Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Bekas Bibir di Kemeja


__ADS_3

Hari demi hari mereka lalui di hiasi dengan beberapa perdebatan. Sepertinya efek kehamilan Elma membuat nya semakin posesif pada sang suami. Tak jarang Elma mencurigai suami nya jika dia pulang larut.


Memang benar, selama ini Edo jarang sekali pulang terlambat. Tetapi beberapa hari ini Edo selalu terlampau, hal itu menimbulkan banyak kecurigaan di hati Elma. Terlebih beberapa waktu lalu Elma pernah mencium bau parfum wanita di baju Edo, hal itu membuat Elma bertanya-tanya apakah sedekat itu Edo bekerja dengan pekerja wanita nya? Atau Edo menyembunyikan hal lain yang mungkin tak diketahui Elma?


Hari terus berganti, sikap Edo tak pernah berubah. Selalu berusaha membuat Elma nyaman dan aman bersama nya. Tetapi entah kenapa Elma merasa belakangan ini Edo tak seceria biasanya. Entah apa yang menyebabkan sang suami bersikap seperti itu, Elma merasa Edo menutupi sesuatu dari nya.


Padahal dulu, apapun yang terjadi di hidup Edo selalu diceritakan pada nya. Tapi kenapa sekarang seakan semua nya berubah?


Bahkan Edo yang sekarang jarang meminta hak nya sebagai suami dengan alasan lelah. Kenapa ada yang aneh disini?


Mungkin beberapa hari ini Elma masih tahan dengan sikap Edo yang berubah, tapi saat ini? Dia tak kuat lagi menahan sesak di dada saat melihat ada bekas bibir yang melekat di kemeja putih Edo.


Miris, itu lah gambaran hati Elma saat ini. Dia merasa telah menjadi orang yang paling bodoh di dunia ini karena telah termakan oleh bujuk rayu dari bibir manis Edo hingga membuat nya jatuh hati sejatuh jatuhnya.


Kali ini dia tak akan lagi diam, di saat cinta nya sudah dinodai maka tak ada lagi yang akan dia pertahankan jika memang dugaan nya benar.


"Sayang, tolong ambilkan handuk. Aku lupa membawa nya." Perintah Edo sedikit mengeraskan suara, karena saat ini Edo masih di kamar mandi sedangkan Elma berada di kamar.


Mendengar panggilan Edo, tangan Elma meremas kuat kemeja di genggaman nya. Baru saja Edo pulang dan langsung melucuti pakaian nya di lantai lalu pergi ke kamar mandi. Hingga wanita hamil itu lah yang membereskan baju-baju Edo yang berserakan di lantai.


Dan tanpa di duga, dia justru mendapat kejutan yang begitu besar saat melihat lipstik merah terang itu melekat kuat di kemeja putih Edo.


Meksi hati nya hancur tak tersisa, tapi Elma masih berusaha tetap melayani sang suami. Dia mengambil beberapa potong baju ganti yang dibutuhkan Edo lalu meletakkan di atas kasur. Lalu tangan nya kembali meraih handuk untuk memberikan nya pada sang suami.

__ADS_1


Ckek.


Elma menyodorkan handuk tanpa kata. Wajah nya bahkan sudah memerah dengan degup jantung yang bergemuruh hebat.


"Terimakasih, istri ku."


Elma sama sekali tak menanggapi perkataan sang suami. Hati nya tak setegar itu, dia tak mungkin kuat menahan sesak nya dada ini. Jika dia berkata satu patah kata pun, maka dapat dipastikan air mata itu akan meluncur dengan lancar. Oleh karena itu, Elma lebih memilih menanggapi perkataan suaminya dengan sebuah anggukan lalu langsung berlalu dari sana.


"Sayang ..."


Baru saja Elma berjalan beberapa langkah, Edo kembali memanggil nya. Elma tak berbalik arah atau pun berkata-kata, dia hanya menghentikan langkah menunggu kalimat yang akan dilontarkan sang suami selanjutnya.


