
Kangen hm?"
Cih, pede sekali! Elma menggerutu.
Terdengar kekehan di seberang panggilan.
"Issh mana ada?" Jawab nya ketus. Padahal hatinya tak bisa dipungkiri bahwa dia sangat merindukan suara itu.
"Aku kira kau juga merindukan ku seperti aku merindukan mu." Terdengar helaan nafas berat Edo di sana.
Hati Elma seketika menghangat, ada rasa bahagia yang tiba-tiba menerobos ke ulu hati.
"Kenapa kau merindukanku?" Suara Elma terdengar ketus agar tak terdengar bahagia dirindukan Edo.
"Mana mungkin aku tidak rindu pada orang yang ku cintai?"
Elma membelalakkan matanya lebar-lebar dengan bibir terbuka, apakah ini mimpi?
__ADS_1
Sungguh dia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya kali ini.
"Kau bicara apa?" Tanya nya lagi. Elma masih ingin memastikan sekali lagi.
"Lupakan." Katanya cepat.
Bibir yang tadinya melengkung ke atas langsung berubah sembilan puluh derajat melengkung ke bawah.
"Ohh ... kukira kau mengatakan kalimat yang selalu ku tunggu-tunggu." Meskipun gumaman Elma sangat pelan tapi masih bisa didengar oleh Edo.
"Kau bicara apa tadi?" Tanyanya penasaran.
"Aku bilang apa yang kau katakan?" Edo dengan tak sabaran mencerca perkataan Elma. "peerkaan apa yang kau tunggu-tunggu dariku?" Tanya nya lagi.
Saat ini Elma hanya bisa mnggigit bibir bawahnya sembari berpikir keras. Dia benar-benar merasa terintimidasi kali ini.
"Apa aku harus mengatakan yang sejujurnya?" Sejenak Elma berpikir keras menjawab pertanyaan Edo. "Ah, tidak-tidak! Itu bukanlah ide yang bagus." Lanjutnya dalam hati.
__ADS_1
"A-aku kira kau akan mengatakan akan mengantar ku pulang ke Indonesia menemui mami." Alasan Elma tepat sasaran! Kalau kata orang, sekali dayung dua pulau terlampaui. Dia mendapatkan alasan umtuk menghindar dari pertanyaan Edo sekaligus bisa menemui mami nya yang sudah lama ingin sekali dia kunjungi.
"Benarkah itu yang kau inginkan?" Edo masih saja tak percaya dengan apa yang dikatakan Elma tadi. Entah mengapa hatinya tak yakin dengan apa yang diucapkan Elma, atau mungkin hanya segelintir perasaan yang begitu mendominasi karena terlalu berharap pada wanita yangb telah bertahta di hati.
"Kalau begitu, besok kita berangkat ke Indonesia." Meski tadi sempat kecewa, tetapi Edo cukup merasa senang karena akhirnya dia akan kembali menghabiskan waktu bersama Elma.
"Benarkah?" Elma sungguh tsk percaya akan semudah ini meminta Edo mengantar pulang ke Indonesia. Padahal biasanya laki-laki itu selalu meminta syarat jika ingin permintaannya dikabulkan. Dan tentu saja permintaan Edo tak jauh-jauh dari urursan ranjang, bila Elma bisa memuaskan nya maka Edo akan dengan senang hati mengabulkan. Tetapi bila Elma belum bisa membuatnya puas, Edo tidak akan mengabulkannya sampai dia benar-benar puas.
Tanpa sadar Elma tersenyum sendiri mengingatnya, tetapi tak lama setelahnya dia langsung tersadar dan kembali berbicara pada Edo.
"Apa kau tidak meminta syarat seperti biasanya?" Tanya Elma yang berharap Edo akan megiayakan, karena tanpa terasa Elma pun merindukan kebersamaan mereka.
Di seberang telepon Edo terkekeh mendenganya. Sungguh, mendapatkan tawaran seperti itu membuat jiwa kelelakian Edo meronta. Tetapi dia menahan rasa ityu karena tak ingin semakin membuat Elma tersakiti karena perbuatan bejadnya yang terus-terusan memggauli Elma tanpa ikatan.
"Tidak, aku tidak akan meminta mu syarat seperti biasa."
"Kenapa?" Tanya Elma pensaran sekaligus kecewa karena sama saja Edo menolak.
__ADS_1
"Sedang tak ingin saja," Jawabnya asal. Padahal mana mungkin kucing kikasih ikan menolak? Tentu tidak bukan?
Elma hanya bisa mnghela nafas untuk menghilangkan rasa kecewa yang semakin memupuk di dada. "Mana mungkin Edo masih mau menyentuhku? Pasti dia sudah mendapatkan ganti yang lebih cantik dan lebih se ksi dariku," Gumam nya dalam hati.