Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Tawaran Dokter Edo


__ADS_3

Dokter Edo dapat merasakan telapak tangan Elma tidak sehalus wanita yang biasa dia sentuh, menandakan terlalu banyak bekerja hingga membuat tangan nya sedikit kasar.


Memang, bekerja serabutan membuat kulit-kulit ditubuhnya kusam dan kasar. Terlebih di bagian tangan dan wajah. Namun, meski wajah Elma tak terawat sedikit memiliki masalah kulit, tetapi wajahnya tetap terlihat cantik karena jenis kulit nya yang tergolong putih kemerah-merahan menurun dari papi maminya.


Dokter Edo membaringkan tubuh Elma di atas sofa ruang kerjanya dengan hati-hati, walau gadis itu tak tidur tetapi dia memperlakukan seperti membaringkan orang yang sedang tidur.


Untung saja, ruang kerja dokter Edo lumayan luas dan dilengkapi sofa, hingga membuatnya bisa leluasa membaringkan tubuh Elma.


"Please ... Jangan menangis lagi."


Jari-jemari Edo terulur mengusap air mata yang berderai membasahi wajah cantik nya.


"Aku sudah berusaha menahan air mata sejak dulu di depan orang-orang, tapi kali aku benar-benar tak bisa menahannya."


Bukannya mereda, tangisan Elma justru semakin menangis tersedu-sedu. Sepertinya dia benar-benar sedang ingin mengeluarkan seluruh air matanya kali ini hingga tak memiliki sedikitpun simpanan air mata agar tak dapat menangis lagi.

__ADS_1


"Bila itu akan membuat mu lega, maka keluarkan air matamu sebanyak yang kau mau. Aku akan bersedia dengan senang hati meminjamkan bahu ku."


Tanpa menunggu dokter Edo mengulangi perkataan nya kembali, Elma lebih dulu menyandarkan kepalanya ditubuh Edo. Tidak tidak, Elma bukannya merebahkan kepalanya di bahu dokter Edo sesuai perintah nya, dia justru membenamkan kepalanya di dada bidang dokter Edo. Membuat laki-laki itu semakin panas dingin dibuatnya, terlebih saat kedua tangan Elma ikut menyusup ke dalam jas putih yang dikenakan Edo hingga bagian tubuh bawahnya semakin menegang hebat dan ingin segera melepaskan sesuatu yang mendesak ingin keluar.


"Shitt! Kau selalu saja membuat ku tersiksa, gadis nakal!" Tentu saja Edo hanya mampu berkata-kata dan mengumpat dalam hati, karena tak mungkin dia menunjukkan reaksi tubuhnya pada Elma. Gadis yang sudah membuatnya turn on hanya karena bersentuhan kulit meski masih tersekat oleh kain yang menempel di tubuh masing-masing.


"Elma." Panggil dokter Edo setelah beberapa saat dan tak lagi merasakan getaran pada wajah Elma, yang berarti dia sudah menghentikan tangisnya.


"Emm ... " Elma tak menjawab, dia hanya bergumam sembari menikmati aroma wangi tubuh dokter Edo. Elma masih terlihat sangat nyaman dengan posisi kepalanya yang masih menelusup dibalik dada bidang dokter Edo. Dia bahkan tak merubah posisi sedikit pun meski sudah dipanggil oleh dokter Edo.


"Asalkan apa?"


Elma sontak mendongak cepat menatap intens wajah dokter Edo dengan tatapan bola mata penuh harap, seakan-akan tatapan matanya bertanya-tanya kalau apa yang dikatakan dokter Edo tadi bukan lah kebohongan?


Dokter Edo membalas tatapan Elma tak kalah intens sembari memegang kedua bahu nya.

__ADS_1


"Jadilah teman ranjang ku,"


Deg


Detak jantung Elma seakan berhenti berdetak seiring dengan nafasnya pun sepertinya ikut berhenti. Seluruh persendiannya kaku untuk digerakkan. seperti sebuah mimpi mendengar penawaran dari dokter Edo. Seorang dokter yang sangat Elma hormati dan disayangi, disamping karena dokter Edo memang dokter yang menangani kondisi maminya, juga karena dokter Edo adalah satu-satunya dokter yang paling baik memperlakukan nya. Oleh karena itu, Elma begitu mengagumi dan menghormati sosok Edo yang menurutnya begitu sempurna.


"maka aku akan membayar semua pengobatan mami mu. Bukan hanya pengobatan, tetapi aku akan menjamin semua kebutuhan dan pendidikan mu asal kau mematuhi semua perintah ku." Belum sempat Elma tersadar dari keterkejutannya, dokter Edo kembali bersuara.


"Bagaimana Elma? Apa kau setuju?" Pertanyaan dokter Edo kali ini berhasil membuat Elma tersadar dari lamunannya.


Elma tak serta-merta menjawab pertanyaan dokter Edo, dia justru kembali menatap bola mata dokter Edo tanoa keraguan sedikit pun.


"Haruskah aku menjual tubuh ku demi mami? Apa aku terlihat serendah itu? Apa tidak ada tawaran lain lagi yang lebih manusiawi untuk menolong seorang lemah seperti ku?" Mata Elma kembali berkaca-kaca. Nada suaranya terdengar bergetar. Tatapan matanya terlihat sangat kecewa.


Ya, dia kecewa pada sosok Edo. Sosok yang selama ini dia kagumi karena kebaikan serta wajahnya yang tampan. Tetapi semua kekaguman itu, baru saja diruntuhkan akibat penawaran bodoh Edo sendiri.

__ADS_1


__ADS_2