihkan. Fatih pun terlihat sama. "Bagaimana hidup kita setelah ini. Kita sudah tidak punya tempat tinggal dan uang sepeser pun. Kalau seperti ini, Ibu memilih mati saja." 


"Jangan berbicara seperti itu, Bu. Kita lihat saja besok. Aku akan mencari uang." Fatih berusaha menenangkan hati sang ibu. 


"Kau akan bekerja? Bekerja apa? Bukankah mencari pekerjaan sekarang sangat susah. Apa yang akan kita makan jika menunggu sampai kau mendapat pekerjaan." Dewi meragu, sedangkan Fatih berdecak kesal karena menganggap sang ibu sudah meremehkan dirinya. 


Namun, karena tidak ingin berdebat dengan sang ibu, Fatih mengajak wanita tua itu untuk kembali berjalan dan tidur di depan emperan toko. Ingin sekali mengeluh, tetapi bagi Fatih bukan saatnya ia mengeluh untuk sekarang ini. 

__ADS_1


***


Walaupun tidur dalam satu ranjang dan Melinda adalah seorang wanita malam, tetapi Theo sama sekali tidak ingin bercinta dengan wanita tersebut. Ia hanya tidur memeluk erat, bukan saling berbagi rasa nikmat. Padahal jika Theo ingin melakukan  hal itu pun, Melinda tetap akan menurut karena selama ini Theo sudah sangat baik baginya. 


Ada alasan kenapa Theo tidak ingin bercinta. Rasa tidak tega ketika melihat tatapan mata Melinda yang begitu sayu membuat Theo justru ingin melindungi wanita itu. Menganggapnya sebagai wanita baik dan tidak ingin ada pria lain yang menyentuhnya. Bagi Theo, Melinda adalah miliknya. 


"Apa kau pernah merasakan kehilangan?" tanya Melinda saat mereka berdua cukup lama saling membisu. "Rasanya sakit sekali karena aku harus kehilangan putraku. Sudah susah payah aku berusaha keras menyembuhkannya. Bahkan, aku sampai rela menjadi seorang wanita malam. Nyatanya, dia tetap saja pergi meninggalkanku." 


Kedua mata Melinda basah. Rasa sakit itu masih sangat terasa hingga membuat Melinda beberapa kali hampir mengakhiri hidup. Ingin menyusul Atha. Namun, Theo selalu menahan. Menyadarkan Melinda dari perbuatan terlarang itu. 


"Setiap manusia pasti pernah merasakan sakit karena kehilangan. Bukankah kau tahu kalau hal apa pun di dunia ini adalah titipan. Kita tidak bisa menolak jika Sang Pemilik sudah mengambil apa yang ia titipkan pada kita." Theo menjeda ucapannya untuk mengambil napas dalam. "Aku memang belum pernah merasakan kehilangan sesakit apa yang kau rasakan. Kau tahu, cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya, begitupun sebaliknya. Cinta pertamaku adalah mamaku sendiri, tapi aku harus merasakan sakit karena jauh darinya." 


Melinda menoleh dan melihat Theo yang sedang memejamkan mata sambil menghela napas berkali-kali. Seolah sedang menanggung beban yang sangat berat. 


"Memangnya mamamu ke mana, Tuan?" tanya Melinda penasaran. 


"Tuan ...." 


"Ah, sudahlah. Jangan dibahas lagi. Ini tidak penting untukmu. Lebih baik sekarang kau tidur dan besok aku akan mengantarmu menjenguk Atha." Theo memeluk Melinda erat dan mengusap punggung wanita itu. Memintanya agar segera tidur. 


Mata Melinda memang terpejam, tetapi tidak dengan pikirannya. Ada perasaan campur aduk yang ia rasakan. Ia masih heran dengan sikap Theo yang sangat baik. Namun, tidak ingin makin membuat runyam pikiran, Melinda pun memilih untuk segera tidur. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera pagi agar ia bisa berkunjung ke makam Atha. Ia sudah sangat merindukan putranya. 


****


"Ibu lapar sekali, Tih." Dewi mengeluh. 

__ADS_1


Sejak pagi mereka sudah berjalan terus. Tanpa sarapan. Fatih sudah berusaha bertanya tentang pekerjaan kepada orang yang lewat, tetapi mereka semua justru menghindar. Jika ditanya lapar, Fatih pun merasa sangat lapar, tetapi ia mencoba untuk menahan. 


"Pekerjaan apa yang bisa dapat uang dengan cepat, ya." Fatih bergumam lirih. Otaknya berpikir keras. Pekerjaan apa yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan uang dengan cepat. 


Mengemis? Jika mengemis mana mungkin ada orang yang mau memberi karena badannya masih sehat bugar seperti itu. Jika berpura-pura sakit pun, pasti orang tidak akan percaya. Apalagi jika ia bertemu dengan tetangga atau temannya di tempat perjudian. Sudah pasti ia akan semakin menjadi bahan cemoohan. 


Memulung? Ah, apalagi itu. Fatih tidak sanggup jika harus bertempur dengan bau-bau busuk yang menyengat. 


Lalu pekerjaan apa yang bisa ia dapatkan? Aarrghh! Fatih frustrasi sendiri. 


"Ini gara-gara jambret sialan! Coba kalau dia tidak mengambil tasku. Sudah pasti aku tidak akan semenyedihkan ini. Enak sekali dia, tinggal sekali tarik langsung dapat uang lima puluh juta." Fatih menggerutu. Namun, selang beberapa saat bibirnya tersenyum simpul. 


Kenapa aku sangat bodoh! Aku masih bisa menjadi copet atau jambret. Tubuhku masih sehat dan jika berlari pun masih kencang.


Fatih membatin sambil tersenyum karena sudah mendapat ide yang cemerlang. 


"Fatih, kau kenapa?" tanya Dewi mengejutkan Fatih dari lamunan. Lelaki itu menatap sang ibu dengan perasaan ragu. Bingung haruskah mengatakan yang sejujurnya atau tidak. Namun, setelah mempertimbangkan semuanya, Fatih milih untuk diam karena tidak ingin sang ibu melarang. 


"Bu, aku mau nyoba ngemis atau ngamen di pasar dulu. Doakan aku bisa dapat uang banyak supaya kita bisa makan," kata Fatih penuh harap. 


"Ibu ikut." Dewi memelas. Namun, Fatih menggeleng cepat. 


"Jangan, Bu. Lebih baik kau tunggu di sini saja. Aku pergi dulu." Fatih berlari meninggalkan sang ibu begitu saja. Dewi ingin mengejar, tetapi ia memiliki ide. Jika Fatih mengamen di pasar maka dirinya bisa mengemis sambil menunggu putranya pulang. 


Dengan gegas, Dewi memungut plastik bekas jajanan lalu mulai melancarkan aksinya. Ia berjalan sambil meminta-minta. Wajahnya pun dibuat terlihat semenyedihkan mungkin agar orang lain menaruh iba padanya. 

__ADS_1


"Loh, Bu Dewi?" 


__ADS_2