Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam

Terpaksa Menjadi Kupu-Kupu Malam
TMKKM-26


__ADS_3

"Maafkan saya, Tuan. Tapi saya tidak akan pernah menerima uang itu." Melinda berusaha menjawab dengan berani. Walaupun saat menatap Wijaya nyalinya seketika menciut. 


"Lalu? Kau akan tetap berada di samping Theo? Dasar wanita murahan tidak tahu diri!" sergah Wijaya. Rahangnya mengetat dan sorot matanya menajam. Membuat Melinda beringsut takut. 


"Bukan begitu, Tuan. Saya tetap akan pergi dari kehidupan Tuan Theo. Maaf kalau saya sudah mengganggu kehidupan putra Anda. Saya akan pergi dari sini tanpa membawa uang itu. Anda tenang saja. Kalau begitu, saya pamit, Tuan." Melinda membungkuk hormat. 


Kemudian, ia masuk ke kamar dan memberesi barang-barangnya. "Sayang, kita harus pergi dari sini." 


"Kita mau ke mana lagi, Bu? Apakah kita diusir dari sini?" tanya Atha dengan begitu cerewet. 


Melinda menggeleng lemah. "Kita tidak diusir. Hanya saja, ibu ingin kita tinggal di tempat lain yang lebih pantas untuk kita. Jangan terlalu banyak bicara. Ayo, Sayang." 


Melinda pun menggandeng Atha. Tak lupa berpamitan pada Wijaya walaupun tidak mendapat respon apa pun dari lelaki itu. Wijaya hanya bergeming di tempatnya dan terus menatap gerak-gerik Melinda. 


Ya Tuhan, aku tidak tahu garis takdir seperti apa lagi yang harus aku jalani. Di saat ada orang yang bersikap bak malaikat untukku, tapi kenapa Engkau harus memisahkan lagi. Apakah mungkin ujianku di dunia ini tidak akan pernah berakhir? 


Walaupun hanya berani mengeluh di dalam hati, tetap saja hal itu membuat Melinda merasakan dadanya begitu sesak. Ia mengusap sudut matanya yang basah. Tidak ingin Atha sampai mengetahui jika dirinya sedang menangis. Serapuh apa pun dirinya, ia akan tetap terlihat tegar di depan putranya sendiri. Melinda yang sudah berniat pergi dari kehidupan  Theo pun, mengirim pesan kepada lelaki itu karena setelah ini, ia akan menjual ponselnya dan membuang kartu di dalamnya. 


Terima kasih banyak atas kebaikanmu selama ini, Tuan. Semoga Tuhan membalasnya dengan berkali-kali lipat. Maafkan aku, Tuan. Jika aku pergi tanpa berpamitan langsung padamu. Aku bahkan tidak bisa membalas semua kebaikan yang telah kau lakukan. Aku hanya bisa mendoakan semoga hidupmu selalu dipenuhi kebahagiaan. Selamat tinggal, Tuan. 


Hah!

__ADS_1


Melinda mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Setelah memastikan pesan itu terkirim, Melinda langsung mematikan ponselnya. Tidak ingin mendapat balasan apalagi telepon dari Theo. 


***


"Apa maksudnya ini?" tanya Theo heran ketika membaca pesan dari Melinda. 


Ia pun berusaha menghubungi nomor wanita tersebut. Akan tetapi, tidak ada satu pun panggilannya yang terhubung. Bahkan, semua pesan yang dikirim hanya menunjukkan centang satu. Hati Theo mendadak cemas dan gelisah. Merasa ada yang tidak beres dengan wanita itu. 


"Ke mana Melinda?" tanya Theo setelah ia memutuskan untuk menghubungi telepon rumah tersebut. 


"Tu-tuan, Nona Melinda ...." 


"Papa?" Theo terkejut karena suara pelayan itu berubah menjadi suara sang papa. "Apa yang papa lakukan di rumahku?" tanya Theo penuh emosi. 


"Tentu saja mengusir wanita kotor yang tinggal di sini. Jangan sampai dia mengotori rumah juga hatimu," kata Wijaya dengan sangat tegas. 


Tangan Theo terkepal erat. Merasa geram terhadap papanya karena sudah ikut campur urusannya. Theo tidak lagi menimpali ucapan sang papa, ia mematikan panggilan tersebut dan langsung bergegas pulang. Untuk hal sepenting ini, Theo tidak ingin berdebat di telepon.


Selama dalam perjalanan, Theo merasakan kegelisahan. Laju mobil yang cukup kencang saja, terasa sangat lambat untuknya. Merasa tidak sabar karena ingin segera sampai di rumah. 


"Argh! Kenapa mesti macet segala!" Theo memukul setir kemudi dan terus mengumpat. Rasa kesal dan tidak sabar bercampur menjadi satu hingga membuat kepalanya serasa mendidih. 

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan yang terasa cukup lama, Theo akhirnya sampai di rumah. Langsung memakirkan mobil secara sembarang dan berjalan tergesa masuk rumah. Ketika sampai di ruang tamu, Theo langsung disambut oleh Wijaya yang menunggu sejak tadi. 


"Apa maksud Papa mengusir Melinda dari sini?" tanya Theo tanpa basa-basi. 


"Tentu saja agar tidak ada wanita kotor yang tinggal di sini." Wijaya masih menjawab santai. 


"Pa! Seharusnya Papa tidak ikut campur urusanku." Theo berusaha meredam amarah agar ia tidak bersikap kurang ajar kepada orang tuanya. 


"Theo, entah pelet apa yang digunakan oleh wanita itu. Kenapa kau bisa sampai tergila-gila padanya. Padahal dari paras saja, terlihat seperti wanita kampung. Belum lagi dari status sosialnya," kata Wijaya. Menjelekkan Melinda hingga membuat Theo kian meradang. 


"Pa, memangnya kenapa kalau dia dari kalangan biasa? Tidak semua orang kaya membuat bahagia dan tidak semua orang miskin itu membuat menderita. Harta dan status sosial bukan patokan kebahagiaan." Theo menatap sang papa lekat penuh kecewa. 


"Otakmu benar-benar sudah diracuni oleh wanita itu. Jelas status sosial itu penting. Sebagai orang terpandang, seharusnya kau bisa memilih calon istri yang jelas bibit, bebet, dan bobotnya." Wijaya pun tidak mau kalah. Bagaimana juga ia ingin yang terbaik untuk putranya menurut versinya sendiri. 


"Pa, kalau memang wanita berkelas, dari keluarga terpandang, lulusan sekolah tinggi yang bisa menciptakan sebuah kebahagiaan. Sudah pasti Papa dan mama sekarang ini tidak mungkin bercerai!" 


Theo yang tidak mampu lagi menahan amarah pun akhirnya mengeluarkan kalimat itu, sedangkan Wijaya meradang mendengar kalimat yang dilontarkan oleh putranya.


"Kau sekarang sudah berani kurang ajar kepada papa! Berapa lama kau mengenal wanita itu? Sampai kau berani melawan dan berbicara seperti itu kepada papa?" Wijaya menatap Theo sangat lekat. 


"Pa, aku bukannya mau kurang ajar kepada Papa. Aku hanya tidak suka jika Papa terlalu ikut campur urusan pribadiku. Ini masalah hati dan tidak bisa dipaksa, Pa." 

__ADS_1


__ADS_2