Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Perlakuan Manis Elma


__ADS_3

Fajar mulai menyingsing, meski nampak malu-malu, namun sedikit demi sedikit sang mentari mulai beranjak naik ke peraduan nya. Semilir angin terasa berhembus di belahan bumi itu ikut menyambut datang nya sang fajar. Meski dingin nya terasa menembus tulang, namun tak sedikitpun mengganggu sepasang pengantin baru yang baru saja mengistirahatkan badan setelah tenaga nya terkuras habis untuk meraih kenikmatan yang tak terkira.


Dua manusia itu tampak semakin merapatkan tubuh hingga dua tubuh itu tak ada jarak sedikitpun. Kepala Elma terlihat semakin menyusup ke dada bidang Edo yang masih telanjang saat punggung polos nya tersentuh udara segar di pagi hari yang begitu menyejukkan. Kemudian diikuti dengan tangan kokoh Edo yang semakin mengerat kan pelukan nya. Agak nya terlihat begitu nyaman posisi dua manusia itu, membuat jiwa jomblo author dan pembaca meronta-ronta.


Dering ponsel berbunyi, terlihat nama panggilan luar negeri yang masuk di ponsel Edo yang terletak di atas nakas, namun tak sedikit pun mempengaruhi dua manusia yang masih menyelami alam mimpi untuk kembali ke alam nyata.


Satu kali panggilan, meski telinga nya sedikit menangkap suara berisik itu, namun tak membuat keteguhan nya untuk menyelami mimpi itu terputus.


Di panggilan kedua, berhasil mengganggu tidur nyenyak Elma. Tubuh nya mulai menggeliat, otak nya mencoba menangkap sinyal-sinyal pengganggu tidur.


Namun, tak sesuai ekspektasi. Elma kembali menyelami tidur nya, ternyata tadi bergerak hanya untuk merubah posisi tubuh lalu kembali tertidur. Dan pada akhirnya dering ponsel yang berbunyi berulang-ulang itu tak ada satu panggilan terjawab hingga siang hari.

__ADS_1


.


.


.


Tubuh Elma menggeliat saat merasakan seluruh tubuhnya sakit. Dia meregangkan otot-otot yang terasa begitu pegal setelah beberapa jam dia habiskan untuk tidur, mata nya dia buka perlahan sembari menyesuaikan cahaya ruangan yang tampak terang.


"Astaga! Jam 4 sore?!" Pekik nya keras. Bagaimana Elma tahu saat ini sudah sore hari?


Tentu saja karena melihat di luar yang terang benderang. Kebetulan cuaca hari ini begitu cerah hingga membuat matahari masih terlihat begitu cerah meski sudah sore hari.

__ADS_1


"Edo, bangun. Sudah sore."


Edo sama sekali tak merespon perkataan Elma, padahal wanita itu sudah berusaha menggoncang tubuh suami nya yang masih memeluk nya dengan erat.


"Edo, bangun hm ...," Elma mengusap wajah serta rambut suami nya dengan lembut sembari memandang wajah damai suami nya yang terlampau me sum saat membuka mata.


"Sayang ...," Sekali lagi, Elma membangunkan suaminya dengan lembut. Mulai setelah Edo mengucapkan janji suci, Elma memutuskan akan memperlakukan sebaik yang Elma bisa. Dia tak akan lagi membuat Edo merasa tak nyaman apalagi sampai dibuat susah dengan tingkah nya yang tak jarang membuat Edo kesal.


"Sayang, bangun dulu. Sudah sore." Terpaan udara di sekitar leher Edo berhasil mengusik tidur nya. Ya, Elma sengaja menghembuskan nafas di dekat leher Edo. Dia tahu kelemahan suami nya yang terlampau me sum ini, dan ternyata perkiraan nya tidak salah. Edo mulai menggeliat yang artinya suami nya terbangun hanya karena mendapatkan rangsangan di area leher.


"Sudah bangun?" Elma menyambut suami nya yang baru saja membuka mata dengan senyum manis khas nya. Seketika hati Edo berdesir, ada rasa menghangat dalam dada. Dia merasa bahagia mendapatkan perlakuan manis dari istri nya. Meski baru saja bangun tidur dan belum membersihkan diri, tetapi bagi Edo, istri nya adalah wanita paling cantik di dunia.

__ADS_1


__ADS_2