Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam

Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam
TMKKM-20


__ADS_3

Semua kembali dibuat tercengang karena Theo dikalahkan lagi oleh Fatih. Padahal selama ini Fatihlah yang selalu kalah di sini. Mereka yang berada di sana pun memiliki persepsinya sendiri-sendiri. Ada yang mengira memang Theo hanyalah bagus penampilan saja, tetapi secara otak kosong karena bisa dikalahkan oleh Fatih bukan hanya sekali pula. Ada pula yang mengira bahwa Fatihlah yang sudah berbuat curang. 


"Aku tidak menyangka kalau kau benar-benar bodoh." Fatih tersenyum puas sembari mengambil cek yang tergeletak di meja. Bola matanya berbinar bahagia ketika melihat nominal lima belas juta tertera di sana. Ia sungguh tidak menyangka bisa dua kali menang seperti ini. 


"Kau memang hebat. Aku tidak menyangka bisa dikalahkan olehmu." Theo bertepuk tangan. Seolah sedang memberi semangat untuk lelaki di depannya. Hal itu membuat Fatih kian merasa angkuh. 


Ia bangkit, lalu menepuk dada dengan sombongnya. Ada yang bermuka dua dengan memuji lelaki itu, ada pula yang memalingkan wajah sambil berdecih tidak suka. 


"Kau mau main lagi?" tanya Fatih. Menantang Theo lagi. 


"Sepertinya boleh. Tapi, aku tidak suka jika hanya seperti ini. Kurang seru menurutku," kata Theo. Duduk bersandar sambil mengusap dagu perlahan. 


"Lalu? Kau mau taruhan apalagi?" tanya Fatih penasaran. 


"Bagaimana kalau kita ganti taruhannya. Aku punya sebuah mobil. Ya, masih baguslah. Kalau dijual harganya masih mencapai lima ratus juta bahkan lebih." Theo sedikit mengangkat tubuhnya. "Apa kau mau?" 


Fatih terpaku beberapa saat. Jika Theo menaruh mobil dengan harga ratusan juta, maka apa yang harus ia taruhkan. Raut wajahnya yang terlihat kebingungan membuat Theo menarik sebelah sudut bibirnya. 


"Tapi, aku tidak punya apa pun yang nilainya sebanyak itu. Hanya ada uang ini, motorku yang harganya tidak sampai sepuluh juta, juga rumah." Fatih menyebut harta benda yang ia miliki meskipun hanya itu. 


"Em, tidak apa. Santai saja kalau denganku. Bagaimana kalau aku memasang taruhan mobilku dan kau memberikan sertifikat rumahmu. Ya, walaupun sepertinya tidak sebanding." Theo masih memberi penawaran. 


Fatih pun kian merasa bimbang. Rumah miliknya jika dijual paling mahal kisaran seratus lima puluh juta. Kalau ia bisa menang, sudah pasti rumahnya tetap menjadi miliknya dan ia pun bisa memiliki mobil mewah milik lelaki tersebut. Namun, di sisi lain Fatih juga memikirkan jika dirinya kalah, sudah pasti ia tidak akan memiliki apa pun lagi. 


"Bagaimana? Jangan ragu-ragu. Aku saja tidak yakin bisa menang. Apalagi kau selalu berhasil mengalahkanku." Theo memanasi lelaki itu. 

__ADS_1


"Sudah terima saja. Aku yakin kau pasti menang lagi." Beberapa orang berteriak ikut mengompori Fatih. 


"Iya, Fatih. Kalau kau menang, kau bisa punya mobil mewah." Makin banyak orang yang mengompori. 


Fatih menggaruk tengkuknya karena bingung keputusan apa yang akan diambil. Masih belum sepenuhnya yakin jika akan menaruh sertifikat rumah sebagai taruhan. 


"Ayolah, Tuan. Jangan sampai kau dianggap pecundang karena menolak ajakanku." Theo tersenyum licik. 


Aku harus menerima ini. Jika aku menang, aku bisa buktikan pada mereka yang dulu selalu menghinaku bahwa aku bisa. Mungkin inilah kesempatanku untuk membalas mereka. 


"Baiklah. Aku akan terima ajakanmu." Fatih akhirnya memberi keputusan. 


Theo tersenyum senang dan kembali bertepuk tangan. Lalu ia menyalami Fatih sambil berkata, "aku tunggu kau besok di sini." 


