
"Tidak perlu hadiah berupa barang, sayang. Aku hanya ingin saat aku pulang kau menyambut dengan pakaian yang ku kirim." Jawab Edo. Satu jari nya memberi isyarat pada sang asisten untuk keluar karena lupa jika sejak tadi asisten pribadi nya itu masih berada di ruangan dan mendengar semua percakapan antara dirinya dengan sang istri.
"Tapi aku belum mendapatkan kiriman apapun." Keluh nya. Edo bisa menebak jika saat ini wajah istri nya itu pasti sedang cemberut.
"Sabar, sayang. Kurir nya baru saja on the way." Edo bahkan terkekeh mengatakan nya. Dia tahu istri nya sudah tidak sabar dengan pakaian yang dikirim suami nya.
"Oke, aku tunggu, sayang. Bye ..."
Suara Elma sudah kembali ceria, dari suara nya bahkan terdengar sangat antusias.
"Oke, sayang. Bye ..."
Meski sudah saling mengucapkan tanda mengakhiri panggilan, tetapi telpon itu masih hidup dan sama-sama tidak ada yang ingin memutuskan panggilan lebih dulu.
"Matiin, sayang." Ternyata Elma meminta Edo lebih dulu mematikan telepon.
"No, kamu yang matiin." Kekeh Edo. Padahal jika biasanya dia mendapat telpon dari orang lain justru Edo lah yang lebih dulu mematikan telepon secara sepihak. Tetapi jika bersama istri nya, dia sendiri bahkan tidak ingin menjadi yang lebih dulu mematikan telepon. Hah, masalah mematikan telepon saja menjadi serumit ini. Dasar bucin!
__ADS_1
"Tapi ..."
"Kamu yang matiin atau ku cansel pengiriman hadiah nya?"
"Iya, aku matiin. Bye ... I love you."
Tutt.
Setelah mengatakan kata-kata keramat itu Elma langsung mematikan telepon dengan cepat. Dia tak ingin Edo meminta kata-kata di ulang seperti biasa. Sedangkan Edo masih mematung di tempat dengan tangan nya masih memegang telepon di dekat telinga. Perlahan sudut bibir nya terangkat ke atas menampilkan senyum sumringah.
Meski pikiran Edo sudah tak konsentrasi bekerja karena saat ini yang di pikiran nya hanya lah Elma seorang, tapi dia berusaha untuk fokus agar bisa kembali melanjutkan pekerjaan nya lalu pulang cepat agar bisa segera bertemu sang istri.
Setelah berkutat sekitar satu jam lama nya, akhirnya beberapa pekerjaan Edo selesai. Dia meregangkan otot-otot nya sembari bernafas lega karena sebentar lagi dia akan segera pulang dan memberikan kejutan pada sang istri pulang lebih awal.
Tok ... tok ... tok ...,
"Masuk." Baru saja Edo akan beranjak dari tempat duduk, pintu ruangan lebih dulu di ketuk oleh seseorang.
__ADS_1
"Permisi, Tuan. Ini semua berkas-berkas yang harus Anda tanda tangani hari ini." Seorang wanita seumuran dirinya bersama Jessica datang membawa setumpuk berkas. Dia adalah sekertaris Edo yang sudah bekerja selama satu tahun semenjak membangun bisnis di sini.
"Harus hari ini?"
"Ya, Tuan." Jawab nya tegas namun tetap sopan.
"Ah, berikan saja pada Leo. Suruh dia yang menandatangani nya, aku ada urusan penting hari ini." Jawab Edo tanpa dosa seraya bangkit dari tempat duduk setelah merapikan jas nya.
"Tapi, Tuan. Tan-"
"Dia bisa menduplikat sama persis tanda tangan ku." Edo memotong perkataan sekertaris nya karena tahu apa yang akan dia katakan.
Mendengar hal itu sang sekretaris tersenyum kikuk karena ternyata tuan nya mengetahui apa yang akan dia katakan. "Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi."
"Hm ..."
Setelah sekertaris nya keluar, Edo pun ikut melangkahkan kaki. Tak lupa dia membawa kunci mobil serta ponsel nya. Sedangkan tas kerja nya dia tinggalkan di sini, karena hari ini sampai nanti malam akan dia habiskan sepenuh waktu nya untuk sang istri.
__ADS_1