
"Ma, Pa, Tante ... Saya permisi sebentar, ada yang harus saya bicarakan dengan Elma." Tanpa menunggu persetujuan ketiga orang tersebut, Edo lebih dulu menarik tangan Elma dan membawa keluar kamar dengan langkah terkesan terburu-buru lalu menuntun ke kamar nya.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat marah? Apa aku berbuat salah?" Elma yang tak mengerti dengan sikap Edo yang menurutnya sangat aneh pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa yang kau lakukan, tadi?" Edo menatap Elma dengan tatapan tajam namun terlihat gurat kecemasan dalam tatapan itu membuat Elma semakin penasaran dengan sikap calon suami nya.
"Apa maksudmu? Tadi aku baru saja bangun tidur, dan belum melakukan aktivitas apapun." Elma tidak bohong, dia memang belum melakukan apapun karena saat dibangunkan Edo dan mami nya dia bahkan masih berada di alam mimpi.
"Bukan sebelum, tapi setelah tante Aline membangunkan mu, apa yang kau lakukan?"
Dahi Elma semakin mengerut tajam, mencoba mengingat apa yang dia lakukan setelah bangun tidur. Tetapi hasil nya nihil, dia tak mengingat apapun. Karena seingat nya, saat tadi dibangunkan sang mami, dia langsung berusaha bangun. Dan saat dirinya mencoba bangkit lalu berjalan ke arah pintu tiba-tiba kaki nya tersandung sudut meja.
__ADS_1
"Jangan-jangan ...,"
"Auuhhh ..! sakiiit ...!" Elma memekik kesakitan saat dengan tega nya Edo menekan luka di betis nya sangat keras.
"Kenapa kau menekan luka ku?" Elma menatap sengit Edo.
"Supaya kau ingat." Jawab nya santai.
"Kenapa kau bisa terluka seperti ini? Apa begitu susah menjaga tubuh sendiri sampai mendapatkan luka lebam separah ini?" Meski mulut Edo menggerutu, tetapi tangan nya terus bergerak mencoba menempelkan es batu yang tadi dia ambil di kulkas yang terletak di sudut kamar.
"Ssshhh ..." Elma masih meringis sakit saat Edo menempelkan es ke atas luka nya yang sudah membiru. "Auhh ... sakit ... kau mau menyakiti ku, ya?!" Tanya Elma sewot saat dengan sengaja Edo menekan luka nya.
__ADS_1
"Ya, aku lebih ikhlas aku yang menyakiti mu daripada kau terluka seperti ini." Sejujurnya Edo benar-benar mengkhawatirkan Elma. Dia sangat takut saat melihat luka memar di betis wanita nya saat pertama kali masuk ke kamar. Namun gadis aneh ini justru berlari ke arah kamar mandi, dan itu berhasil semakin membuat Edo takut luka yang didapati Elma semakin parah atau bahkan hingga mengalami cidera. Itu lah mengapa Edo terus menatap tajam Elma saat di kamar tadi.
"Auhh .." Elma kembali meringis saat kaki nya kembali merasakan tekanan. "Sebenarnya kau ini khawatir atau memang sengaja menyiksa ku?!" Ujar nya bersungut-sungut.
" Ya sudah! Kalau begitu, sakiti saja diriku. Lagian, kau itu memang hobi sekali menyakiti ku." Elma mengatakan dengan wajah yang sudah bersungut-sungut, seakan-akan kedua tanduk nya sudah dikeluarkan.
"Aaaaaa....! Ampuuun ..!" Elma berteriak keras saat dengan tega nya Edo kembali menekan luka itu, bahkan lebih keras dari tekanan tadi.
"Ampun, sayang ... Iya, maafkan aku. Aku janji tidak akan terluka lagi. Dan terimakasih sudah mengkhawaturkan ku." Elma tersenyum kaku menatap wajah Edo yang masih berwajah datar. Sedangkan senyuman Elma terkesan masih sangat dipaksakan karena dalam hati dia masih menggerutu pada Edo yang dengan tega nya menyakiti diri nya sampai dua kali.
Andai dirinya tak takut luka nya akan kembali di tekan Edo, tentu Elma sudah memberi sumpah serapah.
__ADS_1