
Edo benar-benar menghabiskan waktu nya bersama sang istri. Setelah kegiatan panas tadi siang, keduanya sama-sama tertidur hingga bangun menjelang malam hari. Dan saat ini mereka sedang bersiap yang rencananya akan makan malam di luar.
"Sudah, sayang. Tidak perlu dandan terlalu cantik, kita hanya makan malam di luar." Peringat Edo. Sejak tadi diam-diam memperhatikan istri nya yang sibuk memilih mulai dari baju lalu sekarang sedang memoles make up do wajah. Padahal biasanya Elma tak suka berdandan jika tidak ada keperluan yang memang mengharuskan nya menggunakan make up. Tapi sepertinya sekarang tingkah Elma justru terbalik dari biasanya.
"Aku tidak dandan, sayang. Hanya memoles sedikit agar wajah ku tidak pucat." Elak nya. Padahal jelas-jelas Edo melihat dengan mata kepala nya sendiri istri nya menggunakan seluruh make up nya untuk memoles wajah.
"Kamu sudah cantik, kenapa masih dandan?" Edo mendekati sang istri lalu memeluk tubuh nya dari belakang dan menyandarkan dagu nya di bahu sang istri lalu menatap lekat wajah istri nya dari pantulan cermin.
"Aku tidak ingin suami ku ini tergoda oleh wanita lain. Jadi aku harus antisipasi agar kau tak selingkuh dari ku dan mencari kepuasan dari wanita lain." Kata nya penuh menggebu-gebu hingga menghentikan sejenak tangan nya yang sejak tadi sibuk mengolesi make up di wajah.
"Astaga, sayang. Mana ada aku tergoda dengan wanita selain kamu? Bahkan senjata ku hanya bisa memasuki mu. Tidak ada wanita lain sebelum nya yang ku sentuh, sayang." Edo masih menahan dagu nya di bahu sang istri saat mengatakan nya. Sebenarnya dia sedikit terkekeh mendengar istri nya yang mulai posesif, sepertinya prediksi nya benar jika saat ini sudah ada Edo junior di rahim sang istri.
"Aku tidak percaya." Kata nya santai. "aku tidak percaya kau bisa menahan gai rah tinggi mu itu. Jika kau tidak pernah berhubungan dengan wanita sebelum aku, lalu bagaimana cara mu mengatasi naf su offer mu sebelum bertemu dengan ku?" Elma sengaja memancing agar Edo menceritakan kehidupan sebelum Elma datang di hidup nya.
"Aku sibuk bekerja, sayang. Aku tak pernah ada waktu untuk melakukan hubungan bersama wanita lain, bahkan aku tidak pernah pacaran." Jawab nya jujur. Memang benar Edo tak pernah pacaran dengan wanita sebelum nya karena dia sibuk mengembangkan bisnis ayah nya.
__ADS_1
"Lalu Friska?" Tanya Elma lagi. Setahu nya dulu Edo dan Friska adalah teman dekat. Meksi Edo berkata tidak pernah suka dengan Friska, tapi mereka pernah akrab dan menjadi sahabat.
"Friska itu hanya anak dari teman ayah ku. Kami dekat karena ayah sering datang ke tempat nya dan aku sering diajak ke sana. Aku hanya menganggap Friska seperti adikku sendiri tidak lebih, tapi Friska justru salah mengartikan nya." Edo menghela nafas berat. Dia sedikit menyesali pernah kenal dan dekat dengan Friska. Karena dia lah penyebab perusahaan yang dia bangun di Indonesia sudah tak lagi menjadi miliknya dan harus pindah ke negara jauh dari negeri kelahiran nya saat ini.
"Jadi, hanya Friska yang pernah dekat dengan mu? Atau ada Friska yang lain yang pernah kau anggap sebagai adikmu?" Pancing nya lagi. Entah kenapa Elma merasa tak puas dengan Jawa Edo. Dia merasa mustahil jika laki-laki setampan dan se mapan Edo tak dekat dengan satu wanita pun.
"Tidak ada, sayang ..." Edo membalikkan tubuh istri nya lalu mencubit hidung nya gemas. "Hanya kamu wanita yang berhasil membuat ku tertarik untuk mengetahui kehidupan mu lebih jauh. Dan setelah aku tahu latar belakang mu, aku memanfaatkan situasi itu untuk menjerat mu. Entah mengapa saat aku menatap tubuh mu di balik kaus kedodoran itu membuat ku ingin melihat dibalik kain itu. Apalagi saat melihat wajah polos mu yang sering terlihat putus asa membuat ku ingin terus-terusan memberi ku pelukan dan mencium seluruh wajah mu. Maafkan aku dulu pernah memperlakukan ku buruk, menjadikan mu sebagai wanita pemuas, tapi semua itu ku lakukan karena aku mencintaimu dan ingin memiliki mu." Jelas Edo panjang lebar. Dari nada suara nya terdengar bergetar menahan sesak di dada. Edo sungguh menyesal telah memperlakukan buruk wanita yang begitu dia cintai demi untuk menjerat nya.
"Kenapa kau tidak langsung berterus terang jika dulu kau tertarik pada ku?" Elma menatap lekat wajah suami nya yang terlihat menatap nya sendu wajah nya.
"Sudah lah, itu sudah berlalu. Sebaiknya kita segera keluar makan malam." Edo mengalihkan pembicaraan lalu menuntun istri nya yang sudah rapi dengan gaun indah dan riasan cantik di wajahnya.
Elma pun tersenyum lalu menggandeng lengan suami nya. Mereka berjalan beriringan keluar kamar dengan Edo yang terus menekan tangan nya di pinggul sang istri hingga tubuh keduanya saling berdempetan.
"Sayang, setelah selesai makan malam aku ingin mengajak mu ke suatu tempat." Kata nya di sela-sela langkah mereka.
__ADS_1
"Apa kau memilki kejutan untuk ku?" Tanya Elma penasaran. "tapi hari ini bukan hari spesial, Kenapa hari ini seperti nya kau bahagia sekali?" Tanya Elma penasaran.
"Kau salah jika mengatakan hari ini bukan hari spesial, sayang. Apa kau melupakan sesuatu?" Tanya Edo sedikit menunjukkan ekspresi sedih nya. Elma kembali berpikir keras mengingat tanggal saat ini, seingat nya bulan dan tanggal hari ini tidak lah spesial.
"Sekarang tanggal berapa?" Tanya Edo saat menatap Elma tak kunjung mengingat nya.
"Tanggal 16?" Tanya nya sedikit ragu.
"Itu artinya hari ini adalah tepat satu bulan hati pernikahan kita, sayang." Beritahu Edo dengan sedikit kesal.
"Oh astaga, apa kita akan merayakan anniversary setiap bulan?" Elma menatap tak percaya suami nya. Berharap suami nya ini akan berkata tidak agar dia tidak 0erlu report-repot menyiapkan hadiah untuk sang suami.
" Tentu saja, kita harus merayakan pernikahan kita setiap bulan. Aku ingin kita selalu mengenang hari bahagia kita sampai akhir hayat ku, sayang."
Elma menghela nafas berat mendengar nya. "Baik lah, jika itu mau mu. Aku menurut saja." Elma pasrah dengan apapun yanh akan suami nya lakukan selama itu tak membuat nya bahagia dan tak menyakiti hati nya.
__ADS_1