Fatih mengangguk walaupun ragu. Lalu ia pulang dengan membawa uang yang lebih besar dari kemarin. Setelah Fatih tidak lagi terlihat, Theo langsung menghubungi Melinda. 


Theo mematikan panggilan itu bahkan sebelum Melinda berbicara. Setelahnya, ia menyimpan ponsel di saku lalu mengajak anak buahnya untuk pergi dari sana. 


***


"Untuk apa, Fatih?" Dewi tersentak ketika Fatih meminta sertifikat rumah miliknya. 


"Bu, aku mau taruhan pakai sertifikat itu. Lelaki itu memasang taruhan mobil yang harganya  tiga kali lipat lebih tinggi dari rumah ini, Bu. Kalau aku menang, kita bisa jual mobil itu dan gunakan uang hasil penjualan dengan sepuasnya. Membeli apa pun yang kita mau." Fatih merayu. Berharap sang ibu tidak mempersulit dirinya. 


"Kalau kau kalah bagaimana? Hanya rumah ini yang kita punya." Dewi masih saja menolak. Walaupun gila harta, tetapi Dewi tidak bisa seenaknya menaruh sertifikat rumah itu sebagai bahan taruhan. Ia masih memiliki pertimbangan. 

__ADS_1


Fatih mulai kehilangan kesabaran. "Bu, doakan aku pasti menang. Lihatlah, dua kali bermain aku selalu menang. Ini uang dua puluh empat juta aku berikan untuk ibu semua asalkan ibu mengizinkan aku membawa sertifikat rumah ini." Fatih menaruh uang tunai sembilan juta dan cek bertuliskan nominal lima belas juta. 


Dewi yang awalnya bersikukuh pun kini mulai meragu. Melihat lembaran uang berwarna merah dan cek itu membuat Dewi tergoda.


"Baiklah. Kau tunggu di sini sebentar. Ibu ambilkan dulu." 


Fatih tersenyum senang ketika melihat ibunya bangkit dan berjalan ke kamar. Selang beberapa menit, sang ibu datang sambil membawa sebuah stopmap berwarna merah dan menaruhnya di depan Fatih. 


"Ini. Ibu harap kau bisa menang," ujar Dewi. Mengambil uang yang tergeletak di meja. 


"Doakan aku, Bu. Sekarang aku mau tidur dulu." Fatih segera masuk kamar dan melihat Melinda sudah tertidur lelap bersama Atha. Dengan perlahan, ia mengambil tas Melinda yang tergeletak di meja dan membukanya. Senyum Fatih mengembang saat melihat ada amplop coklat di dalam sana. Fatih pun langsung mengambil dan membukanya. 


"Wah, dari mana dia dapat uang sebanyak ini." Fatih berbinar bahagia ketika melihat uang lima juta di dalam sana. Dengan cepat ia menyimpannya sebelum Melinda terbangun. 


Keesokan paginya. 


"Mas, kau mengambil uangku?" tanya Melinda ketika sudah mengecek semua isi tasnya dan tidak ada amplop coklat dari Theo kemarin. 


"Tidak." Fatih berbohong. Dengan santainya menyeruput kopi yang masih mengepulkan asap panas. "Memangnya kau punya uang?" Fatih terlihat begitu meremehkan..


"Mas, jangan berbohong. Kalau bukan kau yang mengambil, lantas siapa lagi? Apakah ibumu yang mengambilnya?" Melinda terbawa emosi. 


Fatih meradang. Ia bangkit lalu menampar wanita itu dengan kencang. "Jaga mulutmu!" 


Melinda mengusap pipi yang terasa memanas. Tidak ada lagi tangisan dari wanita itu. Melinda mendongak, menatap Fatih dengan begitu menantang. "Bukankah benar, Mas? Kau dan ibumu sama-sama gila harta!" 

__ADS_1


"Kau!" Fatih hendak menampar Melinda lagi, tetapi tangannya justru hanya mengapung di udara. 


"Tampar, Mas! Tampar!" teriak Melinda. "Sudah cukup aku bersabar selama ini. Lihat saja, aku akan membalas segala rasa sakit yang kau torehkan dari tamparanmu dan setiap sikapmu yang menyakiti jiwa dan ragaku!" 


__ADS_2