Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam

Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam
TMKKM-32


__ADS_3

Theo mengunci diri di ruangan pribadi setelah pertengkarannya dengan Wijaya. Sementara lelaki paruh baya itu langsung pulang ke rumah utama karena tidak ingin terlalu lama bertengkar dengan putranya. Theo menghempaskan tubuhnya secara kasar di kursi lalu mengusap wajahnya berkali-kali. 


Ia terlihat seperti orang frustrasi. 


Merasa sakit melihat Melinda yang sedih kehilangan Atha, ditambah lagi pertengkaran hebat dengan sang papa. Membuat pikiran Theo kacau balau. Bahkan, lelaki tersebut sampai tidak bisa berpikir jernih sampai sekarang ini. Namun, keputusan untuk menjaga Melinda begitu kuat. Ia tidak takut meskipun Wijaya benar-benar akan menghapusnya dari kartu keluarga. 


Setelah hampir satu jam berlalu, Theo yang sudah merasa cukup tenang segera menghubungi anak buahnya. 


"Langsung balik nama sertifikat itu dan pastikan lelaki itu menderita kalau perlu mendekam di penjara!" titah Theo penuh emosi. Masih belum terima dan akan membalas rasa sakit yang ditorehkan Fatih untuk Melinda. 


"Tapi, Tuan. Lelaki ini sedang dalam keadaan berduka," ujar anak buah Theo.


"Kau pikir Melinda tidak berduka? Justru ini adalah waktu yang tepat. Biarkan lelaki brengsek itu hancur sekalian. Kalau dia saja tidak memiliki sikap kemanusiaan maka kita harus membalasnya juga. Jangan kalah terhadap orang brengsek seperti itu." 


"Tapi, Tuan ...." 


"Diamlah karena aku sedang tidak ingin berdebat. Lebih baik kau turuti saja peritahku. Aku membayarmu bukan untuk menolak perintahku." Theo mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Walaupun akan dicap sebagai manusia yang tidak punya hati, tetapi keinginan untuk membalas sakit hati yang dirasakan oleh Melinda, begitu kuat. 


"Ya Tuhan, sesayang inikah aku pada wanita itu." Theo menghela napas panjang untuk membuat hatinya merasa lebih tenang. 


***


Theo masuk kamar dan tersenyum simpul ketika melihat Melinda sedang duduk bersandar. Tidak ada sedikit pun rona bahagia yang terpancar dari wanita itu. Raut wajahnya terlihat menyedihkan apalagi tatapan matanya yang begitu pilu. Membuat siapa pun yang menatap akan menaruh iba. 


"Kau sudah bangun?" tanya Theo lembut. Pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban. 


"Aku tidak tidur sama sekali. Bahkan, aku tadi mendengar pertengkaranmu dengan papamu," sahut Melinda lesu. Jawaban tersebut membuat Theo tersentak dan langsung duduk di samping wanita itu dengan segera. 

__ADS_1


"Kau mendengar semuanya?" tanya Theo memastikan. 


Melinda mengangguk lemah. "Ya. Tuan, sepertinya aku harus pergi dari sini sekarang ini." 


"Kenapa?" sela Theo tidak sabar. 


"Tuan, saya tidak ingin menyebabkan pertengkaran di antara ayah dan anak. Benar kata papamu kalau aku ini tidak pantas bersanding denganmu. Bahkan, seharusnya aku pergi jauh darimu. Kita ini berbeda, Tuan. Berbeda dalam segala hal." 


"Aku tidak peduli itu! Memangnya kenapa? Asal kau tahu, cinta itu tidak mengenal alasan. Tidak peduli apa pun termasuk status sosial pun. Mel ...." Theo menarik tangan Melinda lalu meletakkan di dadanya. "Cinta itu perkara hati yang tidak bisa disangkutpautkan dengan apa pun." 


Melinda mengerutkan kening. Menatap heran ke arah Theo. Sementara lelaki itu baru saja sadar bahwa dirinya sudah keceplosan karena mengatakan cinta tanpa sadar. Theo mendadak gugup. Lalu memalingkan wajah karena tidak berani lagi menatap Melinda. 


"Apa maksudnya, Tuan?" tanya Melinda bingung. 


"Tidak ada. Intinya, kau jangan terlalu memikirkan banyak hal. Tetaplah di sini. Soal papaku, kau jangan memikirkan karena itu hanyalah masalah sepele. Nanti juga kita akan baikan lagi." Theo berusaha menenangkan hati Melinda walaupun ia sendiri merasa tidak yakin hubungannya dengan sang papa akan membaik setelah ini. 


