
Sesuai janji Edo tadi saat akan berangkat ke restoran, Edo membawa Elma ke suatu tempat yang sama sekali belum diketahui kemana mereka akan pergi.
"Sayang, sebenarnya kita mau kemana?" Elma yang sedari tadi diam pun bersuara setelah beberapa saat menaiki mobil yang di kendarai sang suami tak kunjung sampai tujuan.
"Sebentar lagi juga kau akan tahu, sayang. Sabar ya ..." Edo menampilkan senyum manis nya pada sang istri. Seperti nya Edo benar-benar sudah cinta mati pada Elma hingga tak sebentar pun melepaskan tangan dari genggaman sang istri.
"Memang nya kita mau kemana? Kenapa sejak tadi kita tidak sampai-sampai?" Elma mulai sedikit jengah karena perjalanan yang dia tempuh sudah memakan waktu sekitar tiga puluh menit tapi tak kunjung sampai.
__ADS_1
"Sabar, sayang. Ini hampir sampai." Edo bersikap tenang, mengendarai mobil pun dengan sangat tenang tanpa menambah kecepatan sedikit pun meski istri nya sudah menyuruh nya tak sabar.
"Aku sengaja berlama-lama karena ingin menikmati malam kita berdua jalan-jalan mengelilingi kota. Sebenarnya tadi sempat berpikiran menggunakan motor tapi tidak aman untuk mu" Ternyata itu lah keinginan Edo, ingin berlama-lama jalan mengelilingi indah nya kota Nevada di malam hari. Memang gemerlap nya kota ini sangat lah indah saat di malam hari, hampir sepanjang jalan terpaksa lampu kelap-kelip yang begitu memanjakan mata.
Seketika hati Elma menghangat, dalam hati dia sangat bersyukur karena di cintai seorang laki-laki sebesar itu. Dia tak pernah menyangka jika garis cinta nya akan sebaik ini. Padahal dulu nya dia bahkan tak ingin mengenal apalagi merasakan yang nama nya setelah trauma kakak nya. Tetapi ini sungguh di luar kehendak serta bayangan nya. Dia sangat bersyukur pada Tuhan karena memberikan kehidupan yang sempurna meski dulu awal nya sempat tertatih mengais rezeki untuk dirinya sendiri juga untuk mami nya.
Setelah banyak nya cobaan serta rintangan dirinya di waktu kecil, kini dia mendapatkan segala sesuatu dengan begitu mudah. Melalui suami nya, Elma tak kekurangan materi. Melalui suami nya pula, Elma tak kekurangan cinta. Semuanya sudah dilimpahkan oleh laki-laki yang berstatus sebagai suami nya.
__ADS_1
"Terimakasih, sayang." Setelah beberapa saat Elma menatap Edo dengan tatapan haru, akhirnya kata yang keluar dari mulut nya adalah kata "terima kasih".
Edo yang tak mengerti pun hanya menatap bingung sang istri.
"Terimakasih untuk apa, Sayang?" Tanya nya seraya mengelus tangan Elma yang masih saling bertautan.
"Terimakasih karena telah menjadi suami ku. Terimakasih karena telah memberikan cinta yang begitu besar untuk ku. Terimakasih juga kau selalu ada di saat aku sedih maupun bahagia. I love you so much." Ucap nya haru. Entah kenapa saat ini rasanya Elma ingin menangis. Bukan menangis karena sedih, tetapi menangis karena haru dan ingin terus-terusan mengucapkan kata cinta untuk sang suami. Dia bahkan menjadi lebih posesif pada Edo, dan sedikit di Landa rasa cemas jika sewaktu-waktu sikap Edo berubah pada nya. Padahal semua ketakutan itu hanya lah Elma yang merasakan, nyata nya Edo benar-benar sudah cinta sepenuhnya pada sang istri dan tidak membutuhkan cinta yang lain lagi, atau bahkan berpindah hati.
__ADS_1
"Love you more, Sayang. Aku lebih mencintai mu dibanding segala nya. Kau lah cinta ku saat ini, besok, dan sampai kapan pun hanya kamu yang berhak aku cintai." Edo mengecup punggung tangan Elma yang sejak tadi di genggam.