
Sesuai dengan apa yang sudah Edo katakan sebelumnya, pagi ini mereka pergi ke rumah sakit dengan tujuan Edo bekerja seperti biasa, sedang Elma menjenguk sang mami.
Elma tampak antusias dan terlihat sangat senang. Mungkin karena dia ingin bertemu dengan sang mami dia terlihat begitu bahagia, tetapi bukan hanya itu faktor yang menyebabkan dia terlihat bahagia. Dia bahagia karena ternyata Edo memperlakukan nya dengan sangat manis.
Edo tidak seperti yang dia kira sebelumnya, saat pertama Edo menawarkan tentang kerja sama yang menjadikannya sebagai seorang pemuas, Elma benar-benar men-judge Edo sebagai laki-laki be-jad tak ada beda dengan John.
Terlebih Edo yang seringkali menggoda nya dengan ancaman pencabutan kontrak membuat nya semakin berpikir buruk tentang Edo.
Tetapi semua pikiran buruk tentang Edo hilang begitu saja setelah laki-laki itu tidak memaksanya melakukan hubungan sebelum Elma benar-benar siap. Jelas saja Elma dibuat terbawa perasaan akan sikap Edo yang begitu baik menurut nya. Meski terkadang jahil, tetapi justru kejahilan nya itu membuat Elma tidak canggung lagi pada Edo.
"Sudah siap?" Edo berjalan mendekati Elma yang sedang mematut dirinya di depan cermin dengan ekspresi sedikit tak nyaman.
"Kenapa semua bajunya ketat sekali? Ini bukan ukuran ku," Elma mengerucutkan bibirnya sembari membolak-balikkan tubuh yang terasa sangat sesak di depan cermin, bahkan untuk bernafas pun rasanya sangat susah.
Melihat ekspresi Elma bukan nya marah, Edo justru terlihat tertawa melihat bibir manyun Elma.
"Bukan ketat, sayang. Tapi kamu saja yang selalu menggunakan baju kebesaran." Ralat Edo. Karena memang seperti itulah kenyataannya, selama ini Elma selalu menggunakan baju kedodoran hingga tubuh sek-si nya tak terlihat bahkan justru semakin terlihat gendut karena kedua da-da dan juga bokong nya yang berukuran besar. Orang-orang mengira karena tubuh Elma gendut, mereka tak bisa melihat kemolekan tubuh Elma karena terbalut kain kebesaran, tetapi tidak dengan Edo. Laki-laki itu sudah mengetahui sejak awal akan kecantikan juga kemolekan tubuh Elma yang masih tersembunyi di balik baju kumuh nya.
"Tapi menurut ku ini sangat ketat, bahkan hampir tak bisa bernafas dan rasanya dada ku begitu sesak. Bahkan untuk mengambil nafas pun sulit sekali." Adu nya dengan suara bersungut-sungut. Dan hal itu semakin membuat Edo tertawa lebar.
"Hahaha ... Kau ini aneh sekali. Mana ada pakai baju sampai tidak bisa bernafas?"
"Ada! buktinya aku." Elma tak terima dengan sanggahan Edo.
"Aku tidak percaya." Sahut Edo tak mau kalah.
"Issh ... ya sudah kalau kau tidak percaya. Tapi,-" Lagi-lagi Elma menggerutu sembari mengerucutkan bibir. Hal ini benar-benar menjadi godaan tersendiri bagi Edo karena menjadikannya bergairah dan ingin sekali menyesaap bibir itu lalu melum-at nya dengan penuh kelembutan.
"Siapapun tidak akan percaya kalau kau sesak nafas karena gaun yang kau gunakan." Edo berkata yang sebenarnya, karena baju yang dikenakan Elma tidak lah membuat orang yang memakainya sesak nafas.
__ADS_1
"Mana bisa begitu?"
Elma benar-benar tak terima dengan perkataan Edo yang terus menyangkal nya.