Aku tidak akan berjanji membahagiakanmu, Mel. Tapi aku akan berusaha menghapus segala luka yang pernah kau rasakan sebelumnya dan menggantinya dengan senyuman yang selalu ingin kulihat dari sudut bibirmu, Mel.


***


"Ada apa ini!" teriak Fatih bingung. Hatinya masih sakit karena kehilangan Atha dan justru sekarang ada orang yang sepertinya sengaja membuat keributan di depan rumah. "Siapa kalian!" 


Anak buah Theo tersenyum sinis ketika melihat Fatih yang begitu menantang padanya. "Kami datang ke sini untuk mengusirmu!" 


"Mengusir? Hahaha! Apa kalian gila? Sejak kapan ada orang yang berani mengusirku dari rumahku sendiri?" Fatih tergelak keras. Walaupun dalam tawanya itu ada rasa cemas yang tersirat, tetapi Fatih berusaha untuk menyembunyikan kecemasan itu. 


"Kau harus tahu, Tuan. Rumah ini bukan lagi milikmu, tapi milik Nona Melinda." 

__ADS_1


"Apa! Kalian bicara apa!" Dewi berkacak pinggang lalu menatap tajam ke arah anak buah Theo. "Katakan lagi kalian bilang apa tadi!" sentaknya. 


Seberapa galak pun Dewi, anak buah Theo tidak ada yang merasa takut sama sekali. Mereka bahkan sering menghadapi orang yang lebih galak daripada wanita tersebut. 


"Tuan Theo sudah mengubah sertifikat rumah ini atas nama Nona Melinda. Beliau meminta kami agar mengusir kalian dari sini. Jika kalian tidak pergi dari sini maka Tuan Theo akan memberi pelajaran kepada kalian. Termasuk menjebloskan kalian ke penjara," ucap anak buah Theo dengan sangat santai. 


"Menjebloskan ke penjara? Memangnya bosmu bisa? Hahaha jangan harap! Aku tidak bersalah apa pun padanya. Yang ada dia merebut rumahku ini." Fatih masih tertawa meledek. 


"Tentu saja bisa. Tanpa sepengetahuan kalian, di dalam rumah ini ada kamera tersembunyi dan rekaman saat kalian menyiksa Nona Melinda masih disimpan rapi oleh Tuan Theo. Soal rumah ini, bukan Tuan Theo yang merebut, tapi kau kalah judi dan menjadikan rumah ini sebagai barang taruhan. 


"Aku tidak percaya!" bantah Fatih. Mulai ketar-ketir. "Bosmu itu sangat licik!" Berusaha menjelekkan Theo walaupun itu hanyalah tindakan yang percuma. 


"Bagaimana kalau kami langsung melaporkan kau ke kantor polisi agar kau bisa langsung percaya." Anak buah Theo tersenyum miring. Merasa senang saat melihat raut wajah Fatih yang mendadak gugup. "Jadi, pergilah dari sini sekarang juga atau kalian lebih memilih tinggal di balik jeruji besi yang gratis." 


"Sialan!" 


"Fatih, bagaimana ini." Dewi hendak menangis karena tidak bisa membayangkan akan tinggal di mana setelah ini. Mereka sudah tidak memiliki apa pun lagi. 


"Bu, lebih baik kita pergi dari sini saja. Daripada harus masuk penjara. Lagi pula, masih ada uang dari lelaki tua itu yang bisa kita gunakan untuk menyewa rumah dan mencukupi kebutuhan kita." Fatih berusaha menenangkan hati sang ibu. Dewi pun hanya bisa pasrah. 


Walaupun ia tidak ingin kehilangan rumah ini, tetapi baginya lebih baik melepaskan daripada harus masuk penjara. Apalagi Theo memiliki kuasa yang tinggi. Dalam hati Dewi mengumpati Melinda karena menganggap wanita itu sudah membuat hidupnya menjadi sehancur ini.


Kedua orang itu pun berjalan untuk mencari tempat tinggal. Menyusuri setiap jalan dengan perasaan sedih. Namun, tidak ada rasa sesal dari keduanya karena bisa saja hal itu adalah karma. Hukuman  dari perbuatan mereka yang dulu selalu menyiksa Melinda. Yang dilakukan mereka justru menyalahkan Melinda dan menganggap wanita itu sebagai pembawa sial karena sudah membuat hidup mereka menderita. 


Saat sedang berjalan di tempat yang sepi, Fatih terkejut saat ada seseorang menarik tas yang dibawa. Ia pun menoleh, tetapi orang itu sudah pergi cepat menggunakan motor sambil membawa tas milik Fatih yang berisi uang dan pakaian. 


"Hei! Jambret!" teriak Fatih. Namun, tidak ada seorang pun di sana. 

__ADS_1


__ADS_2