"Sayang, I miss you." Tiba-tiba Edo sudah berada di belakang nya dengan mendekap erat tubuh dari belakang. Tangan nya mengelus lembut perut Elma yang mulai membuncit.


Dan di detik berikutnya Edo membalikkan tubuh Elma lalu menyerang bibir nya.


Elma nampak diam, tak membalas ataupun menolak. Tiba-tiba bayangan lipstik berbentuk bibir di kemeja sang suami memenuhi pikiran nya. Rasanya Elma begitu jijik membayangkan suami nya telah menikmati bibir lain selain diri nya. Seketika dia tersadar akan hal itu dan langsung mendorong Edo kasar hingga tubuh kekarnya terhuyung ke belakang beberapa langkah.


Edo yang sedang menikmati ciuman itu tampak kecewa dengan tindakan istri nya yang tiba-tiba menghentikan kegiatan nya.


"Ada apa, sayang?" Tanya nya di liputi kabut gairah. Nafas nya naik turun seakan-akan baru saja lari maraton beratus-ratus meter.


Sedangkan Elma tak menjawab pertanyaan suami nya, dia hanya menghapus kasar jejak bibir suami nya dengan air mata yang sudah mengalir begitu deras.

__ADS_1


"Hei, kenapa kau menangis?" Edo nampak terheran karena istri nya tiba-tiba menangis. Dia bergerak cepat mendekati istri nya, wajah nya tampak sedikit tegang karena takut ada yang sakit pada istri nya.


"Apa aku menyakiti mu, Sayang? Apa aku menggigit mu?" Edo tampak mengamati seluler tubuh Elma dari atas hingga ke bawah, namun tak ada tanda-tanda luka atau pun bekas luka.


"Sayang, kau kenapa?" Tanya Edo lagi dengan suara lembut dan nampak sedikit lebih tenang. Tidak seperti tadi yang dilanda kepanikan karena takut ada yang terluka pada istri nya.


"Kau tak mau mandi bersama ku? Tidak apa-apa, sayang. Aku tidak akan memaksa. Kau jangan menangis lagi, oke?" Edo dengan lembut dan sabar menuntun istri nya keluar. Dengan Edo yang juga memutuskan untuk menyudahi mandi nya.


Sebenarnya tadi Edo memang sudah selesai mandi, tetapi karena dia sudah lama tidak menjenguk bayi nya, dan dia juga sudah sangat merindukan istri nya, Edo meminta jatah. Akibat pekerjaan yang menumpuk akhir-akhir ini, ditambah dia juga harus ikut terjun dalam menangani kasus Arasya dan John membuat pekerjaan nya bertambah berkali-kali lipat.


Itu sebabnya dia juga sering lembur. Sebenarnya Edo sangat kasihan pada istri nya yang selalu dia tinggal pagi-pagi sekali dan pulang larut. Apalagi saat melihat istrinya lebih memilih menunggu nya di ruang tamu hingga ketiduran di sana, sungguh hal itu membuat Edo semakin merasa bersalah pada sang istri.


Dia selalu mengucapkan kata maaf di saat istri nya sedang tertidur, setidaknya itu dapat mengurangi rasa bersalah nya pada wanita nya.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan dibelakang ku?"


Deg.


Setelah memilih bungkam sejak tadi, kini Elma mulai membuka suara yang membuat jantung Edo berdetak tak beraturan.


Edo tertegun mendengar nya. Apa dia tidak salah dengar? Kenapa istri nya itu berkata seperti itu.


"Sayang, apa yang kamu katakan? Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Edo kembali mendekati sang istri. Namun baru beberapa detik dia berjalan, langkah nya dihentikan Elma yang mengangkat satu tangan pertanda menyuruh nya berhenti di tempat.

__ADS_1


__ADS_2