
Sang mentari kembali memancarkan sinar nya, menandakan pagi kembali menyapa di suatu belahan bumi. Sepasang manusia yang belum memiliki ikatan resmi sama-sama saling memeluk tubuh mereka saling memberi kehangatan dalam ranjang yang sama.
Entah sudah berapa lama mereka tertidur, keduanya sama-sama tak mengingat. Yang jelas setelah proses mandi bersama tanpa melakukan kegiatan apapun, ah tidak-tidak! lebih tepatnya Elma memandikan Edo. Baik Elma maupun Edo tak bisa menahan kantuk hingga akhirnya mereka tertidur pulas di ranjang yang sama. Ah, bukan-bukan! lebih tepatnya Elma membangunkan Edo yang sudah tertidur di kamar mandi dan membimbing nya menuju kamar dan Elma pun ikut tertidur di sana.
"Eunghh ...," Lenguhan Elma memancing kesadaran Edo hingga dia pun ikut terbangun.
Elma menggeliat sembari meregangkan otot-otot nya yang terasa kebas karena semalaman ada benda berat yang menindih perutnya. Apalagi jika bukan lengan kekar Edo yang di penuhi otot-otot kuat itu yang menindih perutnya? Bahkan semalaman Elma tak bisa bergerak bebas karena lengan Edo. Tapi, disisi lain dia juga merasakan nyaman saat dalam tidur nya ada yang memeluk tubuh nya. Selama ini Elma tidur sendiri, tentu sangat berbeda dengan tidur nya semalam yang terus berada dalam pelukan Edo.
Bahkan wangi tubuh Edo seakan membuat Elma candu, dia ingin terus-terusan mencium aroma nya, tetapi tak mungkin dia lakukan karena tentu saja dia sangat sungkan. Bisa-bisa Edo besar kepala bila Elma mengatakan hal itu padanya.
"Good morning,"
Cup
Tiba-tiba Edo mendaratkan kecupan di bibir dengan mata yang masih terpejam tetapi senyum itu tersungging di bibirnya setelah menyapa Elma dengan suara serak khas bangun tidur.
Mata Elma jelas membulat tajam, hal tak terduga yang tak pernah Elma bayangkan sebelumnya. Dia bahkan sampai tidak bisa berkata-kata karena saking terkejutnya. Bibir nya di cium oleh seorang laki-laki yang bahkan dia baru saja membuka mata, belum sempat menggosok gigi atau sekedar berkumur? Gila! Ini gila!
Elma tentu saja sangat malu, tetapi dia pun tak bisa mengatakan hal itu pada Edo. Sebagai seorang perempuan, menjaga kebersihan tubuh adalah suatu keharusan apalagi saat bersama seorang laki-laki. Tapi kali ini? baru saja bangun tidur dan masih bau iler mungkin, sudah di cium Edo?
__ADS_1
Aaahhh ... ingin rasanya memasukkan dirinya ke lubang hitam saja agar tak bisa kembali. Tetapi tak mungkin dia lakukan karena di mana letak lubang hitam pun Elma tidak tahu.
"Morning kiss, bab." Seakan-akan Edo mengetahui akan keterkejutan Elma. Dia lebih dulu menjelaskan sebelum Elma membuka suara. Elma jelas tersadar dari keterkejutan nya, pikiran nya kembali pada dunia nyata setelah tadi otak nya mengelilingi alam semesta.
Senyum itu masih tersungging di wajah Edo yang tampan meski wajah nya masih terlihat sedikit kusut khas orang bangun tidur. Benar-benar membuat Elma tak bisa berkata-kata, bahkan ingin mendengus pun tak jadi karena melihat senyum ceria di bibir Edo. Rasanya Elma dibuat candu dengan senyum itu, senyum yang membuat hatinya sedikit menghangat dan melupakan status nya yang saat ini dijadikan sebagai budak naf-su Edo.
"Kenapa diam, hm? Kau tak ingin membalas sapaan ku?" Edo bertingkah seolah tak terima karena Elma tak membalas sapaan nya.
"M-morning," Meski bibirnya terasa kelu, tenggorokan nya seakan tercekat, Elma tetap menyapa Edo karena tak ingin membuat nya marah. Apalagi saat melihat bibir Edo yang sudah melengkung turun membentuk bulan sabit ke bawah. Dia tahu, itu artinya Edo menginginkan sapaan darinya.
Meski begitu canggung karena baru pertama kali menyapa seorang laki-laki yang menurut nya terkesan awkward ini, akhirnya tetap dia lakukan.
"Hm ... manisnya, aku semakin suka pada mu." Edo mengacak-acak rambut berantakan Elma hingga semakin berantakan dengan senyum lebar. "kalau kau terus membuat ku bahagia, aku akan memberikan bonus pada mu, bab."
"Ya-"
"Oh iya, mulai hari ini dan seterusnya kau harus memanggil ku dengan sebutan honey, Okey."
Belum sempat Elma berbicara, perkataan nya lebih dulu dipotong oleh suara Edo.
__ADS_1
"Apa itu perintah?" Tanya Elma sedikit keberatan.
Bukan tanpa alasan Elma keberatan dengan panggilan itu, dia takut bila Edo terus-terusan bersikap lembut dan baik padanya Elma justru dia akan semakin menyukai laki-laki itu. Apalagi jika ditambah panggilan mesra itu, benar-benar membuat Elma takut akan terbawa perasaan atas semua tindakan Edo.
Dia takut hatinya akan terluka seperti kakaknya dulu yang mencintai seorang laki-laki dan akhirnya terluka hingga memilih bunuh diri.
Kejadian yang menimpa kakak nya benar-benar menjadikan trauma tersendiri bagi Elma. Semenjak itu pula, dia memutuskan untuk tidak akan pernah terikat dengan laki-laki manapun. Dia sudah berjanji pada diri sendiri tidak akan mencintai laki-laki manapun bahkan sampai menjalin kasih. Fokus Elma hanya lah membalaskan dendam atas apa yang menimpa kakak nya pada laki-laki yang bernama John Mayer.
Tetapi kali ini dia harus mengesampingkan apa yang sudah menjadi prinsip nya sejak dulu karena kesehatan sang mami adalah yang utama.
Selain itu, demi mencapai ambisi untuk balas dendam pada John Mayer, dia membutuhkan seseorang yang bisa membantu untuk mencapai tujuan nya. Dan orang yang bisa membantu nya adalah Edo Lincoln.
Elma tahu, meski dirinya dijadikan budak oelh Edo, tetapi dia tahu Edo memiliki sifat yang baik dan menepati janji. Jadi dia tidak khawatir Edo tidak akan menepati janji nya.
Terlihat dari cara Edo memperlakukan nya, dia sangat percaya kalau Edo akan membantu mencapai tujuannya.
"Ya, apa yang ku katakan adalah perintah yang wajib kau laksanakan jika tidak ingin kontrak itu aku batalkan sepihak." Kata Edo dengan ekspresi kembali datar. Wajah manis dan ramah serta senyuman yang tersungging di bibirnya beberapa detik lalu seakan-akan menguap begitu saja. Berganti ekspresi datar dan dingin khas wajah Edo.
"Issh ... selalu saja begitu. Ancaman mu selalu menggunakan kontrak itu!" Dengus Elma tak terima dengan perlakuan Edo yang selalu saja mengancamnya.
__ADS_1
Elma beranjak dari tempat tidur untuk pergi ke kamar mandi dengan menghentak-menghentakkan kaki khas wanita sedang ngambek.
Edo hanya terkekeh kecil melihat tingkah Elma yang menurutnya memberi hiburan tersendiri melihat ekspresi nya.