Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Elma Juga Mencintainya!


__ADS_3

Waktu yang ditunggu-tunggu Elma akhirnya datang juga. Saat ini dia sedang berjalan berdampingan dengan laki-laki yang telah membuatnya dilanda cemburu saat tadi siang tanpa sengaja melihatnya berjalan bersama seorang wanita cantik dan anggun.


"Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak senang sebentar lagi akan bertemu tante Aline?" Edo bahkan terheran-heran dengan ekspresi wajah Elma yang sejak tadi terlihat nampak cemberut dan terkesan di tekuk. Padahal kemarin saat Edo menawarkan Elma untuk bertemu sang mami dia sangat antusias bahkan dari suaranya terdengar sangat kegirangan ketika dia memberitahu nya lewat telepon, tetapi justru saat ini dia terlihat sangat tidak bersemangat seperti kehilangan jiwanya.


"Elma," Tegur Edo lagi sembari menyenggol tangan nya saat Elma tak menjawab pertanyaan nya.


 "Apa?!" Balas nya ketus. Matanya menatap malas ke arah Edo lalu kembali fokus ke depan menatap ke arah jalan yang sedang di lewati. Perempuan itu sepertinya enggan sekali berbicara dengan nya.


"Kau kenapa?" Edo hanya bisa melongo mendapati jawaban Elma yang terdengar sangat ketus di telinga nya. "Kenapa kau terdengar marah? Apa kau tak suka pulang ke Indonesia?" Edo masih berusaha menanyakan hal yang sama. Karena memang tak ada hal lain yang Edo ketahui sebab Elma marah.


Sedangkan Elma terus berusaha menulikan pendengaran nya, malas sekali rasanya berbicara dengan laki-laki itu.


"Elma, jawab pertanyaan ku," Edo menarik tangan Elma agar wanita itu menghentikan langkah kaki nya. Dia tidak suka Elma mengabaikan perkataan nya seperti saat ini. Karena Edo memang tak terbiasa di abaikan oleh siapapun.


"Lepas!" Sentak nya kasar berusaha melepaskan genggaman tangan Edo. Hal itu berhasil menyulut emosi Edo. Meski begitu, Edo masih tetap berusaha mengontrol emosi sembari menuntun Elma menuju ke sebuah lorong sepi.


"Kau itu kenapa?!" kini giliran Edo yang berbicara keras karena saat ini sudah tak ada orang lain yang ada di sana. Elma bahkan sampai tersentak mendengar suara berat Edo yang terkesan dingin dan menakutkan.

__ADS_1


"Apa kau tak senang pulang ke Indonesia bersama ku?! Kalau memang iya, seharusnya bicara saja! Tidak perlu bersikap kekanakan seperti ini!" Edo benar-benar tak bisa menahan gemuruh di hati. Sebelumnya dia pikir Elma tak apa-apa dia temani pulang ke Indonesia. Nyatanya salah, perempuan itu bahkan tak mau hanya sekedar di temani nya pulang. "jika kau berbicara sejak awal maka aku tak akan berusaha ikut bersama mu. Aku akan menyuruh orang untuk menjaga dan menemani kau pergi." Jelasnya lalu di akhiri dengan menyugar rambut nya tanda frustasi dengan nafas memburu serta terdengar dengusan nafas kasar dari tenggorokan nya.


"Tidak perlu repot-repot mencarikan ku penjaga. Aku akan baik-baik saja meski pergi sendiri." Elma masih berusaha mempertahankan ego yang ada dalam hati. Dia bahkan mencoba bersikap biasa-biasa saja meski dirinya sedikit terkejut dengan respon Edo.


Sedangkan Edo yang mendengar jawaban dar Elma hanya bisa tertawa sinis. "Sebenci itu kau terhadap ku, Elma?"


"Ya, aku sangat membenci mu! Aku benci laki-laki!" Teriak nya dengan wajah memerah menahan tangis. "aku bahkan membenci semua laki-laki, mereka hanya memperlakukan baik wanita saat akan menikmati tubuhnya lalu setelah merasa bosan mereka akan membuang nya begitu saja seperti sampah!" Kali ini Elma tak bisa menahan air matanya hingga lelehan bening itu mulai membasahi kedua pipi.


Edo yang tak tahan melihat wanita nya menangis langsung mendekap tubuh nya erat membawanya ke pelukan. "Maafkan aku," Bisik Edo penuh sesal. Edo benar-benar menyesal mendengar kata demi kata yang Elma lontar kan. Laki-laki itu tahu, trauma Elma terhadap laki-laki belum sepenuhnya pulih semenjak skandal kakak nya dengan John, dan ditambah lagi saat ini dia melakukan hal yang sama seperti John.


Setelah di rasa tenang, Edo kembali meregangkan pelukan mereka. Bukan karena dia tak ingin berlama-lama memeluk Elma, tetapi Edo bahkan justru karena Edo memikirkan takut Elma tak nyaman di peluk olehnya.


"Sekarang pergilah sendiri, aku akan kembali pulang. Jaga dirimu baik-baik, sampaikan salam ku pada tante Aline."


Hati Elma semakin berdenyut nyeri mendengarnya, itu artinya Edo tak akan menemani nya pulang. Ah ... mungkin memang Edo benar-benar sudah bosan padanya dan tak ingin meninggalkan wanita baru nya. Batin Elma.


"Ah iya, aku lupa. Kau pasti tak akan bisa meninggalkan wanita baru mu itu. So, selamat bersenang-senang. Thanks, sudah berbaik hati pada ku selama ini." Elma berlalu dari hadapan Edo begitu saja meninggalkan Edo sendiri yang masih mematung di tempat mencerna perkataan Elma.

__ADS_1


Setelah sadar dari lamunan nya, Edo langsung berlari megejar Elma yang belum jauh darinya.


"Tunggu, Elma. Apa maksudmu? wanita mana yang tak ingin ku tinggal?" Edo bertanya dengan wajah bodoh. Benar-benar bodoh karena dirinya memang tak mengerti maksud perkataan Elma.


Mendengar hal itu Elma tertawa sarkas. "Aku tak menyangka seorang Edo Lincolin begitu mudah melupakan seorang wanita. Bahkan baru tadi siang kalian berkencan dan sekarang kau sudah lupa?" Elma menjeda perkataan nya sembari mendekat ke arah Edo lalu menunjuk dada laki-laki itu dengan telunjuk tangan nya.


"Kencan? Siapa yang kencan?" Edo lagi-lagi bersikap bodoh, merasa tak mengerti apa yang dikatakan Elma.


Elma menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir pada laki-laki di depan nya. "Kau bahkan tak mengingat kencan mu tadi siang di restoran xxx? Bahkan aku yang melihat masih mengingat dengan jelas wajah wanita cantik yang kau bawa kencan. dan kalian sungguh terlihat serasi, aku tak menyangka kau akan melupakan nya. Karena aku sempat berpikir kau memperlakukan khusus pada wanita itu."


"Memperlakukan khusus?" Gumam Edo, "restoran ... " Edo masih berusaha mengingat kegiatan nya tadi siang. Namun sedetik kemudian Edo tersenyum misterius menatap Elma yang masih memasang wajah jengkel.


 "Apa kau cemburu, hm?" Tatapan Edo begitu mengintimidasi di tambah seringai tipis menghiasi wajah Edo, benar-benar membuat nyali Elma menciut.


 "S-siapa yang cemburu?"


 Meski Elma berusah mengelak, tapi kali ini Edo tak percaya. Dari sikap Elma yang sejak tadi marah, akhirnya dia tahu satu hal bahwa Elma juga mencintainya!

__ADS_1


__ADS_2