"Kau ini sebenarnya pura-pura tidak tahu atau benar-benar bodoh? Lihat lah bagian dada mu itu terbuka lebar dan pegang lah tipe kain gaun mu. Mana ada pakai baju dengan dada terbuka lebar seperti itu mengatakan dada nya sesak?" Edo mengingatkan Elma karena baju yang dikenakan saat ini bagian da-da nya sangat terbuka. Bahkan dua bongkahan itu hanoir terlihat semuanya. "dan mana ada menggunakan gaun berbahan kain elastis membuat mu tidak bisa bernafas? Lain kali kalau ingin mencari alasan itu harus yang logis."
Elma menelan saliva nya susah payah. Ternyata Edo mengetahui kebohongan nya. Ya, sesak nafas yang dikatakan Elma hanya lah akal-akalan nya belaka. Dia sangat tidak nyaman dengan gaun yang Edo sediakan, semuanya berukuran minim dan sangat terbuka. Itu lah sebabnya Elma mengatakan hal itu, dengan harapan agar Edo mau mengganti dengan baju-baju lama nya saja meski harus mengambil di rumah kumuh nya.
Tetapi hal itu ternyata tidak berhasil, karena Edo si manusia licik itu ternyata sangat pintar.
"Haisshh ... dasar manusia langka! wajah nya benar-benar seperti badak bercula satu!" Gerutu Elma dalam hati. Dia mengumpati Edo dengan kata-kata menggelikan.
"Jangan mengumpat, karena itu tidak akan membuat mu mendapatkan apa yang kau inginkan." Edo berkata santai.
Sedangkan Elma jelas membelalakkan matanya karena terkejut Edo mengetahui umpatannya.
"Apakah dia memiliki telepati?" Gumam nya lagi.
Dia tak ingin Edo mengetahui lagi semua umpatan-umpatan Elma.
"Dasar badak bercula satu! Manusia langka! Si manusia licik yang sukanya mengancam orang lemah! Dokter cabul! Dasar pedofil!"
Elma yang belum percaya sepenuhnya kalau Edo memiliki ilmu batin, dia mencoba sekali lagi. Ya, sekali lagi! Jika sekali lagi dia mengumpat dan Edo mengetahui, maka fiks ... Edo seorang telepati.
"Astaga ... Elma! Sudah ku bilang jangan mengumpat! Aku bukan semua yang kau ucapkan tadi!" Edo berteriak karena kesal melihat mulut Elma yang terus komat-kamit bahkan dengan posisi kepala menunduk sekalipun.
Elma jelas membelalakkan matanya lebar-lebar sembari mengangkat wajah nya menatap tak percaya pada Edo.
"K-kau benar-benar seorang telepati?" Elma berkata dengan mulut terbuka lebar, menatap tak percaya orang didepannya.
__ADS_1
Edo yang tadinya bingung dengan ekspresi wajah Elma yang tiba-tiba berubah, kini dia tahu alasannya. Seringai licik terbit di bibir Edo, dia akan memanfaatkan situasi ini.
"Tentu saja!" Edo masih bersikap tenang.
"J-jadi kau tahu aku mengatai mu badak bercula satu, manusia langka, dokter cabul dan ... pedofil?"
"Ya, tentu saja aku tahu semua yang kau ucapkan dalam hati mu."
Dan aku sangat tidak terima saat kau mengatai ku pedofil!" Edo menatap tak suka Elma. "pertama-tama aku ini belum tua! Umurku masih 27 tahun dan kau ...," Edo menunjuk ke arah Elma." kau sudah berusia 18 tahun, mana bisa aku disebut pedofil sedang kita sudah sama-sama dewasa?" Edo benar-benar terlihat marah saat mengatakan nya. Membuat Elma semakin dibuat takut dengan ekspresi Edo.
"Dan yang kedua ...," Edo menatap tajam Elma dengan tubuh yang semakin mendekat. "Aku bukan lah dokter cabul!"
Edo menarik tubuh Elma yang sudah ada di depan nya hingga menabrak dada bidangnya.
...💙💙💙...
...TBC...
LIKE
KOMENTAR
BINTANG LIMA
HADIAH
VOTE
FOLLOW AKUNKU
__ADS_1
THANKS 😍😍